
Tiga bulan pasca pengajuan perceraian, pengadilan belum juga bisa memutuskan perceraian Merry. Ada defense dari pihak suami Merry, dan enggan membagi harta Gono gini mereka. Namun, Bu Martha meyakinkan bahwa Merry akan mendapatkan sebagian besar harta bersama, kerena bukti perselingkuhan Suaminya sudah sangat lengkap.
Disisi lain, Merry semakin pulih dari traumanya. Ia tidak pernah absen dari sidang pengadilan. Ia begitu bersemangat untuk mengakhiri rumah tangganya.
***
Sesi konseling 1
Merry datang sendiri ke LBH Sehati. Rania telah menanti Merry disana. Perempuan berambut lurus sebahu itu mengenakan pakaian dress berwarna hijau pupus. Ia tak mengenakan riasan. Namun aura mantan dokter muda ini sangat terlihat. Ia jauh lebih terlihat segar dari pada saat pertama kali Rania melihatnya.
"Maaf terlambat. Saya menjaga Sesil semalaman, dan menunggu ibu saya untuk bergantian menjaganya".
Ucap perempuan yang memiliki tahi lalat di hidung ini.
Sesil adalah anak angkat Merry. Merry sangat menyayangi Sesil. Ia adalah ibu yang telaten, meskipun Sesil hanya anak angkatnya. Namun, semua berubah saat suaminya berselingkuh. Jangankan untuk merawat Sesil, bahkan Merry tak bisa dikatakan mampu merawat dirinya sendiri.
Rania meminta Merry untuk duduk di sebuah sofa hitam di ruang konseling. Rania tidak sendiri, ia ditemani oleh seorang psikolog profesional.
Merry menghela nafas panjang saat diminta untuk bercerita mengenai perasaannya saat ini. Ia meminta untuk mengungkapkan apa yang telah dialaminya. Selama ini ia selalu berusaha menutupi, karena tak ingin ibunya bersedih. Namun, ia sadar, bahwa menyimpannya sendiri adalah seperti menyimpan racun. Lama kelamaan ia bisa mati karenanya.
"Awal mula kisahku adalah ketika kami sama-sama berpacaran semenjak duduk di bangku SMA. Aku dan mas Arman, suamiku, sama-sama saling mencintai. Setelah lulus. Aku diterima di fakultas kedokteran di sebuah universitas ternama di kota ini. Sedangkan mas Arman, kuliah di fakultas teknik di universitas swasta".
Cerita terhenti. Merry menghela nafas.
Matanya mulai dipenuhi buliran air. Namun ia tetap berusaha melanjutkan kisahnya.
"Karena berbeda kampus. Arman menjadi lebih posesif dan penuntut. Bahkan dia menuntut untuk dilayani nafsunya. Awalnya aku menolak keinginan Arman. Namun, suatu siang, Arman menelpon ku dan mengeluh sakit. Ia mengatakan tidak bisa keluar kamar kos dan belum makan sejak pagi. Dia memintaku untuk datang. Aku yang tidak enak hati sebagai kekasih, akhirnya menurut saja untuk datang ke kosannya dan membawa makanan untuknya. Padahal sebelumnya, aku tak pernah mau bertemu Arman di kos. Namun entahlah, hari itu mengapa aku luluh padanya".
Merry kembali diam. Mencoba mengingat kenangan pahit yang berusaha ia lupakan. Namun ternyata menjadi kenangan yang menghantuinya.
"aku datang sendirian. Itu salahku. Arman mencumbu aku. Berani memaksaku untuk berhubungan badan. Aku yang menolak merasa takut dengan ancamannya. Akhirnya aku melayani Arman. Ternyata, itu bukan yang pertama dan terakhir. Pada hari-hari berikutnya, Arma selalu minta dilayani. Awal mula di kos-kosan, kemudian ia lanjutkan di hotel. Aku yang taku hamil, dipaksa minum pil KB yang di jual di apotik bebas. Terpaksa minum, dan tanpa sadar, aku telah meminumnya selama dua tahun, sebelum akhirnya kami menikah".
