
Suasana bahagia menyambut acara lamaran dan pertunangan, mendadak menjadi suasana yang dramatis dan penuh haru. Orang yang dicari keberadaannya lebih dari 8 tahun lamanya, kini hadir didepan mata.
Selain Rania, nyaris tak ada yang mengenali Dhani. Tak terkecuali Azka. Wajah keriput dengan jambang berwarna putih yang hampir menutupi pipi dan dagunya. Tapi, ada Rania yang tak akan pernah bisa melupakan tiap inci dari wajah orang yang telah memberinya dua anak ini.
"Mas Dhani...!!!"
Rania nyaris tak bisa mengontrol emosinya.
Mata Azka menuju sang mama, ia tentu mencari penguatan atas apa yang ibunya sebutkan tadi.
"siapa, ma?"
"Apa maksud mama?!" tukas Azka.
Rania terdiam tanpa kata. Hanya binar mata yang tak sanggup menahan bendungan air mata.
Semua mendadak terdiam. Azka rasanya ingin mengelak dari apa yang ia dengar dari mulut mama Rania.
Tapi, kali ini Fika yang mulai gusar dan menuju sang Ayah.
"Ayah kenal mereka?!" Tanya Fika sambil menunjuk ke arah rombongan Azka dan keluarga.
Dhani terdiam tanpa kata.
"Fika, Azka calon suamimu adalah anak dari ayahmu!" . Tiba-tiba suara itu keluar dari mulut seorang perempuan yang masuk dari arah belakang.
Kali ini Fika seperti terhipnotis. Ia mencoba menyangkal dengan apa yang ia dengar dari ibunya sendiri.
"Sejak kamu membawa Azka untuk pertama kali ke rumah ini. Sebenarnya aku sudah menduga, bahwa Azka adalah anak yang pernah ku aduh ketika kecil. Wajahnya tidak banyak berubah, dan aku tau detail tentangnya!"
Perempuan yang dipanggil ibu oleh Fika itu mencoba tegar dengan ucapannya.
"Lalu mengapa mama diam?!, bukankah mama tau perjuangannya untuk menemukan ayah biologisnya!!!!"
Tiba-tiba emosi Fika meluap, seolah lupa bahwa hari ini adalah hari spesial untuknya.
"Itu sebab aku tidak setuju dengan hubunganmu dengan Azka, Fika!!!"
__ADS_1
Bentak ibunya. Fika yang seumur hidupnya belum pernah mendengar bentakan dari sang mama, merasa sangat terpukul. Seketika ia merasakan dada yang terasa sesak. Hingga ia terjatuh begitu saja dilantai.
Azka panik dan tidak memperdulikan apapun lagi. Ia bergegas mengangkat tubuh Fika menuju mobil dan membawanya ke rumah sakit. Sedangkan keluarga lainnya menyusul dengan mobil yang berbeda.
Rania berada dalam satu mobil dengan mama Fika. Namun, keduanya saling membuang pandang. Mama Fika terlihat lebih tenang, seolah ia telah sadar dengan peristiwa hari ini.
"Rupanya kamu telah membuat skenario ini, perempuan ******!"
Ucap Rania sambil mendesis.
tangannya mengepal dan ingin rasanya menjatuhkan satu kali tamparan pada perempuan yang saat ini akan menjadi besannya. Mama Fika hanya tersenyum sinis.
"mereka disatukan oleh alam!"
Balas mama Fika sinis.
"Tidak. Kamu yang merencanakan semuanya, sejak awal kau memang picik!!!"
Sahut mama Rania.
"Aku akan berjuang untuk kehidupanku dan anakku, anak Dani Mahendra juga!"
Rania tidak mampu menahan emosinya lagi, ditatapnya mata perempuan disampingnya itu. Tak menyangka bahwa perempuan ini nyaris menjadi besannya.
"Kenapa Rania?, kamu terkejut?!"
plakkkkk....plakkkkk
kali ini menampar orang disampingnya bukan lagi cita-cita. Dua kali tamparan berhasil mendarat dipipi sang besan.
Namun, perempuan yang dipanggil mama Fika, adalah pembunuh berdarah dingin. Ia sudah mempersiapkan tubuhnya untuk disakiti, tanpa membalas. Mau bagaimana pun, dia merasa sudah menang.
Rania masih ingin meluapkan marahnya, andai Jean tak memisahkan mereka.
