
...Hello readers...yuks follow Ig @bungakering1986 dan sharing pengalaman rumah tangga atau yg mau sekedar curhat dan berbagi cerita disana. Bisa di DM atau kolom cerita ya ..author akan balas langsung atau saat live nanti dibahas...yuk...yuk merapat!...
Rania menjabat tangan yang basah karena tangisan itu. Rania berlalu begitu saja meninggalkan Bu Yayu yang meratapi anaknya. Rania datang bukan untuk membalas dendam, bukan juga untuk bersilaturahmi. Ia hanya ingin tau tentang keluarga ini, ya keluarga Delita, yang sekonyong-konyong mengijinkan anaknya untuk menikahi duda beranak dua. Tak peduli bagaimana ada yang disakiti. Tak peduli mengapa ia menjadi duda!
Rania sangat sadar, bahwa membalas dendam adalah perbuatan dosa. Namun, ia juga sadar bahwa untuk mengobati luka batinnya adalah dengan cara melihat orang yang menorehkan luka di hatinya itu menderita. Menurutnya, itu manusiawi.
***
Rania kembali ke mobil. Ada Jean yang telah setia menunggunya sedari tadi. Mata Jean terlihat berkaca-kaca melihat Rania. Namun Rania terlihat begitu dingin.
"Apakah kamu sudah merasa puas, Rania?"
Tanya Jean sambil tak menatap Rania.
"Aku puas. Mereka yang menyakitiku perlahan hancur!"
Jawab Rania sambil tersenyum sinis.
"Lalu, Allah jika mereka nanti kembali bahagia, maka kamu akan sakit lagi?"
Rania terhenyak, mengapa Jean mengatakan hal seperti itu?
"Maksudmu Jean?"
Jean tidak menjawab. Ia menyalakan mesin kendaraan dan tancap gas...
Rania merenungi sikap Jean. Sepanjang perjalanan tak ada sepatah katapun yang terucap darinya, membuat Rania semakin tidak mengerti.
***
Disebuah rest area Jean menghentikan kendaraannya. Hari menunjukkan telah petang, adzan magrib berkumandang. Jean masih bersikap dingin, namun mengajak Rania sholat berjamaah. Selesai sholat, Rania merasa perutnya lapar. Tidak seperti biasanya Jean tak mengajaknya untuk beristirahat dan makan sejak siang tadi. Mereka hanya berhenti untuk sholat kemudian lanjut lagi .
"Jean, apakah kita tidak sekedar mengisi perut dulu?. Aku lapar".
Ucap Rania lirih. Jean tak pernah bersikap sedingin ini, membuat Rania serba salah.
Jean kemudian berjalan menuju sebuah resto. Berjalan lebih dulu, mengabaikan Rania yang canggung dengan sikap Jean.
Jean memesan makanannya sendiri. Akhirnya Rania memesan sendiri juga. Aktivitas mereka hanya makan, tanpa bicara sedikitpun. Jean juga terlihat asik dengan gawai nya. Rania sebenarnya ingin bicara pada Jean. Namun, ia melihat situasi yang tidak tepat. Mereka sedang berada di resto dan suasana sore itu sangat ramai. Akhirnya, Rania memutuskan untuk bicara ketika di dalam mobil nanti.
Selesai makan, Jean membayar billing tagihan, masih sama diam, meskipun ia yang membayar semua billing makanan. Kemudian Jean kembali berjalan menuju mobil.
"Jean, katakan apa salahku?"
Ucap Rania berharap mendapat penjelasan dari Jean.
"Salahmu...hemm..." Jean hanya menghela nafas. Kemudian menyalakan mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang.
"Rania, sampai kapan aku bisa mengikuti apa yang kamu mau?"
Rania terhenyak dengan pertanyaan Jean.
"Jean tolong to the point saja. Aku tak biasa basa basi!"
__ADS_1
Jawab Rania. Sebenarnya Rania punya feeling tentang arah pembicaraan Jean. Namun ia berusaha untuk belajar mendengarkannya langsung dari Jean.
Jean kembali diam...
Tak lama, ia memberhentikan kendaraannya disebuah pantai yang dilewati. Jean keluar dari kendaraannya, duduk disebuah batu karang. Rania mengikuti Jean.
"Kau tau Rania. Betapa aku berusaha membahagiakanmu. Melakukan apapun agar kamu bisa bahagia. Mejadi seorang ayah yang utuh, bukan ayah sambung sekedarnya. Hanya untukmu ,Rania".
Jean kemudian terdiam. Matanya tak tertuju pada Rania. Ia lepaskan pandangan ke pantai yang terhampar luar dihadapannya. Ada beberapa nelayan yang tengah menarik jala ke arah laut.