Air mata Merry akhirnya tak terbendung.
"Ketika menikah, Arman adalah sosok laki-laki yang menurutnya setia dan romantis. Ia juga bertanggungjawab, memenuhi janjinya untuk menikahi ku. Setahun, dua tahun, dan akhirnya lima tahun, aku tak kunjung menunjukkan tanda kehamilan. Aku pun berkonsultasi dengan dokter obgyn. Pemeriksaan dilakukan berulang-ulang. Hasilnya ada gumpalan yang menjadi daging di rahimku. Aku pun menjalani operasi pengangkatan. Setelah semua penanganan medis. Aku tetap belum bisa mendapatkan keturunan. Padahal sudah dua tahun lamanya. Untuk menghindari kesedihan karena penantian anak yang begitu lama, kami memutuskan untuk mengangkat Sesil sebagai anak. Awalnya mas Arman sepakat. Namun, belakangan ia berubah. Bahkan ia terang-terangan mengatakan akan menikahi Ros, sekretaris pribadinya di kantor. Ros bahkan dengan cepat menguasai Arman dan semua harta miliknya. Awalnya aku melakukan perlawanan. Tapi, aku hanya manusia biasa, aku tak punya teman bercerita. Semenjak program kehamilan, aku memutuskan untuk resign dari pekerjaanku dan fokus pada keluarga, sayang, aku salah. Aku jadi kehilangan teman-teman dan kehilangan kehidupan sosialku. Aku mulai membenci Sesil. Aku membenci siapa saja yang datang, karena mereka datang bukan untuk mendukungku. Melainkan untuk memojokkan ku, menyalahkan perselingkuhan Arman, seolah-olah itu salahku yang tak mampu memberikannya keturunan. Aku menyesal, mengapa aku mengkonsumsi pil KB itu. Padahal aku pernah mengalami haid yang terlambat. Arman kemudian memaksaku nge-gym, mengangkat beban diluar kapasitas kemampuan seorang perempuan. Aku akhirnya seperti orang keguguran. Namun, tak pernah memeriksakannya. Andai aku tau akan seperti ini, lebih baik, ku biarkan saja kehamilanku saat itu!"
Merry pun menangis tersedu-sedu. Kalimat terakhirnya itu jelas menunjukkan bahwa ia juga menyalahkan dirinya sendiri, tindakannya dimasa lalu dan kelemahannya untuk menolak permintaan-permintaan Arman. Padahal, jika memang Arman adalah laki-laki setia. Tentu apapun kondisi dan keadaan Merry, Arman tak akan menyakitinya.
Jelas bahwa selama 10 tahun pernikahan, dan 7 tahun berpacaran, Merry telah mengalami tindakan kekerasan psikologis, yang membuat mentalnya rapuh. Seharusnya sebagai seorang dokter, ia harus mampu mandiri dan mengambil sikap. Toh, tanpa seorang Arman, hidup Merry pasti bahagia.
Secara finansial ia pernah menjadi kepala klinik kecantikan dan menjadi dokter utama di sebuah rumah sakit. Bahkan Merry pernah mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi di negara Korea untuk spesialis kecantikan. Sayangnya ia kurang beruntung karena memilih mengejar cintanya Arman.
***
Rania memberinya motivasi agar Merry bisa mengendalikan dirinya. Rania membantu Merry untuk kembali berkarir, meskipun tidak menjadi seorang dokter lagi. Merry membuka sebuah usaha dibidang baby food. Pengalamannya menjadi seorang dokter membuatnya tau takaran gizi yang tepat untuk tumbuh kembang bayi. Dengan usahanya ini, membuat Merry sibuk dan perlahan healing terhadap masalah yang dihadapinya.