###
Pina... nama ibu dari gadis belia bernama Fika. Ia dilahirkan disaat sang ibu baru saja dipecat dari perusahaan, sedangkan sang ayah tak pernah mau mengakuinya. Sang ibu berjuang demi bisa membuat Fika bahagia, apapun caranya. Meskipun pada akhirnya, Fika harus putus sekolah demi membantu perekonomian keluarga. Namun, Pina selalu berjanji akan membuat Fika selalu bahagia dengan keterbatasan yang mereka punya.
__ADS_1
Kebahagiaan Fika adalah untuk bertemu dan diakui sebagai anak oleh ayah biologisnya. Pada saat ulang tahun ke-8 tahun, Fika menginginkan kado bertemu ayah, pada ibunya. Kemudian, Pina menyanggupinya. Skenario panjang disusun olehnya, hanya untuk membawa Dani ke pelukannya. Dani yang saat itu terjebak hutang pada rentenir, dipaksa untuk kabur dan menghilangkan jejak kehidupannya. Yang sebenarnya terjadi. Hutang Dani telah lunas ketika perusahaannya berhasil dilelang, saat ia dipenjara atas dasar penculikan terhadap Azka. Persekongkolan abadi antara Pina dan teman-teman Dani yang berkhianat!
Saat itu Dani tidak punya pilihan. Ia bangkrut dan baru saja keluar dari BUI. Keluarganya menghilang, ibunya meninggal dunia. Ia seperti terhipnotis oleh keadaan yang porak poranda. Ia menurut, mengikuti perkataan Pina, apapun. Hidup sembunyi-sembunyi selama bertahun-tahun. Hidupnya tetap tidak tertata, dan akhirnya mengalami stroke yang melumpuhkannya.
###
Di Rumah Sakit, Fika belum mampu berbicara sepatah katapun. Azka yang menemani disamping ranjang pun masih tertunduk lesu. Hasrat dan mimpi akan sebuah pernikahan dengan Fika harus ia kubur dalam-dalam. Meskipun ia belum menerima penjelasan pasti, namun ia sudah paham, bahwa gadis yang ia cintai ini adalah benar adik biologis nya. Ia baru menyadari, bahwa ibu Fika adalah Tante Pina yang dulu pernah menjadi calon istri muda ayahnya, tepatnya wanita idaman lain dari ayahnya!
"Jelaskan sesuatu untukku, ka!"
Ucap Fika lirih. Tubuhnya masih terkulai lemah di ranjang Rumah Sakit. Tapi, gejolak batinnya tak mampu menahan diri untuk segera mengetahui tentang apa yang sedang terjadi.
Azka tak menggubris. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Ka...Ka...jelaskan sesuatu untukku!"
Fika kembali merengek dengan rengekan khasnya, yang biasa ia tunjukkan ketika memohon sesuatu pada Azka.
Azka masih diam. Fika menggoyangkan tubuh Azka, hingga membuat Azka tidak bisa lagi menahan emosinya.
"ka...." belum selesai Fika mengatakan sesuatu.
"Apa....???!!....apa kamu mau tau kenyataannya sekarang Fika?!"
Tiba-tiba Azka berteriak pada Fika, membuat Fika semakin tertekan.
"Kamu adalah adik aku, sebab ayahmu, adalah ayah yang aku cari selama ini!". Ucap Azka setengah berteriak.
"Dan kamu tau Fika...ibumu, adalah perempuan yang menghancurkan rumah tangga ibuku!!!"
Ucap Azka sambil berlalu keluar ruang kamar Rumah Sakit itu, ia tidak peduli dengan kondisi Fika yang syok karena suara bentakan Azka. Ini kali kedua ia mendengar suara bentakan dari dua orang yang sama-sama dicintainya.
Azka berjalan cepat melewati para tenaga medis yang meringsek masuk ke ruangan Fika. Kondisi Fika semakin memburuk, kembali ia tak sadarkan diri.
Azka tak peduli ... ia berjalan tanpa arah. Ia merasakan bahwa bahagia tak pernah menjadi keberuntungannya.
Apa salahnya, jika memang ia tak bisa mendapatkan keluarga bahagia dari orang tuanya, mengapa ia juga harus gagal menciptakan keluarga bahagianya sendiri?!
__ADS_1
Azka merasa terlalu kuat. Hingga Tuhan terus mengujinya bertubi. Tanpa boleh mencicipi indahnya cinta kasih keluarga inti.
Bersambung...