Rania duduk disamping Jean. Dugaannya benar. Ada rasa bersalah yang menyergap memenuhi dada.
"Aku hanya ingin kamu merasakan bahagia bersamaku!"
"Jean aku telah bahagia bersamamu".
Jawab Rania.
"Tidak Rania. Kamu tidak bahagia denganku!"
Jean tersenyum sinis.
"Jika bahagia denganku. Tentu kamu akan dengan mudah melupakan masa lalu mu itu!"
Ucap Jean membuat Rania tersadar ternyata selama ini ia begitu egois.
"Selama ini kamu hanya memikirkan dirimu sendiri. Kamu tak peduli seberapa aku ingin kamu cintai. Tanpa menyentuh masa lalu mu!"
"Jean, aku hanya ingin kamu mengerti betapa aku sakit karena masa laluku. Aku hanya ingin kamu mengerti perasaanku, dan usahaku untuk menyembuhkan Luka perasaan".
Jean kali ini menatap dalam mata Rania. Perasaan kecewa kini tampak jelas di raut wajahnya.
"Tolong mengerti perasaanku, bersabarlah untukku sebentar saja!"
Ucap Rania yang mulai berlinang air mata. Rasa sakit yang Jean lihat mungkin hanya di permukaan saja. Jauh didalam jiwanya, Rania memiliki trauma yang amat sangat.
Melihat karma itu terbayarkan, telah mengobati luka yang ditorehkan. Setidaknya membuat ia yakin bahwa Tuhan maha membalas.
"Baiklah!"
Ucap Jean. Ia kemudian melempar kerikil ke arah pantai, seperti sedang mencoba melepas rasa kesalnya.
Suasana menjadi hening. Hanya deburan ombak yang sesekali memecah suasana bisu diantara keduanya. Jean tak berbicara pada Rania setelah itu. Ia hanya menarik lengan Rania dan kembali ke mobilnya. Perjalanan pun dilanjutkan.
Rania tidak mengetahui seberapa besar perasaan kecewa telah menguasai Jean.
Yang ia lihat hanya sikap Jean yang menjadi dingin.
***
Dirumah, keduanya disambut oleh Azka dan Zidan. Jean bersikap seperti biasanya, hangat dan penyayang pada anak-anak. Tak terlihat bahwa ia sedang merasa kecewa dengan ibu dari anak-anak ini.
Jean masih mengantar Azka dan Zidan mengaji dan sekolah, menemani anak-anak bersepeda dan berenang di kali. Tak ada yang berubah, hanya sikap pada Rania yang berubah. Dingin bahkan sedikit bicara.
__ADS_1
Rania yang sebelumnya sangat fokus pada masa lalunya, kini sadar bahwa ia telah menyia-nyiakan kebahagiaan yang terhampar dihadapannya. Ia sadar bahwa Tuhan telah mengganti sedihnya dengan kebahagiaan baru.
***
Malam pekat bercampur kabut menyelimuti bumi. Bulan tertutup kabut, bintang meredup. Hati Rania merasa sepi. Meski masih satu ranjang, namun Jean tak lagi menyentuh Rania, sepekan lamanya. Ingin rasanya ia merayu Jean, namun masih segan. Bagaimana ia harus menciptakan kembali kehangatan yang telah sirna pada diri Jean.
Jean ku hilang
Jiwanya, bukan raganya
Ternyata aku membutuhkanmu
Bukan hanya ragamu
Bukan karena kamu ada
Namun karena kamu mengisi jiwa
Lihat aku yang mulai belajar menyadari
Keberadaan mu yang tak hanya ada disisi
Namun kau benar-benar menjadi diri
Yang aku mau
yang aku butuh
Ternyata tanpa kamu,
Aku bisa apa?
Aku tak bisa mencipta bahagiaku sendiri
Ternyata kamu jawabnya
Yang mampu mengisi jiwa
Kembalilah lagi seperti dulu
Saat kamu baru mengenalku
Dan bersabarlah untukku
Sebab aku butuh kamu
Butuh cintamu
Sebuah puisi untuk Jean. Rania kemudian menuliskannya dalam secarik kertas. Meletakkannya di sebuah meja yang senagaja ia letakkan di kamar. Meja yang ia hias dengan buket mawar merah dan hidangan berupa steak dan orange juice. Anak-anak sengaja ia tidurkan cepat. Rania sangat berharap surprise ini mampu melunakkan kekakuan hubungannya dengan Jean.
Bersambung...
Hai readers setiaku. ... terimakasih sudah mampir baca, like dan comment nya😊🤗
__ADS_1
maaf selama Ramdhan kurang fokus yg mau crazy up. Krn tugas memasak tambah banyak wkkk...yang penting masih bisa update 1x sehari 😘 see you at the next part ya 😘