
Alam Enarotali membawa jiwa Lestari pada kehidupan di masa lalunya. Jauh sebelum ia memutuskan untuk menikah dengan Lesmana. Ia jatuh cinta pada alam dan kehidupan di tanah Papua.
Entah mengapa, kehidupan ia seakan mudah melupakan kampung halaman yang telah menorehkan bahagia sekaligus luka.
Kali ini, disini, tanah Papua, ia memulai sesuatu yang baru. Kehidupan yang menyatu dengan alam. Tari ditugaskan di puskesmas yang sama dengan saat koas dulu. Beruntungnya ia langsung bisa mengisi kekosongan jabatan disini. Maklumlah rata-rata para perantau yang tak punya ikatan jiwa dengan tanah Papua, tidak akan mampu bertahan lama disini. Kehidupan yang jauh dari kata modernisasi, bahkan serba susah fasilitas. Namun, jika kita ketuk rasa empati kita, tentu disinilah jiwa kemanusiaan kita di pupuk.
***
Hari ini adalah hari pertama ia aktif bekerja di puskesmas yang baru. Sebagai kepala puskesmas yang baru, ia membuat tasyakuran sebagai bentuk rasa syukur karena bisa bekerja ditempat yang pernah ia cita-citakan dulu.
Satu persatu staf menyalami Lestari.
"Mas Agam...?"
"Hai Lestari...?!"
Dua pasang mata saling memandang. Agam adalah saudara kembar Rahma. Agam dan Rahma adalah kembar fraternal, yaitu istilah kembar yang memiliki gen yang berbeda. Sehingga tidak memiliki jenis kelamin yang sama juga tingkat kemiripan yang rendah.
Saat pertama kali Rahma mengantar Lestari ke Enarotali, ia mengatakan bahwa mas Agam bertugas di puskesmas yang sama dengan Lestari. Hanya saja, saat itu Agam masih mengikuti sebuah pelatihan di Kabupaten Jayapura.
"wah ternyata kita bertemu lagi Disini".
ucap mas Agam dengan ramah. Mas Agam adalah senior kami. Ia telah mengabdikan diri di Puskesmas ini selama 3 tahun lamanya sejak kami selesai Koas. Mas Agam memutuskan untuk menjadi dokter di pedalaman ini. Ia tidak mau naik jabatan karena ingin tetap bertugas di lapangan, mengabdikan dirinya bagi masyarakat. Ia adalah sosok dokter yang dicintai masyarakat di tanah Enarotali.
Lestari tersipu.
"Kemarin Rahma menghubungiku. sayangnya aku masih sangat sibuk saat pelatihan".
Imbuh mas Agam. Dia memang sosok yang sangat ramah. Tak ayal dia memiliki banyak relasi.
"Iya. Tidak apa-apa mas".
Jawab Lestari.
Mereka pun hari itu larut dalam kesibukan masing-masing, dan baru bertemu lagi ketika jam istirahat makan siang.
"Lestari, ayo kita makan siang bersama!".
Ma Agam muncul dari balik pintu ruangan ku.
Tari sedikit kaget karena mas Agam lupa mengetuk pintu. Mas Agam memang ekspresif.
"Iya mas, sebentar ya".
Jawab Lestari.
Kami pun makan siang bersama. Tepatnya bersama beberapa staf lainnya.
"kamu aku bonceng saja ya, dokter Tar".
Ucap mas Agam pada Tari. Maklum jika bersama dengan staf lainnya, etika profesi harus ia junjung tinggi. Sehingga memanggil nama sahabat yang sudah sangat akrab pun harus dengan gelarnya.
"Cie... dokter Agam".
Ledek salah satu staf.
"Akhirnya aku menemukanmu!!!"
Celetuk staf lainnya yang disambut dengan gelak tawa.
Agam tersipu malu.
Tari sedikit kebingungan dengan maksud ledekan-ledekan itu.
"Iya deh. Aku bonceng kamu saja mas. Hemat bensin!"
Celetuk Tari.
Mereka pun makan siang di sebuah rumah makan khas Jawa Timur milik Bu Yasni. Menu soto Lamongan.
__ADS_1
"Kamu tinggal dimana, Tar?"
Tanya Mas Agam disela makan siang.
"Di rumah kos kita sewaktu KOAS dulu mas".
