
***
Rania melewatkan tidur malamnya, memikirkan bagaimana perjuangannya hingga dititik ini. 100 Hari telah terlewati. Status janda yang disandang kini telah terbiasa ia rasakan. Ternyata hidup sendiri sebagai orang tua tunggal tak begitu menyeramkan. Mungkin lebih menyeramkan hidup berumah tangga, namun batin dan jiwa nya hilang.
Sekarang, bagaimana ia memikirkan statusnya di hari berikutnya. Satu sisi ia belum ingin memikirkan hidup kedepannya. Namun sisi yang lain, ia menyadari statusnya ini tak baik jika dipertahankan untuk waktu yang lama. Mengingat ia saat ini tinggal di desa dengan adat dan agama yang sangat kental. Ia ingat sekali saat dirinya, Jean dan didampingi mbok Siti melapor ke ketua RT terkait kehadiran sebagai warga baru pendatang, Pak RT telah mengingatkan Rania dan Jean tentang status mereka yang bukan suami istri dan rentan akan gosip, meskipun niat mereka hanya sebatas rekan kerja saja.
Dalam kegalauannya. Rania kembali menghubungi ayah Malik. Meminta pendapatnya mengenai niat baik Jean untuk melamar Rania.
"Assalamualaikum ayah..."
Sapa Rania pada sang ayah yang mengangkat telpon darinya.
"Walaikumsalam, Rania..."
Setelah berbincang terkait kabar,Rania pun mulai masuk dalam topik utama pembicaraan.
"Ayah. Rania telah menyelesaikan masa Iddah. Alhamdulillah semua terlewati dan Rania menjadi pribadi yang lebih tenang, yah".
Ucap Rania dengan tenang.
"Alhamdulillah Rania anakku. Ayah sangat bangga dengan mu. Kamu berhasil melewati setiap ujian dalam hidupmu. Bahkan aku tak pernah menyangka, bahwa anakku akan mendapatkan ujian berat yang apabila itu menimpaku, belum tentu aku mampu".
Ucap ayah Malik dengan suara agak berat. Mungkin menahan tangis.
"Iya ayah. Terimakasih atas segala nasehat dan do'a-do'a ayah dan ibu. Tanpa do'a kalian, tentu Rania tak mungkin sekuat ini".
Rania diam sesaat. Menghela nafas panjang untuk mengutarakan niatnya.
"Yah. Jean mengutarakan niatnya untuk meminang Rania dalam waktu dekat. Bagaimana pendapat ayah?"
"Rania anakku. Kau berhak bahagia. Ini saatnya membuka lembaran baru kehidupanmu".
Jawab ayah Malik dengan bijaksana.
"Tapi, Rania takut ayah. Bagaimana jika kehidupan rumah tangga tak seindah yang didambakan, takut...takut akan gagal".
Suara Rania semakin berat. Air mata nya tak bisa ia bendung lagi.
"Rania. Selama manusia masih diberi nafas. Maka, ujian dan cobaan itu pasti ada. Cobaan rumah tangga itu beraneka ragam Rania, entah itu dari ekonominya, pasangan yang sakit, anak sakit, pasangan yang tak sesuai dengan harapan kita, atau bisnis yang sulit. Semua itu harus dijalani dan diterima dengan rasa syukur. Sebab setelah ujian itu tentu akan ada hikmah".
Mereka terdiam sejenak.
Kemudian ayah Malik melanjutkan pembicaraannya.
"Nak, sampaikan pada Jean, ayah menunggu pinangannya. Ayah menanti di Aceh".
Ucap ayah Malik seraya menutup pembicaraan.
Perasaan Rania antara bahagia, terharu, juga gugup bercampur aduk dalam batinnya. Bagaimana cara ia menyampaikan apa yang diamanahkan oleh ayahnya. Ia malu, namun juga bahagia. Ya...ia akan mencari waktu yang tepat untuk bicara pada Jean.
***
__ADS_1
Di Sore hari, ketika suasana resto terlihat lengang. Rania mencoba menghampiri Jean yang tengah asik mencoba mesin racikan kopi yang baru saja ia beli dari temannya.
"Jean..."
Sapa Rania sambil berdiri gugup di samping mesin kopi tersebut.
"Oh ya Rania...sini...sini...kamu mau coba kopi racikan ku?"
Rania tersenyum tipis.
"Aku ingin mengatakan sesuatu".
