
Hari masih menunjukkan pukul 06.00. Fika telah siap mengenakan pakaian hitam dan putih. Ia merias wajahnya dengan riasan tipis. Lipstik warna nude menempel di bibir tipisnya.
"Lo jadi interview kerja hari ini, Fik?"
Tanya Nadia yang masih mengenakan mukena, bersiap untuk melaksanakan sholat Dhuha.
Fika menjawab dengan anggukan, sambil merapikan riasan di bagian bibir.
"perusahaan apa ?" lanjut Nadia.
"Restoran, jadi waithres!"
imbuh Fika.
"Hah...Lo kan pengalaman marketing. Emang gak bisa dapat pekerjaan yang lebih baik gitu?"
Nadia keheranan. Sebab sebelumnya Fika telah sampai di level supervisor marketing di Latifaa Bakery.
Fika menghentikan sejenak aktivitas make up-nya. Menghela nafas.
"Susah Nad. Gue kan cuma lulusan paket C!"
Jawab Fika merutuki nasibnya.
"hemmm... Gue berharap Lo bisa dapetin pekerjaan yang lebih baik, Fik. Tapi, untuk saat ini gak apa deh Lo ambil job waithres ini!"
Ucap Nadia yang masih berstatus karyawan Latifaa Bakery juga.
Fika mengangguk. Dalam hatinya, ia juga berharap sama. Ia ingin melanjutkan kuliah, mengambil kelas karyawan. Sehingga kelak, ia pantas mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan potensinya.
Fika berjalan menyusuri lorong kos, tempat dimana ia tinggal saat ini bersama sahabatnya. Sebuah sepatu hils ia kenakan. Kali ini ia tidak menggunakan jasa ojek online. Demi menghemat keuangan, Fika harus mengenakan Commuter Line. Kebetulan kos tempat dia tinggal dekat stasiun kereta api.
Setelah men-tap tiket. Fika berdiri menunggu kedatangan kereta commuter. Ia melihat ada jutaan manusia berkumpul disana, perjuangan mereka tentu sama, hanya cara yang berbeda, jalan yang tak sama. Diseberang rel, nampak seorang disabilitas yang juga sedang menunggu kedatangan kereta. Fika bergumam, bersyukur bahwa Allah masih memberinya tubuh yang lengkap dan sehat. Sehingga ia masih bisa mandiri.
Sudut mata Fika mulai menitikkan air mata ketika melihat sosok bapak-bapak yang mengenakan tongkat berdiri disebelahnya. Ia sangat mengkhawatirkan ayahnya. Keadaannya, merindukan ayah yang selalu membutuhkan Fika. Biasanya setiap pagi sebelum berangkat bekerja, Fika akan akan membuatkan secangkir susu hangat untuk ayahnya. Membuatkan roti sandwich dengan isian telur mata sapi. Menyuapi dan memandikan ayahnya terlebih dahulu. Tak ada suster yang membantu. Fika melakukan dengan tangannya sendiri.
__ADS_1
Kini, ia bahkan tidak tau kabar ayahnya. "Mungkin saja ayah sudah bahagia bersama putra kandungnya, dan juga Bu Rania" Gumam Fika.
Commuter tiba. Rania memperhatikan bapak tua yang berdiri disebelahnya. Tanpa kata, Fika segera membantu bapak tua ini untuk masuk kedalam commuter yang telah dijejali jutaan manusia. Ia berusaha untuk mendapatkan tempat duduk prioritas disabilitas untuk si bapak yang ia tolong. Setelah memastikan bapak itu duduk. Fika mencari pegangan untuk berdiri.
Ini kali pertama ia menggunakan commuter. Sejak berhenti sekolah dan memutuskan untuk bekerja, jalan hidupnya amat mulus, karena di koran saat itu terpampang lowongan pekerjaan sebagai OB di Latifaa Bakery dan perjalanan bisa ia tempuh dengan menaiki angkot beberapa menit saja.
###
"Kamu pernah bekerja di Latifaa Bakery sebagai supervisor?"
Tanya seorang HRD di perusahaan makanan siap saji tersebut.
"Iya pak " Jawab Fika sambil mengangguk.
"Mengapa bisa lulusan SMA paket C menjadi supervisor marketing, bisa anda jelaskan?!"
Fika mengangguk. Kemudian mulai mempromosikan dirinya.
"Saya memiliki keahlian dalam publik speaking dan bahasa Inggris. Ini modal saya untuk mempromosikan kebaikan jabatan setelah masa probition OB selesai. Kebetulan perusahaan saat itu membutuhkan admin sosial media. Setelah lulus tes sebagai admin sosial media, maka saya berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi perusahaan. Saya bekerja sesuai SOP dan juga berkreasi sesuai kebutuhan perusahaan. Sehingga, tidak butuh waktu lama bagi saya untuk naik ke level supervisor!"
