100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
end of story about Melati


__ADS_3

POV : Melati


Perceraian itu berjalan dengan mulus. Tanpa ada perdebatan. Kurang dari dua bulan saja, hakim telah mengetuk palu, dan aku menerima akta cerai dengan harta Gono gini yang tidak sedikit jumlahnya.


Uang sebesar Rp.500.000.000,00. Nominal yang cukup besar untukku yang tak pernah benar-benar menghasilkan uang sendiri. Pekerjaanku selama menjadi istri Ustad Malik hanyalah volunteer untuk madrasahnya.


Uang sebesar itu ku gunakan yg untuk mendaftarkan diri mengikuti kuliah master di negara Turki. Ya, aku tak pikir panjang saat itu. Hanya ingin pergi menjauhi luka. Luka dengan stigma wanita yang tidak sempurna, menyalahi kodrat. Tanpa mau tau bagaimana aku berusaha belajar menjadi seorang istri, saat imajinasi ku mengejar cita-cita. Apa sulitnya menikmati proses, hingga nanti menjadi madrasah terbaik untuk anak-anak dari rahimku di masa yang akan datang.


#Dua Tahun berlalu...


Indonesia terlalu kejam untukku. Stigma bahwa akulah penyebab perceraian itu tak bisa ku tutup di masyarakat. Turki adalah negara tempat yang ku pilih untuk melanjutkan langkahku, kodrat sebagai manusia yang ingin bahagia, sekaligus tempat untuk pelarian dari semua masalah yang ku alami semenjak menikah.

__ADS_1


Tidak bisa ku bayangkan, di usia yang masih sangat belia, aku harus menghadapi pernikahan, tuntutan hamil, tuntutan sebagai istri. Aku tak diberi kesempatan untuk memahami arti sebuah cinta, hubungan, komitmen dan rumah tangga yang abadi. Hidup bagai wayang, dan orang dewasa adalah dalang dari cerita tragis ku ini.


Dua tahun berlalu. Gelar master di Bahcesehir University telah ku raih, saatnya aku untuk kembali, meski lukaku belum benar-benar pulih. Tak banyak cerita tentang Indonesia yang ku tau, meski aku sangat aktif menjadi influencer pendidikan di media sosial. Tapi, aku menjauhi pusat luka. Aku tau betul, mantan suamiku dan keluarganya tak memiliki akun sosial media. Sehingga sempurna lah niatku untuk pamit dari cerita masa lalu. Pernah suatu kali seseorang mengirimkan DM dan menanyakan jati diriku sebagai Melati mantan istri Ustad Malik. Namun, tak pernah ku tanggapi.


Aku hanya berkomunikasi dengan Rania, seorang sahabat LBH yang mendampingiku saat masa-masa genting perceraian yang hampir merenggut seluruh kesempatan bahagia ku. Rania satu-satunya orang yang tak menangis saat ku ceritakan peliknya hidupku. Itu yang membuatku nyaman saat curhat dengannya. Sebab, curhat dengan umi dan kakak kandungku, hanya membuat aku semakin menderita, sebab semua kakakku dalam biduk rumah tangga yang bahagia.


Aku merasa terasing saat itu. Hingga ide untuk bangkit muncul. Rania yang ku kenal sebagai sosok yang gila akan ide-idenya. Ketika dia tau bahwa aku mendapatkan Gono gini, maka hanya 1 kalimat yang ia ucapkan. "kamu bisa melakukan sesuatu yang membahagiakan dengan uang yang kamu miliki sekarang. Nikmati hidupmu, kejar bahagiamu, keliling dunia jika perlu!". Aku bahkan seperti tanpa sadar melewati fase 100 hari yang pelik itu. disibukkan dengan belajar bahasa, mengurusi bisa dan belajar budaya. Seru dan seketika aku seperti lupa dengan pahitnya hari kemarin.


"Takdirmu tak bisa kau ubah, tapi masa depanmu masih bisa kau rencanakan dengan indah...!"


****

__ADS_1


Pesawat yang ku tumpangi telah mendarat dengan sempurna di Bandara Internasional Juanda, Surabaya. Sepasang mata menyambut ku dengan penuh haru. Dialah umi. Orang yang selalu mengkhawatirkan anak bungsunya yang pecicilan ini. Pelukan dan tangisan seperti membabi buta. Umi, diiringi kakak tertuaku. Aku melepaskan pelukan dan menghambur pada sosok yang ada diatas kursi roda. Dialah ayahku. Orang yang paling merasa bersalah akan nasib ku. Hingga bertahun lamanya ia sakit dan selalu mengiba maaf dariku. Meski aku merasa, ini sudah menjadi garis takdir yang tak bisa ku hapus lagi.


Hari-hari pertama kembali ke kampung halaman. Aku disibukkan dengan proses cetak buku "kamu berhak bahagia (perceraian di usia belia)". Aku dibantu Rania dan rekan-rekan LBH lainnya. Buku ini akan menginspirasi banyak anak muda yang menginginkan menikah diusia terlalu belia atau bahkan bagi mereka yang menjadi korban yang sama.


***


Hari peluncuran buku tiba. Aku memiliki sponsor yang menjadi partner untuk promosi buku perdanaku ini, sehingga aku tak perlu lelah untuk mengurusi event launching buku ini. Tak ku sangka, begitu banyak yang antusias untuk mendapatkan buku cetakan pertama yang berjumlah 1000 eksemplar. Buku itu habis dalam waktu tujuh hari setelah pre-order!


Butuh waktu banyak untuk menyiapkan mental berbicara didepan publik, menceritakan kisa yang telah coba ku lupakan dua tahun silam. Namun, sahabat LBH, LSM dan beberapa sahabat yang dekat denganku selalu meyakinkanku.


Jika cerita ini ku simpan sendiri. Entah berapa banyak perempuan yang menderita dihasut takdirnya. Biarlah sakit mu menjadi pelajaran bagi mereka yang belum merasakan pernikahan, dan menjadi inspirasi bagi mereka yang terlanjur menjadi korban perceraian di usia muda.

__ADS_1


Dititik ini, kisah ku usai. Semoga menginspirasi ❤️


__ADS_2