Karena berwirausaha dibidang baby food, Maka semua klien Merry adalah ibu-ibu yang memiliki anak dibawah usai tiga tahun, membuat Merry sering bercengkrama dengan bayi-bayi lucu. Mengobati kerinduannya untuk menjadi seorang ibu. Rania selalu memotivasi bahwa ia akan segera hamil jika nanti menikah lagi. Merry sangat mempercayai Rania, karena kisah hidup mereka hampir sama. Sama-sama korban perceraian.
Saat ini Merry juga masih mengasuh anak angkatnya yang bernama Sesil. Sesil yang pernah mengalami kekurangan gizi akibat kondisi Merry yang tidak mampu merawat Sesil, kini perlahan pulih.
Sesi konseling berakhir. Merry merasa lega karena memiliki tempat curhat. Ada sisi hatinya yang lega dan kosong setelah bercerita. Sehingga ia merasa lebih ringan.
***
Rania dan Merry menjadi sepasang sahabat. Merry masih sangat bergantung pada Rania, karena kondisi psikologis nya yang masih suka berubah. Apalagi, mantan suami Merry saat ini sering menghubungi. Bukan untuk meminta maaf apalagi rujuk. Melainkan agar Merry mencabut tuntutan atas pembagian gono gini yang menurut Arman sangat merugikannya. Namun, Merry tetap bersikukuh dengan prinsipnya.
Selama pernikahan, sebenarnya Merry lebih banyak menghasilkan uang. Bahkan Arman bisa bekerja di perusahaan kontraktor saat ini pun atas rekomendasi darinya. Pemilik perusahaan adalah rekan perusahaan ayah Merry.
__ADS_1
####TEROR MANTAN SUAMI####
Arman yang lama menghilang setelah kejadian, tiba-tiba menghubungi Merry kembali. Mulai memaksanya kembali. Memaksa untuk membuka rekening yang ia blokir. Rekening simpanan Merry, ya g diambil paksa oleh Arman dan digunakan untuk berfoya-foya dengan selingkuhannya. Rekening ini adalah tabungan masa depan mereka berdua. Ada yang Arman dan banyak uang Merry. Ketika datang terakhir kali, Arman mencuri ATM yang berada di dompet Merry. Arman tentu mengetahui password nya. Namun karena rekening tersebut milik Merry, pengacara Merry, Bu Martha, menyarankan Merry untuk memblokir rekening tersebut. Untungnya dari 300 juta, baru separuhnya yang berhasil dipindahkan ke rekening pribadi Arman.
***
Suatu malam. Ada suara bel dari balik pagar rumahnya. Merry berusaha untuk mengabaikannya. Ia memastikan semua pintu telah terkunci. Ia segera menghubungi security komplek yang berjaga, dan mengecek CCTV yang terpasang di beberapa titik rumahnya.
"Arman". Gumam Merry. Laki-laki itu nekat mencari dan mendatangi kediaman baru Merry. Sungguh nekat.
Tak berselang lama security komplek berhasil datang dan mengamankan rumah Merry. Namun Arman memberontak dan bersikukuh untuk bertemu Merry.
Karena membuat kegaduhan. Akhirnya Merry mau untuk menemui Arman. Merry ditemani saudara laki-lakinya bernama Aksara.
"Mau apa kamu kesini?!"
Tanya Aksara yang membuat nyali Arman tiba-tiba menciut.
"Aku harus berbicara pada Merry sekarang!"
Jawab Arman.
"Katakan apa mau mu?"
Tanya Merry dengan gemetar. Ia sangat trauma dengan Arman, namun ia mencoba menghadapinya dengan tenang.
"Aku mohon buka blokiran rekening itu. Aku sangat membutuhkan uang itu, Mer!"
Rengek Arman. Seperti anak kecil mengiba uang jajan dari ibunya.
Jawab Merry mantap.
"Ta...tapi...ini untuk nyawa anakku, Mer, anakku harus di operasi!"
kalimat itu sangat menyayat perasaan Merry. Dengan terbuka Arman mengatakan bahwa ia telah memiliki anak. Tentunya anak dari wanita lain. Dia akan menggunakan uang tabungan mereka berdua untuk membiayai operasi anaknya yang lahir tanpa memiliki anus. Sangat tidak tau diri.
