100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
49 Restu Dari ayah Malik


__ADS_3

Suasana pagi di paviliun Rania terlihat lebih sibuk dari biasanya. Azka dan Zidan sengaja bangun lebih awal. Mereka seperti memiliki alarm alami yang terpasang di tubuh. Bagaimana tidak, Jean berjanji akan menjemput mereka pukul enam pagi, dan anak-anak telah bangun sejak pukul empat pagi. Takut kesiangan, alasan mereka.


Rania menyiapkan bekal nasi plus lauk tempe crispy kesukaan Azka dan Zidan, sebelumnya mereka sebenarnya menyukai ayam crispy, sate dan lainnya. Namun, semenjak tinggal bersama Rania dan keadaan penghasilan Rania yang pas-pasan, Azka dan Zidan menjadi terbiasa makan apa adanya. Mereka bukan tipe anak-anak rewel dan penuntut. Bahkan, hanya makan dengan bawang goreng saja pernah dirasakan anak-anak, ketika gaji di perusahaan dipending selama hampir tiga bulan. Rania bersyukur semenjak Jean kembali ke Indonesia, mereka tak pernah lagi merasakan kesulitan yang serupa. Namun, Rania memang bukan tipe orang yang berpangku tangan, ia tetap tidak ingin memanjakan anak-anaknya dengan makanan tertentu saja. Baginya, makanan apapun yang penting halal, bersih, sehat dan bergizi itu saja cukup. Bahkan Azka dan Zidan jarang sekali merasakan jajanan layaknya anak-anak yang lain, kecuali Jean yang membelikannya, atau sedang mendapatkan kiriman makanan dari ayahnya.


***


"Sudah siap anak-anak?!"


Seru Jean dari balik pintu. Anak-anak menyambut Jean dengan semangat, menghambur ke pelukan Jean, meraih tangan Jean untuk "sungkem", pemandangan yang meneduhkan hati. Layaknya mereka bertemu dengan orang tua sendiri.


"Om kita jadi mancing kan hari ini?"


Tanya si sulung, Azka pada Jean.


"Tentu dong sayang..."


Jawab Jean sambil mencubit lembut hidung Azka.


"Tapi aku gak punya pancingannya..."


Rengek Azka yang disambut rengekan yang sama oleh Zidan.


" nanti kita beli dulu, sekalian beli umpan ikannya ya..."


"Asik....hore...." Jawaban Jean disambut riuh semangat dark anak-anak. Begitu gambaran keluarga yang sempurna bagi Rania.


**


Sebelum sampai di pemancingan, Jean terlebih dahulu mengajak Azka dan Zidan untuk membeli peralatan memancing beserta umpan. Jean membantu memilihkan alat pancing Yang sesuai dengan ukuran lengan mereka.


Setengah jam berikutnya, perjalanan dilanjutkan, hingga sampai ke sebuah arena pemancingan yang cukup besar. Anak-anak sangat antusias, mereka bersemangat mengikuti arahan seorang tutor pancing. Seperti menemukan sebuah hobi baru, Azka dan Zidan dengan serius belajar memancing.


"Yeayyyy kena....!!!"


Ucap Azka sambil mengangkat alat pancingnya, sebuah ikan mujair ukuran besar, berhasil ia tangkap. Disisi lain, Zidan masih berjuang untuk mendapatkan sebuah ikan.


"Aku belum dapat juga....hiks...hiks...!" Zidan mulai merengek dan menangis khas anak-anak.


Mereka yang melihat tertawa gemas melihat tingkah Zidan. Dengan sifat ke bapak-an, Jean membantu Zidan untuk mendapatkan sebuah ikan.


"Yeayyyy kakak Azka, Ade juga dapat ini ikannya!".


Ucap Zidan sambil menunjukkan sebuah ikan nila yang masih terpasang di pengait pancing.


Azka menatap cemburu khas anak.


"Makasih ya papa Jean..."


Ucap Zidan sambil mengecup pipi Jean, membuat Rania yang duduk di samping Jean menjadi gugup dan salah tingkah.


***


Di Paviliun


Rania tengah asik membakar ikan hasil tangkapan kedua anaknya. Lumayan satu potong ikan mujair ukuran sedang, satu ikan nila ukuran sedang, dan ditambah ikan yang didapat Jean, yaitu 4 potong ikan mujair berukuran besar.


Rania sangat lihai dalam memasak. Kali ini ia membuat sambal matah khas Bali sebagai pendamping ikan bakar. Jean makan dengan lahapnya. Baginya sambal buatan Rania lebih enak dibanding dengan sambal buatan restoran.


"Rania, ternyata kamu sangat berbakat ya di bidang kuliner, sambalnya mantap!"


Puji Jean sambil terus melahap satu ekor ikan mujair.


"Betul, enak banget masakannya, kayak masakan restoran Bintan lima gitu!"


