
"Rahma, aku akan segera menceraikan kamu. Jadi mulai saat ini, tolong kita urus urusan kita masing-masing!"
Ucap Wisnu dengan nada dingin.
"Aku akan menjadi mantan istrimu memang, tapi tidak dengan anak-anak kita. Tidak kah kamu sedikit mau berpikir tentang mereka. Dosa-dosa yang kamu buat, aku takut berdampak pada mereka!"
Ucap Rahma mulai sesenggukan.
"Aku benci kamu yang kolot Rahma. Selalu kamu serang aku dengan tangisan. Cengeng!"
Wisnu mengambil kunci mobil dana sebuah jaket, kemudian berlalu meninggalkan Rahma yang tengah menangis.
Wisnu merasa dia membutuhkan sosok perempuan yang kuat, yang cerdas dan tidak suka mengeluh. Dia sangat tidak menyukai perempuan yang lemah seperti Rahma.
__ADS_1
Ia membenci Rahma yang lemah. Menyelesaikan masalah dengan bantuan orang lain, mudah menangis dan tidak pandai mencari uang. Hanya bisa mengeluh dengan kekurangan keluarga.
Sejak kelahiran anak pertama mereka, Rahma lebih terlihat parah. Sebab ia tidak bis merawat dirinya. Pakaian yang dipakai. hanya itu-itu saja. Kulitnya kusam, rambutnya tidak tersisir rapi. Membuat mata Wisnu lelah melihatnya. Oleh sebab itu, dia mulai mencari wanita idaman lainnya.
Wisnu beberapa kali pindah kelain hati. Namun sering kali tidak berlangsung lama. Hanya beberapa bulan saja, bahkan ada yang hanya satu malam saja. Setelah itu berakhir dengan pertengkaran, dan Rahma lah yang selalu menjadi sasaran teror dari perempuan -perempuan ex suaminya.
Awal perselingkuhan, Rahma masih sangat memaklumi. Ia yang notabene anak bungsu, kurang mampu melayani suami. Sehingga, wajar jika suaminya khilaf mencari wanita dambaan lain. Rahma masih yakin bahwa suaminya akan kembali lagi kepadanya. Apalagi, Wisnu masih memberikan nafkah lahir maupun batin kepadanya, hingga terlahir anak kedua mereka.
Namun, setelah pertemuannya dengan Fika, semua berubah. Fika mampu menguasai seluruh waktu yang dimiliki. Perhatian terhadap keluarga memudar, bahkan nyaris seluruhnya. Jarang pulang, nafkah semakin berkurang, hingga akhirnya tiba sebuah surat yang amat mengejutkan, yaitu surat dari pengadilan.
Tanpa basa basi ia meminta Rahma untuk membuka dan membaca surat itu.
"Apa ini mas?"
__ADS_1
Tanya Rahma sambil meletakkan bayinya yang baru berusia delapan bulan.
"Kamu bisa baca sendiri!"
Rahma membukanya, melihat kop surat itu saja, sudah mampu membuat Rahma menangis tak percaya.
"Apa salah ku mas. Hingga ku perlakukan aku seperti ini!".
"Aku melakukan ini agar kamu bisa mencari kehidupan yang lebih baik. Daripada kamu terus memaksakan diri hidup denganku, sedangkan aku tidak lagi menginginkan kamu. Kamu tenang saja, anak-anak akan tetap mendapatkan nafkah dariku. Kamu juga bis mencari pria lain yang mau menerima kamu!"
Seperti biasa Rahma masih tidak bisa melawan Wisnu. Namun, ia berusaha untuk tetap bertahan, hingga sidang perceraian nanti tiba. Ia memperbaiki diri. Lebih berusaha untuk tampil bersih, selalu tersenyum, jarang mengeluh, dan belajar untuk berbisnis.
Rahma mencoba menjadi reseller sebuah baju merk ternama, dengan modal yang ia dapat dari hasil menjual sisa perhiasannya. Ia telah berhasil mendapatkan beberapa orderan, dan mendapatkan sepasang baju bonus dari penjualannya. Namun, usaha itu masih dirintisnya, sehingga belum menampakkan hasil. Sedangkan Wisnu masih dengan pendiriannya, menceraikan Rahma. Bukan tanpa sebab, karena ia pun tau Fika tengah hamil muda.
__ADS_1
Namun, ia masih takut mengungkapkan siapa ia sebenarnya pada Fika. Sebab yang Fika tau, Wisnu adalah bujangan!
Bersambung...