Dengan berlinang air mata, Merry seperti merasa puas. Rupanya laki-laki yang menginjak harga diri karena tak berhasil memiliki anak, kita tengah mengemis padanya. Merry juga baru mengetahui bahwa dua bulan sejak gugatan perceraian diajukan ke Pengadilan Agama, rupanya perusahaan telah mem-PHK Arman. Alasannya tentu, karena perusahaan tempatnya menyombongkan diri adalah milik rekan ayah kandung Merry.
"Tidak ada korelasi derita anakmu, dengan deritaku, mas. Tak ada kaitannya kebingungan mu dengan lara yang aku rasakan saat ini. Kamu bersamanya tanpa pernah aku tau. Kalian main di belakangku. Merampas apa yang aku punya, dan memaksaku untuk kehilangan semua. Kini, pergilah, selesaikan masalah anda sendiri, tuan. Hidupmu saat ini adalah untukmu, dan hidupku saat ini, adalah untuk masa depanku dan Sesil!".
Merry kemudian masuk kembali kedalam kamar. Aksara mendekati Arman, dan sebuah bogem mentah mendarat tepat di hidung Arman. Laki-laki itu berjalan dengan gontai, berjalan kaki. Entah kemana kendaraan miliknya, yang ia rebut dari Merry. Entahlah.
Merry nyaris menjadi rapuh kembali. Kata-kata "anakku" berhasil menyayat perasaan Merry. Pantas saja Arman jarang pulang. Karena perempuan itu dalam kondisi hamil. Hamil anak Arman. Perempuan itu berhasil memberikan Arman buah cinta, meskipun baru bersama beberapa bulan saja. Atau jangan-jangan, mereka telah lama bersama. Hanya saja, Merry tak pernah tau, dan tidak mencari tau.
Merry menangis dalam kesakitan. Luka yang tak berdarah ini akan membekas selamanya.
***
Keesokan harinya, Rania datang menemui Merry dikediamannya. Merry hari itu dalam keadaan sakit. Tubuhnya demam tinggi. Rania memberikannya terapi air putih untuk menurunkan demamnya. Perlahan Rania membujuk Merry untuk bercerita, meskipun Aksara sempat menghubungi Rania malam tadi.
Ya. Saat Rania sedang menidurkan Chantika. Tiba-tiba ponselnya berdering. Rupanya Aksara. Aksara menceritakan kejadian yang baru saja dialami oleh Merry. Kemudian Rania berjanji akan datang keesokan harinya.
"Merry, kamu sudah berjanji padaku untuk bangkit dan bisa menetralkan perasaanmu pada Arman..."
Ucap Rania sambil duduk disamping ranjang Merry.
"Kamu tak pernah merasakan di posisiku, Rania. Aku benar-benar wanita tak berguna. Aku mandul karena kesalahanku sendiri. Tadi malam....tadi malam Rania...Aku menyaksikan Arman begitu panik mencari uang untuk operasi anak mereka. Terlihat begitu besar perjuangannya untuk anaknya itu. Ia tentu begitu bangga memiliki anak dari perempuan itu, Rania!!!"
__ADS_1
Merry mulai meracau...Kemudian berteriak dan membanting vas bunga yang terletak di meja samping ranjangnya. Rania mencoba untuk tetap tenang.
"Aku memang tak pernah merasakan di posisi kamu, Mer. Tapi setidaknya, masalah kita hampir sama. Dicampakkan. Aku pernah merasakan di posisi itu, Mer. Tapi, sampai kapan kamu akan terus menyalahkan dirimu sendiri?"
Mereka terdiam. Rania menggenggam tangan Merry.
