100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bahu ternyaman untuk Fika


__ADS_3

Setelah makan siang. Wisnu mengajak Fika untuk melihat pameran kosmetik yang tengah diselenggarakan oleh perusahaannya di salah satu mall. Fika pun menyetujuinya.


"Pameran kali ini adalah pameran persiapan untuk event yang lebih besar, Fik. Kita akan dilibatkan sebagai panitia inti nantinya. Aku yakin kamu akan bisa berkontribusi dalam pameran tersebut!". Ucap Wisnu optimis.


"Jangan memujiku seperti itu, mas. Aku takut nantinya tidak bisa bekerja sesuai dengan ekspektasi mas". Jawab Fika.


"Aku yakin dengan jam terbang dan publik speaking mu dibidang penjualan, untuk itu persiapkan dirimu untuk event ini ya, Fik!" Ucap Wisnu dengan penuh semangat.


Mata Fika berbinar mendengarkan tiap kalimat motivasi yang keluar dari bibir Wisnu.


"Betapa kerennya pria ini. Masih muda, namun semangat kerjanya sangat tinggi". Gumam Fika mengagumi dalam hati.


Mereka kembali ke mobil. Tak berselang lama, mobil pun melaju. Fika teringat sesuatu, bahwa perjalanan menuju pameran akan melewati Rumah Sakit tempat Pina dirawat.


Meskipun segan, akhirnya Fika memberanikan diri untuk mengutarakan permintaannya menjenguk ibu. Ia sudah sepekan tidak menjenguk ibunya karena kesibukannya menghadapi promosi jabatan. Untungnya ia sempat membeli sebungkus nasi Padang dengan lauk Telur dadar Padang kesukaan ibunya.


"Mas, boleh kita mampir ke Rumah Sakit didepan sebentar?"


Suasana macet membuat Wisnu kurang konsentrasi.


"Hah...Apa Fika?!"


"Kita mampir ke Rumah Sakit didepan sebentar!" Ucap Fika menegaskan.


"Siapa yang sakit,Fik?" Tanya Wisnu penasaran. Karena Rumah Sakit depan adalah Rumah Sakit rujukan kejiwaan di kota Jakarta.


"Ibu saya..." Ucap Fika lirih sambil menunduk.


"Oh...maaf Fik!. Oke kita akan singgah disana" . Jawab Wisnu yang merasa tidak enak hati karena bertanya terlalu jauh.

__ADS_1


Fika menenteng sebuah bungkusan nasi lengkap dengan lauk kesukaan ibunya. Ia sengaja memesannya tadi, karena tau akan melewati jalur Rumah Sakit Jiwa tempat ibunya dirawat.


"Mas mau tunggu disini?" Tanya Fika saat keluar dari mobil.


Wisnu yang merasa penasaran memutuskan untuk ikut turun.


"Aku ikut Fik!"


Ucap Wisnu sambil turun dari mobil.


Fika berjalan tanpa kata. Sampai di sebuah loker pendaftaran untuk jenguk. Tak berselang lama, ia pun diijinkan untuk menjenguk ibunya.


Seperti tak memperdulikan Wisnu. Fika menyalami ibunya dan mulai membuka bungkusan nasi yang ia bawa tadi.


"Ibu, makan dulu ya!" Ucap Fika lembur sambil membuka karet yang membungkus nasi. Satu persatu suapan ia masukkan kedalam mulut ibunya. Wisnu tertegun melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Dibalik sikap ceria dan tegasnya seorang Fika saat bekerja, ternyata ia adalah sosok sabar dan lembut pada ibunya.


Kondisi Pina terlihat lebih stabil dari waktu ke waktu. Ia sudah tidak lagi menyerang perawat.


"Terimakasih ya Bu sudah melakukan yang terbaik untuk kesembuhan. Fika bersyukur kehidupan kita sekarang membaik. Oh ya Bu, Fika tadi dapat promosi jabatan. Alhamdulillah Fika naik jabatan sekarang Bu!"


Ucap Fika sambil terus menyuapi makanan. Meskipun sang ibu merespon dengan ekspresi yang sangat datar. Fika tidak peduli. Ia hanya ingat apa kata dokter untuk terus mengajak sang ibu berkomunikasi, memperlakukannya seperti layaknya manusia normal. Mengingatkan ibunya untuk sadar akan perannya dalam kehidupan, bahwa dia masih layak untuk bisa sembuh dan hidup sebagai manusia yang normal.


