
"Mama...mama...."
Aku berteriak sekuat yang aku bisa. Tubuhku masih lemah, namun karena mama, aku menjadi sangat bersemangat untuk bersamanya.
Aku meronta, menendang dan memukul perempuan yang berusaha menarik tubuhku. Tante Pina. Perempuan yang belakangan selalu bersama ayah dan berusaha menggantikan posisi ibuku di hati ayah, dan hati aku dan Zidan. Ia tak menyadari bahwa sekuat apapun usahanya, tak akan pernah mengganti posisi mama. Mama Rania adalah mama selamanya untuk kami.
Aku berusaha mendekap mama sekuat tenaga. Namun, dua orang satpam menarik tubuh mama, menjauhkan dari aku. Aku dan mama akhirnya terpisah. Semakin lama aku semakin menjauh dari mama. Aku lihat dari kejauhan mama menjerit, menangis, hingga jatuh. Mama pingsan ....
Mama disakiti lagi. Jika sudah begini, aku tak mampu berbuat apa-apa. Aku hanya berdo'a semoga Allah membantu mama. Semoga Allah menjaga mama. Maafkan aku ya Allah. Aku belum mampu membela mama. Tapi, aku berjanji akan menjadi pelindung mama, jika aku besar nanti.
Tubuhku yang kecil, telah mampu mencerna apa yang sedang terjadi. Orang-orang membenci mama, orang-orang ingin menyakiti mama. Tapi meskipun begitu, hanya yang benar-benar menyayangi kami, sepenuh waktunya.
Sejak perpisahan mama dan papa, aku dipaksa untuk menjadi dewasa sebelum waktunya. Dipaksa mencerna memori sejak aku usia empat tahun hingga enam tahun ini. Mungkin, perpisahan adalah jalan terbaik untuk mama. Sebagai anak laki-laki tertua, aku tak tega melihat mama menangis disakiti setiap hari.
Aku ingat ketika mama masih tinggal di rumah lama. Mama yang tengah memasak air untuk kami mandi, dimarahi uti karena masak air terlalu lama. Padahal air sebentar lagi panas dan siap diangkat, tapi malah mematikan kompornya. Airnya belum panas. Aku terpaksa mandi air dingin, meski tubuhku menggigil. Air yang sempat dimasak mama, aku berikan semua untuk mandi Zidan. Biarlah, aku sudah lebih besar dari Zidan.
Mama sering menahan lapar untuk kami. Tubuh mama memang lebih berisi. Bukan berarti mama banyak makan. Ketika mama menyuapi kami, aku tau Mama lapar. sejak pagi, mama belum makan. Tapi, mama memprioritaskan kami. Mama makan, setelah semua pekerjaan selesai. Masak, kemudian mencuci, mengepel, menunggu orang lain makan dulu, baru mama makan. Padahal, yang mengeluarkan uang belanja itu mama. Aku kecil tau tentang itu. Entah mengapa, aku sudah paham itu.
Mama selalu ingin aku sama seperti anak lain. Seperti bisa ikut dalam kegiatan mengaji Tahfidz di sebuah Pesantren khusus santri cilik. Untuk bisa menyekolahkan aku disana, mama berjualan nasi bekal untuk santri-santri.
Aku kehilangan sosok mama hanya secara fisik. Namun, mama berhasil mengisi kekosongan jiwaku. Didikan Mama Rania, telah menjadikan aku sosok anak kecil yang dewasa. Bagia ank seusia enam tahun, aku telah bisa menjaga adikku, berbagi makanan, jajanan, mainan, bahkan aku berusaha menyayangi Zidan seperti mama menyayanginya.
Setiap malam Zidan tak bisa tidur. Mama biasanya menceritakan sebuah cerita sebelum kami tidur. Maka, aku yang menggantikan mama untuk bercerita. Mama telah mengajariku membaca sejak usia empat tahun, dan sekarang aku telah mampu membaca buku tanpa mengeja.
Zidan juga sering menangis setiap malam, mengompol dan jika sudah begitu, Uti akan marah ketika mendapati kasurnya basah di pagi hari. Maka, aku meletakkan sebuah kain perlak dibawah punggung Zidan. Kain itu bekas Zidan waktu bayi. Mama selalu menggunakannya.