"Wah...yakin masih ingin tinggal disana, ntar mandi di kali air pasir lagi hahaha"
Kami tertawa bersama.
"Kelihatan bahagia ya padahal derita. Mandi di kali kayak jaman purba hahaha".
Untuk kali pertama semenjak bertahun-tahun lamanya, akhirnya ia bisa tertawa lepas. Disadari atau tidak, kehidupan Tari yang nyaris perfect, namun terasa kaku. Sangat minim canda tawa. Bahkan ia tak pernah merasa santai. Padahal, Tari adalah tipe perempuan sederhana yang humoris. Ia memiliki teman-teman di kampus yang bisa membuatnya tertawa lepas. Ia juga suka berpetualang dan menghadapi tantangan-tantangan alam.
"Tari, kamu tinggal di dekat rumahku saja. Biar aman!"
Celetuk Agam yang telah selesai makan terlebih dahulu.
"Em...apa gak tinggal di rumah kamu aja sekalian mas, aman banget, hahaha..."
Tari meledek Agam.
Tapi terlihat Agam berubah ekspresinya. Ada rona merah di pipinya. Agam menjadi seperti salah tingkah.
"Becanda loh mas!"
Ucap Tari sambil mengelap bibirnya dengan tisu.
***
Semenjak makan siang hari itu. Agam dan Lestari semakin dekat. Mereka sering makan siang bersama. Kadang hanya berdua.
Siang itu puskesmas mengadakan rapat mengenai revitalisasi alat kesehatan di puskesmas tersebut.
Tio, seorang staf bagian sarana dan prasarana yang tengah mempresentasikan kondisi alat kesehatan di puskesmas memergoki Agam yang sering mencuri-curi pandang pada dokter Lestari. Padahal posisi duduk mereka jelas bersebrangan.
Pertanyaan Tio membuat Agam gelagapan. Sedari tadi dia sangat tidak konsentrasi dengan apa yang diperbincangkan saat rapat.
"O...oh ...eh ...iya...em...maaf saya sedang tidak fokus!"
Seisi ruangan riuh dengan tingkah Agam yang berubah akhir-akhir ini.
Lestari tersipu malu dengan sikap Agam. Berbeda dengan di tempat tugas sebelumnya. Ditempat tugas ini Lestari lebih low profile . Ia sangat dekat dengan para stafnya dan sering bercanda.
"Gam. Saya perhatikan kamu sering mencuri pandang sama dokter Tari saat rapat tadi!"
Ledek Tio saat usai rapat dan mengajak Agam minum kopi di pantry. Agam dan Tio adalah sahabat dekat. Maklum, mereka serumpun Sumatera. Tio telah menetap dan memiliki keluarga di Enarotali. Istrinya juga berprofesi sebagai bidan desa disini.
"Iya mas. Aku merasa kehadiran Tari merusak konsentrasi!"
Ucap Agam sambil menyeruput kopinya.
"Kalau begitu lamar saja dia!"
Deg ... Ucapan Tio membuat jantung Agam berhenti berdetak sesaat.
"Apakah Lestari akan menerimaku, bro?"
Tanya Agam ragu. Maklum, Agam masih kurang pro kalau soal perempuan. Masa mudanya dihabiskan di pedalaman. Sebenarnya banyak yang menyukai Agam. Para mahasiswa KOAS, perawat praktek, bidan dan beberapa staf dari berbagai suku. Hanya saja, Agam belum terpikir untuk menikah. Karena usianya yang masih terlalu muda baginya untuk menikah. Agam baru menginjak usia 27 Tahun. Untuk berpacaran, Agam tidak berani. Maklum, pergaulan di Papua bagi anak perantau sangat bebas dan rawan. Ia takut tidak bisa menjaga diri. Sehingga ia memilih menjadi jomblo selama bertahun lamanya.
"Aku lihat Tari berbeda dari perempuan lain ya, Gam. Dia terlihat hangat ketika bercanda bersama teman-teman lainnya. Namun, saat kita membahas soal hubungan rumah tangga, cinta, Tari terlihat sangat dingin dan menutup diri. Bahkan tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya. Apa kamu tau dia seperti apa, Gam. Kan dia adik kelas mu?"
Ucap Tio. Agam kembali menyeruput kopinya. Sambil mencoba mengingat sosok Tari dalam bayangan tiga empat tahun yang lalu.
