
POV Melati.
Satu bulan setelah pernikahan suamiku, aku belum mampu mengeluarkan emosiku. Tekanan sosial tentang seorang istri mandul, membuat aku mati rasa. Siapa yang mau membelaku, saat aku memprotes poligami yang dilakukan suamiku?!
Salahku, mengejar cita-cita dan mengabaikan rumah tangga?!!!
see...!!! aku masih terlalu muda ketika menikah. Bahkan baru beberapa bulan mendapatkan menstruasi pertama!
Bahkan aku baru saja merasakan jatuh cinta pertama kali pada lain jenis!
Apakah hidup sedemikian rupa, hingga untuk bahagiakan diri sendiri saja tercela?!
......
Tiga bulan berlalu. Aku merasa suamiku mulai jarang memiliki waktu untukku. Kehadiran yang dibagi rata, empat hari untukku dan tiga hari untuk Tya, nyatanya tak selalu berjalan begitu, sebab disiang hari ustad Malik tentu akan berada di pesantren milik bapak mertua, dimana Tya tinggal disana.
Ia hanya bersamaku saat malam. Terkadang lebih banyak diam dan mulai bersikap dingin .
__ADS_1
***
Siang itu, saat aku tengah mengajar di kelas Madrasah yang ku pimpin, ibu mertuaku datang menghampiri, memaksaku untuk mengakhiri kelas. Batinku berkecamuk, entah mengapa, aku seperti tau apa maksud kedatangan mertuaku. Entahlah, aku menebak alur hidupku sendiri, nasibku yang teramat malang dan siap untuk disingkirkan.
Lenganku ditarik kuat, menuju ruang tengah rumah yang hanya berjarak 10 meter dari madrasah. Aku ditarik setengah berlari. Tangisku pecah sebelum benar-benar mendengar semua penjelasan ibu mertua.
"Melati, mulai hari ini, Malik tidak akan pulang ke rumah ini lagi. Kamu harus menerima itu, karena Tya sudah mengandung cucu saya!"
Aku hanya sanggup menangis sesenggukan, tanpa mampu membantah sepatah katapun dari ibu mertuaku.
"Malik akan tetap menafkahi kamu seperti biasa. Tapi tolong jangan ganggu dia, karena aku tidak mau Tya merasa kurang perhatian dan berdampak buruk pada kandungannya!"
"Mas Malik masih mempunyai tanggung jawab lahir maupun batin padaku selama ia tidak menceraikan ku, umi!"
Umi terhenyak, mungkin ia tak menyangka aku masih berani membela diri.
"Anggap saja ini sebagai karma, seorang perempuan yang mengabaikan suaminya dan mendzolimi pernikahan!".
__ADS_1
Aku terdiam. Hanya bisa melihat langkah ibu mertua yang menjauh pergi, langkahnya terayun cepat, diikuti para abdi dalem yang selalu setia mengikutinya. Wajah mereka memelas, mungkin kasihan pada nasibku!
....
Semenjak saat itu, Malik tak lagi menghubungi ku, apalagi datang menjenguk!
Ia hilang bagai ditelan bumi.
Hingga suatu sore, sepucuk surat diantar oleh Pak Rahman, beliau adalah saksi pernikahan ku, sekaligus penasehat di pondok pesantren milik Kyai Mansyur.
"Maafkan Malik, Ning. Beliau sudah berusaha untuk adil. Namun apa yang dihadapi tidak semudah sebuah konsep. Ning Tya hanyalah manusia biasa yang memiliki rasa cemburu yang begitu berat. Hingga keinginannya harus selalu menjadi prioritas orang-orang disekitarnya. Ia menjadikan kasih sayang Nyai, sebagai kekuatan untuk membenarkan tujuan-tujuannya, termasuk perceraian ini".
Sekali lagi, aku merasa menangis sejadi-jadinya. Berteriak histeris hingga nyaris tak sadarkan diri.
Poligami adalah sesuatu yang sudah aku ketahui akan terjadi, aku persiapkan dengan matang dan aku jalani selama hampir empat bulan lamanya. Namun, sungguh tak ku sangka, justru perceraian lah yang ku hadapi. Menjadi wanita yang tidak dipilih, dan dibuang begitu saja.
Aku merasa terhina. Tanpa kabar ia kemudian mendaftarkan gugatan perceraian di Pengadilan Agama. Tanpa kompromi, aku harus menghadapi sidang itu sendiri, sebab ayahku, baru saja meninggal dunia setelah berjuang melawan serangan jantung setelah mendengar gugatan perceraian itu.
__ADS_1
masih lanjut 1 part lagi ya😘