Wisnu tertegun dengan kesabaran Fika. Wisnu semakin terpesona pada sosok Fika.


Setelah menyuapi ibunya. Fika minta ijin untuk mengambil gunting dan sisir. Dilihatnya rambut sang ibu telah panjang dan beberapa ada yang menggimbal karena jarang disirir.


Dengan lembut, Fika mulai menggunting rambut ibunya yang memanjang. Ibu belum bisa merawat dirinya sendiri, sehingga membiarkan rambutnya panjang, akan membuat rambut ibu menjadi sarang kutu. Agar terlihat tetap feminim dan elegan, Fika memanjangkan poni Pina sedikit. Kemudian mulai memandikan ibunya di kamar mandi bersama agar ibunya tidak merasa gatal akibat sisa-sisa rambut yang menempel ditubuhnya.


Wisnu membantu Fika untuk mengantar ibunya ke kamar mandi. Fika membalutkan sehelai sarung ditubuh Ibunya, agar tak terlihat aurat sang ibu didepan Wisnu. Sekali lagi, Wisnu terpana dengan cara Fika merawat ibunya. Seketika Wisnu mengingat sosok ibunya yang juga tengah sakit di rumah. Betapa tenang hidupnya jika memiliki istri seperti Fika.

__ADS_1


"agh...pikiranku ini terkadang sulit ku kontrol!" Gumam Wisnu dalam hati.


"Nah, sekarang ibu sudah cantik" . Ucap Fika pada ibunya. Namun, Pina tetap tidak merespon. "tak mengapa, ibu tidak mengamuk saja sudah mampu membuat Fika bahagia.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Fika merias wajah ibunya, dan menyerahkan kembali kepada perawat, karena waktu jenguk sudah selesai.


"Aku ingin membawa ibu pulang mas, dan menyewa jasa perawat hemmm". Ucap Fika sambil menarik nafas panjang.


"Fika, kalau boleh aku tau awal mula sakit yang diderita ibumu?" Tanya Wisnu hati-hati. Ia takut menyinggung perasaan Fika.


Fika belum menjawab. Ia masuk kedalam mobil, diiringi Wisnu. Setelah duduk, ia baru menjawab Wisnu, dengan tatapan lemah namun dalam.


"Yakin kamu mau tau kisah hidupku?"


ucap Fika.


"Setiap orang punya kisah hidup masing-masing, Fika. Kamu tidak perlu ragu untuk bercerita". Ucap Wisnu dengan lembut.


Kedua mata mereka berpandangan. Ada kenyamanan yang Fika rasakan disana. Hingga iya mampu membalas tatapan itu lekat-lekat.


Mobil masih terparkir di basemen Rumah Sakit. Saat dengan perlahan, Fika menceritakan tentang siapa dirinya dan bagaimana keluarganya. Awal mula mengapa ibunya menderita gangguan jiwa. Derai air mata tak mampu dibendung lagi. Bahu Wisnu menjadi tempat ternyaman untuk Fika. Disana air mata tumpah ruah. Air mata yang selama ini tidak ada tempatnya. Sehingga selalu ia bendung. Ia selalu merasa percuma dengan air mata, sebab tidak akan sedikitpun mengurangi kesedihannya dan memberikan solusi.


Namun, kali ini berbeda. Bahu yang diberikan Wisnu menjadi tempat yang tepat untuk menumpahkan segala emosi dan beban yang ia rasakan selama ini. Usapan lembut di kepala Fika menandakan bahwa Wisnu adalah sosok yang mampu memberikan kenyamanan bagi Fika. Perlakuan seperti ini tidak pernah ia dapatkan dari Azka.


Setelah merasa puas dengan tangisnya. Fika melepaskan kepalanya dari bahu Wisnu.


"Maafkan aku ya mas. Aku terlalu terlarut dalam emosi". Ucap Fika yang masih sesenggukan.


"Tak mengapa, Fika. Aku justru sangat bersimpati padamu. Ternyata selama ini kamu hidup sebatang kara. Mulai sekarang, jangan sungkan untuk berbagi cerita denganku, aku akan selalu ada untuk kamu, Fika".

__ADS_1


Sebuah kecupan hangat mendarat di tangan Fika. Setelah itu, genggaman tangan Wisnu mampu meredakan tangis, mengubah hujan menjadi pelangi.


Bersambung...


__ADS_2