"Setiap wanita adalah istimewa. Terlepas ia bisa mengandung ataupun tidak. Bukan itu parameter istimewanya perempuan. Seseorang akan memiliki nilai ketika dia mampu menghargai dirinya sendiri. Kemudian menghargai lingkungannya. Selanjutnya bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain".
Rania mengibarkan senyum penuh semangat pada Merry. Namun Merry masih kaku dan diam.
"Seperti yang ku lakukan saat ini. Aku tetap kalah mendapatkan hati mantan suamiku. Namun, aku berhasil mendapatkan hati yang lebih baik. Karena ada di posisi itu, aku kini berusaha untuk ada di sampingmu Merry. Berusaha untuk menjadi sahabatmu dan memberi motivasi untukmu. Ingat Merry, kandungan mu telah sehat total, menurut dokter. Tidak menutup kemungkinan kamu bisa hamil. Kamu hanya perlu fokus pada step yang tengah kami jalani saat ini. Lewati dan kemudian nikmati healing, agar kamu bisa melangkah ke masa depan yang lebih baik!".
Rania memeluk Merry, dan Merry pun menangis di pelukan Rania.
***
Sejak hari itu, Merry terus berusaha untuk bangkit dari keterpurukannya. Ia memenangkan diri di rumah keluarganya di luar kota, dan hanya datang untuk sesi konseling dan jadwal sidang perceraiannya.
Rania melihat kondisi Merry yang sudah kembali pulih. Pertanda ia mampu untuk melangkah menyambut masa depannya.
Persidangan Merry VS Armand pun terus berlangsung. Meskipun dengan perlawanan, namun akhirnya kalah oleh bukti yang menguatkan. Hampir 90% aset milik bersama jatuh ke tangan Merry, termasuk perusahaan yang dirintis oleh mereka berdua. Ya, mereka sempat merintis sebuah usaha di bidang kontraktor mesin pertanian. Perusahaan tersebut akhirnya dibeli oleh rival mereka, dan hasil penjualan perusahaan 100% jatuh ke tangan Merry.
Persidangan berakhir. Merry mengajak Rania untuk menemaninya mengambil akta cerai.
"Rania, terimakasih atas semua bantuan mu selama ini. Aku tak tau harus berkata apa lagi. Tanpa bantuan mu, tentu aku sudah mengakhiri hidup untuk kedua kalinya saat itu. Seperti kisah kamu dulu, Ran hahaha..."
Mereka pun tertawa bersama.
"Syukurlah, Mer...aku sangat bangga pada kegigihan mu. Kamu mau bangkit dari satu masalah ke masalah lainnya!"
Ucap Rania.
"Siapa dulu mentor nya hahaha..."
Ucap Merry.
" Oh ya Ran. Aku sekalian pamit padamu. Pekan depan, aku akan terbang ke Korea Selatan untuk melanjutkan studi ku di bidang dokter kecantikan. Aku mengambil spesialisasi bedah plastik disana".
Ucap Merry. Menjadi spesialis kecantikan adalah sebuah mimpi lama yang urung Merry lakukan sejak menikah dengan Arman.
"Oh ya...luar biasa. Aku yakin kamu akan menemukan kebahagiaan mu disana. Aku yakin kamu sukses. Meskipun gagal dalam pernikahan".
"Ya. Aku pikir juga begitu, Ran. Hidup kan gak sempurna ya, Ran. Tapi aku akan mengikuti kata-kata mu, bahwa manusia bahagia bukanlah manusia yang bebas dari sebuah ujian. Melainkan mereka yang mampu berjuang melewati ujian itu, dan tetap bersyukur dalam keadaan apapun".
...Ingat sahabat...
...Langit tak selamanya mendung...
...Mentari tak selamanya menjadi terik...
...Hujan tak selalu mendatangkan bencana....
...Ia juga bisa menjadi berkah bagi makhluk di dunia....
...Tetap optimis sahabat. Dunia tak akan berakhir hanya karena kamu kehilangan 1 orang di dunia ini. ...
See you at the next part ❤️
__ADS_1