Sahut Pak Dodo yang ikut menikmati masakan Rania.


"Memangnya pak Dodo pernah ya makan di restoran bintang lima?".


Ledek Jean

__ADS_1


"emmm belum sih pak..."


Jawaban pak Dodo berhasil membuat gelak tawa diantara mereka.


***


"Rania..."


"Ya..."


"Kamu siap untuk pindah ke Lumajang pekan depan?"


Rania terhenyak, ditatapnya Jean.


"Secepat itu?"


Jean mengangguk.


"Beri saya jawaban segera, Rania. Saya tau kekhawatiran kamu, dan Kamu bebas memilih".


Ucap Jean dengan senyum mengembang. Setelah itu ia berpamitan pada Rania dan anak-anak.


***


Rania tertegun dengan apa yang ia hadapi saat ini. Begitu cepat waktu berjalan. Hingga ia hampir sampai dititik 100 hari pertamanya menjadi janda. Hampir melepas masa Iddah nya, dan telah siap menghadapi masa yang baru.


Rania memutuskan mengabari ayah nya untuk berkonsultasi mengenai rencananya yang akan pindah ke Kabupaten Lumajang. Cukup jauh dari Jakarta, memakan waktu tiga belas jam melalui tol, dan membutuhkan waktu sekitar empat jam dari bandara Juanda, Surabaya, jika ayahnya ingin mengunjungi Rania.


"Assalamualaikum, ayah..."


"Walaikumsalam, Rania"


Kemudian mengalir lah cerita tentang niatan Rania.


***


Rania anakku,


Kau telah berjalan begitu jauh.


Kau telah mampu melewati ujian hidup yang beraneka rupa.


Tentu itu sangat membuatku merasa bangga.


Jauh lebih bangga daripada sekedar melihatmu mengenakan toga.


inilah keberhasilanku dalam mendidik mu.


Kau mampu tegar.


Tak banyak mengeluh.


Bahkan dengan menopang tanggung jawab terhadap dua anakmu.


Saat ini, kau berhak memilih jalan.


Kau berhak menentukan arah kemana kakimu akan melangkah.


Bagiku, kau telah menjadi seperti yang ku harapkan.


Kepercayaan ku telah ku mahkota kan padamu.


Teruslah menjadi Rania ku


Teruslah menjadi kebanggaan Azka dan Zidan.


***


Terimakasih ayah.

__ADS_1


Cinta pertamaku.


Cinta yang mengajarkan tulus tanpa mengharap balas.


Cinta yang mengajarkan bagaimana manusia hidup,


Carilah cinta sampai cinta itu didapatkan,


Carilah cinta untuk hidup.


Bukan hanya dari satu sumber.


Melainkan dari banyak sumber cinta


itu yang engkau ajarkan ayah,


Dan ternyata,


Allah yang Maha Kuasa adalah cinta se abadi yang kita sangka.


Tak terasa saat didekat mu,


atau jauh darimu ayah.


Sebab sumber kita adalah Allah semata.


Terimakasih telah mengajarkan ku makna hidup


Dan berjuang tanpa ada ragu dan putus asa


Terimakasih telah mengajarkan ku berjalan


Dan menuntunku hingga dititik ini


Aku berjanji, ayah,


Tak ingin mengecewakanmu walau sedikit.


Restu yang engkau berikan adalah bekal,


Untuk hidup ku dimasa yang akan datang.


***


Rania membuat sebuah keputusan besar. Restu dari ayahnya telah ia dapatkan. Segera ia menghubungi Jean.


"Assalamualaikum Jean, aku siap ikut denganmu!"


Sebuah pesan ia kirimkan melalui aplikasi WhatsApp.


Tak berselang lama, Jean membalas pesan tersebut.


"Rania... sungguh?"


"Ya, Jean. Aku telah mendapatkan restu dari ayahku"


"Rania, sambutlah hari yang baru. Melangkah bersamaku".


***


Malam itu, Rania tertidur dengan membawa mimpi yang indah. Mimpi tentang 100 hari pertama menjadi janda yang terlewati dengan indah. Meski tak ada hidup yang sempurna, berjuang hingga nafas diujung usia.


Tak perlu khawatir. Dunia memang penuh dengan liku dan ujian.Sebab kebahagiaan yang sempurna hanya ada di syurga. Hadapilah...jalani...belajar dari kesalahan masa lalu. Kamu berhak untuk bahagia!!!!


Bersambung...


Hai readers...Di part berikutnya merupakan 100 hari pertama menjadi janda. Puncak dari segala keputusan besar yang diambil Rania. dan fix pindah ni Rania ke Lumajang. Jangan sampai ketinggalan ya🤗❤️ klik like and comment untuk terus mendukung penulis


oh ya...mau lihat berapa banyak yg nge fans sama ayah Malik...? ,comment ya😘

__ADS_1


__ADS_2