100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
POV Cerita anak korban perceraian


__ADS_3

POV Kehidupan Azka "Rania Series"


#Luka Batin


#flashback


18 tahun sudah usiaku. Aku Azka, anak dari seorang ibu yang kuat dalam mengarungi badai kehidupan. Dialah mama Rania.


Aku dibesarkan dengan didikan yang keras. tempaan hidup yang menuntut ku dewasa lebih dini. Semenjak usia sekolah dasar, aku harus menyaksikan mamaku teraniaya oleh suaminya yang tak lain adalah ayahku sendiri. Sosok yang seharusnya menjadi pelindung dan contoh untuk aku, anak laki-laki yang kelak akan menjadi seorang ayah juga!


Aku masih ingat, saat setiap malam aku menyaksikan mama duduk menatap jendela, termenung, sedangkan aku pura-pura terlelap tidur. Dalam remang-remang cahaya lampu kamar, ku lihat ia tengah menangis, bahkan sesekali ku dengar suara sesenggukan. Meski usiaku belum dewasa, aku tau, mama menanti ayah pulang.


Kerap juga ku saksikan pertengkaran ayah dan mamaku, yang akhirnya menyeretnya keluar dari rumah tempat kami bernaung, dan semenjak itu juga, untuk waktu beberapa lama, aku tak melihat sosok mama Rania.


Aku yang tak biasa bangun tanpa suaranya, tak biasa makan selain dari suapan tangannya, dipaksa untuk bisa melakukan semuanya sendiri.


aku ingat betul ketika ayah memaksaku menyiapkan nasi ke mulutku. Sedang aku tengah menunggu mama Rania pulang dan mengambil alih suapan itu dari tangan ayah. Namun, mama tak kunjung datang. Aku hampir mati karena ayah terus memaksaku makan lebih cepat, sedangkan aku enggan makan!


Aku dipaksa dewasa sebelum waktunya. Saat ku lihat adikku, Zidan, menangis sepanjang malam karena ia terbiasa tidur dipelukan mama. Nenek yang tak sabar melihat tangisan Zidan, membentaknya dan membuat Zidan terdiam, lalu ku tau, ia pura-pura tertidur karena takut pada nenek.


Aku masih kecil, tapi hatiku sudah mampu merasakan sakit melihat perlakuan nenek pada Zidan. Dari nenek yang ku panggil uti inilah aku untuk pertama kalinya merasakan dendam. Aku belajar untuk memberontak. Aku belajar menjadi anak yang melawan.


Demi bertemu dengan bunda Rania. Aku yang masih duduk di bangku SD, sudah mampu merencanakan kabur dari rumah. Aku merencanakan step by step agar bisa keluar dari rumah yang terasa seperti penjara saja.


Perlawanan dimulai sejak bunda keluar dari rumah. Aku sering mencoba untuk kabur dari rumah. Memikirkan bagaimana menembus tembok dan gerbang. Mengumpulkan uang jajan untuk aku jadikan bekal menemui mama, meskipun aku belum pernah tau kemana mama pergi!


Aku mulai mengumpulkan uang. Aku bum paham nominal uang saat itu. Hingga, aku memberanikan diri bertanya pada guru ku.


Sebuah kantong kresek hitam aku serahkan pada Bu Melly, wali kelasku.


"apa ini, Azka?"


"ini uang Bu" . Ucapku sedikit ragu .


"Ibu bisa bantu saya untuk menghitung jumlah uangnya?"

__ADS_1


Bu Melly terdiam sejenak. Kemudian tersenyum tipis..


"ini uang siapa?"


"Uang celenganku Bu. Aku mau membelikan kado untuk bunda".


Aku ingat betul bahwa dihari itu adalah kali pertama aku belajar untuk berbohong. Entah mengapa aku memilih untuk berbohong dari pada berkata jujur?!


Bu Melly percaya dan mulai menghitung setiap lembaran uang. Aku juga masih memiliki celengan yang akan segera ku bongkar. Aku rasa uang itu cukup untuk bekal menemui mama.


Aku akan membawa Zidan. Aku ingat betul nasehat mama agar kamu selalu bersama dalam keadaan apapun.


Setelah uang dihitung...


"Lima puluh ribu rupiah" Ucap Bu Melly.


Aku menarik uang yang telah dihitung. Aku nyaris tak menghiraukan pertanyaan Bu Melly yang menanyakan "akan membeli apa...". Aku sibuk dengan pikiran ku sendiri. Memikirkan untuk segera kabur dari rumah.


Mencari mama yang hilang. Rasa sakit teramat dalam untuk seorang anak laki-laki pertama adalah, ketika merasa tidak mampu untuk menjaga ibunya. Aku berusaha mencari mama. Menyusuri kota dengan menenteng bekal seadanya. Hingga akhirnya, aku tertawan oleh Zidan yang tertangkap oleh ayah, karena kecerobohan ku!