Jawab Fika dengan mantap. Posisi duduk Fika terlihat sangat elegan. HRD beberapa kali me-review lamarannya. Membolak balik kertas ditangannya.
Fika mempersiapkan diri. Besok adalah hari pertama baginya untuk bekerja di restoran siap saji berskala internasional itu. Gaji yang diberikan cukup lumayan, standar UMR.
Fika menyambangi ibunya. Membawakan beberapa potong roti keju kesukaan ibunya. Pina terlihat sangat lahap memakan roti itu. Fika merasa lega masih bisa memberikan kebahagiaan untuk ibunya, meski hanya lewat sepotong roti.
"Bu, terimakasih ya do'anya. Besok Fika sudah mulai bekerja". Ucap Fika sambil menggenggam tangan ibunya. Pina tak menggubris. Ia hanya fokus pada potongan roti yang lezat itu.
"Ibu cepat sembuh ya Bu. Fika rindu senyuman ibu..."
Pina tiba-tiba terdiam sejenak. Kemudian menatap Fika. Dalam... seperti ada sebuah harapan disana.
"Bu...." Fika berharap ibunya memahami apa yang tengah ia sampaikan. Dokter ahli kejiwaan menyarankan Fika untuk mengajaknya terus berkomunikasi dan menempatkan ibunya layaknya manusia normal.
Pina menatap dalam mata Fika. kemudian mulai merengek menangis.
__ADS_1
"Bu...ibu kenapa?"
Tanya Fika lembur sambil memeluk ibunya.
"Dani... Dani....!" Pina mulai menyebut nama Dani. Fika sadar, sepertinya sang ibu sedang merindukan suaminya.
"Ayah sedang berobat bersama Azka. Biar ayah sehat dulu ya Bu. Nanti ayah akan datang menjenguk ibu".
Pina kembali tidak merespon.
Fika pulang dengan perasaan sesak. Ia sangat mengharapkan kehidupan kembali normal. Berharap ia akan memiliki keluarga yang utuh dan bahagia. Seperti layaknya manusia pada umumnya.
###
Ini hari pertama Fika bekerja. Fika memiliki tinggi 165 cm dan berkulit sawo matang. Ia memiliki cara tersendiri dalam berinteraksi dengan pelanggannya. Sangat humble dan mampu melayani pembeli dari berbagai mancanegara dengan menggunakan baha Inggris yang fasih. Maklum saja, lokasi restoran tempat ia bekerja diapit gedung-gedung milik kedutaan besar beberapa negara. Sehingga banyak pekerja asing yang singgah untuk makan di restoran tempat ia bekerja.
"Fika, antar ini ke meja nomer 15 ya!" ucap seorang waithres lain.
"oke!". Fika mendorong sebuah troli berisi aneka makanan yang telah dipesan. Troli didorong menuju meja nomer 15.
Pandangan tiba-tiba memudar, saat ia dapati ada Azka disana. Duduk bersama teman-temannya, lebih tepatnya rekan bisnisnya.
Ingin rasanya Fika berlari menghindar. Tapi ia sudah berada dekat dengan meja tujuan. Ia juga ingat bahwa ini adalah hari pertama ia bekerja.
"permisi..." Fika berusaha tetap bekerja secara profesional. Ia menghidangkan makanan yang di pesan. Mencoba mengelola emosi yang bergejolak di dada.
Beberapa teman Azka memuji kecantikan Fika. Sedikit meledek.
"Mba, ada yang kurang ini..." Ucap seorang dari teman Azka.
"Ya...apa yang kurang kak?" Tanya Fika masih dengan gejolak di dadanya. Tangannya sedikit gemetar.
"kurang nomer hp mbak!" Ledek pria itu dan disambut gelak tawa lainnya, kecuali Azka. Maklum, mereka masih muda. Sehingga sangat suka untuk becanda.
Fika tak merespon ia sadar, bahwa Azka menatapnya dengan sorot mata tajam. Fika berusaha tetap diam. Azka beranjak bangun, menarik lengan Fika sambil dan berjalan cepat. Seisi restoran menatap tingkah Azka dan Fika yang bergandeng tangan sambil setengah berlari. "mau apa Azka ...,?!"
__ADS_1
"ka...Ka...a...aku ....!" Fika berusaha melepaskan lengannya. Namun, Azka tak memberinya kesempatan untuk berhenti.
Bersambung ...