Banyak yang berubah sejak mama pergi. Tergantikan dengan Tante Pina dan Tante-tante lainnya yang sering datang ke rumah secara bergantian. Kadang Uti dengan bangga memperkenalkannya padaku. Bahkan mereka secara terang-terangan membicarakan keburukan mama didepan aku. Aku yang kecil, telah sampai pada pemikiran, bahwa suatu saat, aku akan membela mama.
Tak butuh waktu lama, aku sudah berada di mobil, tangis ku semakin kuat, kali ini bukan karena aku kehilangan mama, tapi Tante Pina dengan sengaja mencubit pahaku saat ayah lengah, dengan tidak ada rasa berdosa, ia mencoba membujukku untuk diam. Ingin rasanya aku mengadukannya pada Papa. Tapi, Papa sepertinya lebih percaya Perempuan ini.
__ADS_1
Aku terdiam dengan sendirinya. Lelah, sudah sangat lelah. Rasanya percuma aku menangis.
***
Di sudut ruang kamar, aku melihat Zidan. Ketika aku memanggilnya, dia menangis memeluk ku. Baru beberapa hari saja kami terpisah. Tapi, Zidan terlihat sangat murung. Ia terlihat sedih.
Zidan, adikku, tak se tegar aku. Ia lebih mudah murung dibandingkan aku. Ia tak mau makan dan emosinya sering tidak bisa dikendalikan, sehingga uti selalu beranggapan bahwa Zidan anak nakal.
***
Suatu malam, aku bermimpi tentang mama. Mama memanggil kami. Aku terjaga dari tidurku. Aku lihat Zidan sedang menangis terisak-isak. Rupanya ia pun mimpi mama.
Malam itu aku ingin mencari mama. Tapi tidak tau dimana. Aku mencoba membangunkan ayah.
"ayah..."
"ayah...."
Kali ini berhasil. Ayah terbangun.
"Ada apa Azka....?"
Ayah aku ingin ketemu mama. Aku kangen. Ucapku sambil merengek, menangis. Tapi...
"Azka, kamu jangan lagi tanya soal mama kamu!, tidur, besok kamu mulai sekolah!"
Lalu ayah kembali tidur. Sedangkan aku tidak.
***
__ADS_1
Pagi telah tiba...
Aku telah siap berangkat ke sekolah. Zidan ikut mengantarku, di gendong oleh , Tati, pengasuh baru kami. Aku telah berencana untuk melakukan sesuatu. Sesuatu agar bisa bertemu mama.
Aku bertanya tentang keberadaan mama pada ibunga Rangga. Alhamdulillah, terakhir ia tau bahwa mama bekerja di Toko kue Latifa. Sebenarnya, aku ingin sekali meminjam telpon Ibunya Rangga untuk menghubungi mama. Tapi, rasanya aku segan melakukannya. Jadi, aku putuskan untuk bertanya, dimana alamat toko roti Latifaa itu. Setelah dijelaskan, aku tetap tidak mengerti.
"Bu, kalau mau ke toko roti Latifaa itu naik apa ya".
Tanyaku pada ibu Rangga.
"Ya naik mobil, Azka. Kmu bisa minta antar papa atau pak supir"
" Kalau naik kendaraan umum Bu?"
"hemmm...memangnya kenapa baik kendaraan umum?"
"Karena papa gak bisa nganter. Jadi mba Tati yang akan mengantar kami naik kendaraan umum".
"Kalau begitu, kamu dari sini nanti naik angkot 05. Kemudian turun di Alun-alun. Dan sambung dengan angkot warna coklat. Nanti minta diturunkan di Pertokoan Latifaa Group".
"Iya siap bu. Terima kasih ya Bu"
aku terpaksa berbohong pada Ibunya Rangga. Tak mungkin jujur kalau aku akan kesana hanya bersama Zidan. Aku akan pergi mencari makam sore nanti. Biasanya pengasuh kami akan istirahat saat sore. Uti Nani akan ada arisan. Biasanya kalau sudah begini, kami akan dibiarkan bermain sendirian. Ini saatnya untuk bertemu mama. Aku masih punya uang di celengan. Untungnya mama mengajarkan kami untuk selalu menabung di celengan. Disaat seperti ini, uang itu sangat berguna.
Mama... kami mencari mama...
Bersambung.....
Jangan lupa like dan comment untum mendukung penulis ya😘
__ADS_1