"Setau ku dia memang gak pernah punya pacar di kampus. Tapi, dia punya pacar di kampung. Terakhir, dia foto prewedding di sini, tapi sekarang dia gak datang sama cowok itu!"
Ucap Agam yang kembali mengingat masa-masa KOAS itu.
"Dia tinggal sendiri di Papua?!"
__ADS_1
Tanya Tio memperjelas.
"Iya. Sendiri!"
jawab Agam.
"Kamu cari tau dulu deh, Gam, sebelum jauh. Jangan sampai kamu melamar istri orang!"
Ucap Tio memberi saran.
****
Langit Enarotali sangat indah. Dari balik tirai kamar Agam, kita bisa memandang hamparan bukit dan pegunungan Enarotali. Kelip lampu yang tak ramai, ditambah keheningan malam yang menenangkan. Hawanya dingin, angin pegunungan bertiup sepoi. Agam kembali mengingat masa-masa KOAS.
Ia sebenarnya pernah dekat dengan Lestari. Tepatnya saat pertama kali mereka menginjakkan kaki di Papua. Saat menaiki Pesawat twin Otter dan pesawat dalam keadaan menukik. Lestari yang duduk di sebelahnya, dengan refleks menggenggam tangan Agam dengan erat. Setelah pesawat turun, Lestari lupa bahwa ia masih menggenggam tangan Agam. Dengan malu-malu tangan itu dilepas Lestari.
Agam pernah berusaha untuk mendekati Lestari. Sering membantunya mencari kayu bakar, jika ketersediaan minyak tanah dan gas kosong. Menemani Rahma yang kebetulan satu tempat tinggal dengan Tari. Namun, dari sanalah Agam tau bahwa Lestari telah memiliki kekasih. Ia pun mundur, daripada terlalu jauh berharap dan kecewa.
Rasa penasarannya bertambah besar. Mengapa Lestari yang dulu sangat ingin pulang kampung dan menikah, sampai saat ini masih saja sendiri?
Untuk mengobati rasa penasarannya. Agam segera menghubungi Rahma.
"Jadi, dia sudah janda?!"
Ucap Agam terkejut mendengar cerita Rahma.
"Iya bang. Dia dicerai sama suaminya gara-gara dia ga bisa punya anak. Kasihan kali aku lihatnya. Seperti gak percaya diri waktu aku bilang, kamu cari suami lagi. Siapa tau nanti bisa punya anak!"
sambung Rahma bercerita tentang Lestari.
"Terus, apa kata Lestari?"
Tanya Agam penasaran.
"Lestari bilang, dia takut kecewa lagi. Trauma dengan hinaan yang bilang bahwa dia itu mandul. Kayaknya trauma dia bang!"
Ucap Rahma. Agam terdiam sesaat.
"Abang kenapa tanya-tanya Lestari?!"
Tanya Rahma meledek. Anak kembar asal Medan ini seperti punya telepati. Meskipun Agam berusaha menutupi tapi Rahma tau kalau Agam ada rasa pada Tari.
"Hemmmmm CLBK ni ye.... Cinta Lama Bersemi Kembali hahahaha!!!!"
Ledek Rahma.
"Hussss kamu dek ...!"
Celetuk Agam.
"Tak apalah bang. Kau lanjutkan perjuanganmu. Dia itu janda kembang. Tapi...."
"Tapi apa dek?!"
"Kalau kau nikahi dia. Tolong jangan terlalu berharap kalau kau akan punya keturunan bang. Karena kalau sampai gak punya dan Abang tetap pengen punya, kasihan lah dia kalau harus jadi janda lagi!"
Ucap Rahma yang iba dengan kondisi Lestari. Rahma yang kini tinggal di Nabire tak bisa selalu menemani Lestari untuk curhat.
***
Agam berpikir keras untuk bisa menjalin hubungan rumah tangga dengan Lestari. Bukankah setiap pasangan yang menikah bertujuan ingin memiliki pasangan?
Namun, rasa sayang dan benih cinta itu sudah terlanjur bersemi di hati Agam.
Apakah Agam akan melanjutkan perjuangannya untuk mendapatkan Lestari?
Apakah Agam justru akan mundur ?
Bersambung ....
__ADS_1