Hari ini, tepat usiaku yang ke 18 tahun. Aku baru saja lulus SMA. Aku dibesarkan oleh mama yang berhasil mempertahankan aku untuk tetap hidup bahagia dalam pelukannya. Namun, luka itu belum hilang. Tat kala seorang anak laki-laki tertua dalam keluarga kehilangan sosok ayah kandungnya. Aku tau papa Jean sangat mencintaiku. Tapi... aku belum mampu melupakan Dani, ayah biologis ku. Rasa dendam itu menghantui!


"Azka. Apakah kamu tidak ingin memikirkan ulang keputusan mu?"


Mama Rania mengusik lamunan ku. Lamunan disudut ruang kamarku. Tempat aku sering menghabiskan waktu untuk mengotak Atik laptop atau sekedar bermain gitar. Tapi kali ini aku hanya melamun.


"Azka tetap dengan keputusan awal ma, Azka akan mencari ayah.


Aku telah mengutarakan niatku pada mama, bahwa selepas SMA aku akan mencari keberadaan ayah Dani. Keinginan mama Rania agar aku melanjutkan kuliah, aku abaikan. Aku minta rencana kuliah ditunda satu tahun.


Aku kehilangan kini dengan ayah sejak enam tahun silam. mama pernah mencari tau keberadaan ayah dari alamat rumah lamanya dan juga keluarga istri yang terakhir bersamanya, namun nihil, mereka pun tidak pernah tau keberadaan Dani.


Rindu, dendam, namun tetap peduli pada sosok ayah!


Aku melihat mama Rania menangis. Aku tau perasaannya. Meski terlihat bahagia dengan rumah tangga barunya, aku tau, dia sama seperti ku, memiliki luka batin yang tak bisa disembuhkan, luka yang ditorehkan ayah begitu dalam, hingga kami tak mampu mengobatinya.

__ADS_1


Aku memeluk bunda. Tubuhku kali ini jauh lebih besar dari mama. Aku berjanji akan melindungi wanita yang menjadi cinta sejati ku ini. Aku tau, dalam lubuk hati yang terdalam, mama juga merindukan ayah, pun seberapa besar ayah pernah menyakiti hatinya.


Aku akan membawa ayah untuk bunda. Gumamku dalam hati, sambil ku peluk erat tubuh mama. Aku bisa merasakan kerinduan itu.


####


Sebuah tiket kereta api telah ku kantongi. Ayah Jean yang memesannya.


"Jaga dirimu baik-baik, Mas". Ucap ayah sambil menyodorkan sebuah kartu ATM dari salah satu Bank.


Aku masih terdiam melihat kartu itu. Selama ini aku tau cara menggunakan kartu ATM, meskipun belum memiliki secara pribadi. Aku dipercaya ayah Jean untuk mengelola jual beli kambing milik peternakan kecil kami.


"Ini kan ATM untuk jual beli kambing itu kan yah?" . Ucapku. Aku tau betul ATM itu.


Ayah Jean mengangguk.


"Ya. sekarang pegang lah. Ini sekarang untuk kamu. Didalamnya saldonya sama seperti kemarin. Hasil penjualan 10 ekor kambing, Mas".


Aku terbiasa dipanggil mas oleh ayah, sebab aku anak pertama dikeluarga ini.


"Tapi ini kan modal jualan ayah!"


Ucapku setengah menolak. Aku tau betul keuangan ayah Jean. Ia memang bukan laki-laki kaya, namun jiwa bisnisnya telah tumbuh sejak mengelola Latifaa Bakery.


"Ayah menyiapkan ini semenjak lama, mas. Ini memang uang tabunganmu. Kan kamu yang selama ini mengelola. Kambing-kambing itupun kmu yang merawat, jadi, ambillah. Ini hal mu!" Ucap ayah Jean sambil menepuk bahuku.


Seketika ku peluk tubuh tegap ayah Jean. Laki-laki yang bukan hanya telah menikahi mama Rania, tapi juga merawat dan membahagiakan kami. Ia menjadi panutan bagi anak laki-laki seperti ku, tentang bagaimana memperlakukan wanita sebagai ratu rumah tangga.


Kereta api Gaya Baru tiba di stasiun Pasar Turi Surabaya. Mama melepas dalam tangis, begitupun adik-adik ku. Namun ayah Jean menguatkan. Ia tak ingin melihat anak laki-laki menangis. Ia juga berperan dalam membentuk mentalmu menjadi sosok laki-laki kuat, tegar dan berani.


"Azka, di stasiun Senen nanti, Paman Ardi, sepupu ayah akan menjemput kamu. Jadi kamu tidak perlu khawatir". Ucap ayah sambil mengantar koperku menuju lobi chek in kereta api..


Aku merasa, hidupku masuk dalam fase yang baru. Dimana inilah kehidupan yang sebenarnya. Selamat datang Azka. Selamat datang menjadi sosok yang dewasa...


"Ayah Dani. Aku mencari mu!" gumamku!

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2