Jean yang mendengar ucapan Rania kemudian menghentikan aktivitasnya. Rania memang jarang berbicara, kalau bukan hal yang begitu penting baginya.
"Oh...oke. Ayo kita duduk dulu".
Jean kemudian memberikan sebuah kursi untuk Rania duduk. Rania pun duduk.
Jean duduk tepat di depan Rania. Menatap mata Rania, seperti mencoba menebak apa kira-kira yang ingin dibicarakan oleh Rania.
"Rania, kamu boleh bicara sekarang".
Ucap Jean memberi aba-aba.
"Jean. Ayah Malik memberikan salam untukmu".
Bibir Rania serasa kaku untuk berbicara. Ia pun terdiam sesaat.
"emmmm... ayah menunggu pinangan mu, Jean".
Ucap Rania sambil tersipu malu.
"Kita akan ke Aceh pekan depan Rania. Persiapkan dirimu".
Ucap Jean dengan bersemangat.
***
Sejak hari itu, Rania menjadi terlihat sangat istimewa di depan Jean. Bahkan Jean merekrut karyawan baru khusus untuk membantu pekerjaan Rania.
"Rania, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Bersiaplah sebentar lagi aku akan menjemputmu".
Rania merasa jantungnya berdegup kencang. Ah...mengapa Jean yang ia kenal lama, kini terasa canggung.
Sebuah mobil Honda Brio silver telah siap menjemputnya. Rania duduk di bangku belakang. Ia merasa belum pantas duduk di bangku samping supir.
Mobil melaju dengan santai, menuju ke sebuah pusat perbelanjaan. Rania mengikuti langkah Jean. Tanpa sebuah kalimat yang terucap.
Langkah kaki Jean terhenti di sebuah showroom bridal. Terlihat deretan pakaian khas pengantin berjejer rapi memanjakan mata. Seorang pramuniaga datang menghampiri Rania dan Jean.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?".
__ADS_1
Ucap pramuniaga dengan ramah.
"Ya mba. Saya ingin membeli gaun pengantin mba".
Ucap Jean kepada pramuniaga tadi.
"Jean...kita membeli, bukan menyewa?"
Gumam Rania.
Jean mengangguk.
"Kita akan menikah di Aceh. Jadi supaya tidak merepotkan, maka kita akan membeli pakaian dari sini. Di sana kita hanya menyiapkan MUA saja, Rania".
Rania tersipu mendengar penjelasan Jean. Ia kemudian diajak berjalan mengelilingi butik bridal. Ia memilih sebuah gaun berwarna putih berbahan sutera dengan hiasan brokat yang menjuntai hingga dibawah kaki. Sebuah hijab dengan bahan satin putih dan mutiara berwarna broken white menambah aksen elegan. Rania mencoba pakaian tersebut di ruang fitting. selalu berjalan keluar memperlihatkan gaun yang dikenakannya pada Jean.
Penampilan Rania yang sangat anggun membuat Jean terpesona.
"Kamu suka, Jean?"
Tanya Rania sambil memperlihatkan gaun yang ia kenakan.
"Kamu terlihat sangat anggun Rania"
gumam Jean. Ia pun mengangguk tanda setuju.
"Apa ada lagi yang ingin kamu kenakan saat pernikahan nanti?"
Tanya Jean setelah membayar gaun pengantin berwarna broken white itu.
"Ya".
Jawab Rania singkat
"Apa?"
Tanya Jean.
"Pakaian adat saat acara resepsi. Boleh?"
Tanya Rania dengan logat mengiba seperti anak kecil.
"Tentu Rania. Aku juga berpikir seperti itu. Setelah akad, kita akan resepsi dengan gaun khas adat Aceh".
Rania dan Jean seperti layaknya calon pengantin pada umumnya. Terlihat bahagia dan bersemangat. Sesampainya di rumah, mereka telah disambut hangat oleh Azka dan Zidan yang baru saja pulang dari langgar.
***
Hari-hari menjelang pernikahan, Jean mengukur sebidang tanah di diantara kebun buah dan kandang kambing. Ia ingin membangun sebuah rumah untuk keluarga kecilnya nanti. Rumah yang halamannya dipenuhi pohon buah dan dibelakang rumah terdapat kandang kambing. Rumah sederhana, namun akan ia hiasi dengan cinta dan agama.
Bersambung..,
__ADS_1