100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bagian 20 Provokasi


__ADS_3

Mobil berhenti di salah satu warung pinggir jalan di tepi pantai wilayah Indah Kapuk. Suasana malam itu terasa hangat. Angin bertiup tak begitu kencang. Meskipun dari kain berada, Jean lebih menyukai makanan pinggir jalan. Sambil menikmati suasana Jakarta dipinggiran pantai.


"Kamu mau makan apa, Rania?"


Tanya Jean sambil memilih-milih ikan kerapu yang sengaja dijejer bersama dengan kerang, kepiting, udang, cumi, lobster dan aneka menu laut lainnya.


"Aku mau cumi-cumi, pak"


Jawab Rania sambil memilih cumi-cumi ukuran sedang yang menggoda.


"Oke. pilih saja. Saya makan ikan kerapu dan lobster"


Jean sangat menyukai lobster. Dalam sebulan iya bisa dua kali mampir ketempat ini hanya untuk mendapatkan lobster segar.


Uniknya ditempat ini pengunjung bisa memilih ikannya sendiri dan ikut memasak di dapur khusus.


"Rania, kamu mau coba masak sendiri?"


"Wah...bisa gak ya..?" gumam Rania.


"Coba saja" ucap Jean sambil menarik lengan Rania menuju dapur. Malam ini Rania terlihat sangat bahagia bersama Jean. Ia larut dalam suasana malam itu. Keduanya baru pulang lewat jam sebelas malam. Jean mengantar Rania hingga ke Paviliun.


"Jean, terimakasih ya. Hari ini aku bahagia sekali".


"Sama-sama Rania. Aku juga bahagia hari ini. Bisa melihat senyuman mu dan makan masakan mu. enak!" Goda Jean membuat Rania tersipu malu.


"Oke. aku pulang dulu ya..." Ucap Jean kemudian melaju kendaraannya.


Malam itu, Rania bersemangat membongkar handphone lamanya. Kemudian mengambil chip dan memasukkan ke dalam handphone yang baru. Ia cukup ahli dalam pengoperasian handphone barunya. Tak butuh waktu lama. Handphone telah bisa digunakan.


Tak lupa, Rania mengunduh aplikasi WhatsApp dan Facebook ke handphone barunya itu. Ia lupa meminta nomer telpon Jean. Rencananya ia akan meminta nomer ponsel Jean esok hari.


Pagi ini Rania lebih bersemangat berangkat ke kantor. Ia akan menuai Jean untuk meminta nomer handphone nya.


Ruang produksi masih sepi. Setelah Rania mengecek absen karyawan, menyeting mesin produksi. Ia memutuskan untuk naik kelantai atas, ruangan Jean.


Terlihat Jean tengah menikmati sarapannya sambil membaca koran.


"Selamat pagi Pak Jean!" seru Rania bersemangat.


"Loh kok pakai bapak lagi sih, Rania?!"


"Ini kantor pak. Tidak etis kalau saya panggil Jean saja hahaha"

__ADS_1


"hahahah" Jean ikut tertawa.


"Baiklah. Ada yang bisa saya bantu?"


Tanya Jean .


"Ini...aku minta nomer handphone bapak!" Ucap Rania sambil menyodorkan handphone.


"Oh iya...sudah diinstal aplikasi WhatsApp juga ya" ucap Jean.


Rania tersipu malu.


"Wah ini ada Facebook juga Rania" Ucap Jean.


Rania mengangguk


"Aku minta di add ya lewat Facebook mu"


Ucap Jean sambil membuka aplikasi Facebook Rania. Tanpa sadar Rania mendekatkan tubuhnya pada Jean. Maksud hati ingin melihat nama Facebook Jean. Rupanya Jean membalas Rania. Ia pun mendekatkan kepalanya pada Rania.


*****


Sepasang mata melihat sinis kedekatan Jean dan Rania. Ia sengaja merekam kedekatan mereka dengan handphone.


Meta bergumam sendiri. Matanya menatap benci pada Rania. Beberapa hari ini Meta melihat kedekatan Rania dan Jean. Sehingga Jean lebih sulit untuk dihubungi dan dimintai bantuan.


Meta adalah kepala bagian periklanan. Dia sepupu Syela. Ia sudah lama menginginkan Jean. Turun ranjang, maksudnya. Tapi sayang Jean bersikap dingin pada Meta. Terlebih Meta selalu bersikap provokatif terhadap setiap teman perempuan Jean. Tak peduli itu tekan bisnis.


Dulu Jean pernah menjalin kerjasama dengan Hotel Kristal untuk suplai kue dan roti. Kebetulan manager Pemasarannya adalah perempuan. Namanya Kiki Jean dan Kiki cukup akrab, namun hanya sebatas bisnis. Meta merasa cemburu buta. Ia berusaha mencelakai Kiki. Ban mobil Kiki di kempesi saat berkunjung ke Toko Latifaa Bakery. Nyaris Kiki mengalami kecelakaan. Perbuatan Meta terekam CCTV yang terpasang di area parkir.


Untung saja, Kiki mau diajak menyelesaikan masalah itu secara kekeluargaan. Jika tidak, Meta sudah berada di penjara.


Kali ini, Meta mengadukan kedekatan Rania dan Jean pada Bu Latifaa, pemilik Latifaa Group. Meta sangat pandai mengambil hati Bu Latifaa, hingga apa saja yang dikatakan oleh Meta terkadang ditelan mentah-mentah.


Meta mengadukan semua hal yang negatif tentang Rania. Status janda, tidak memiliki tempat tinggal, dan sekarang berani tinggal di paviliun milik Jean.


"Apakah kamu yakin dengan informasi yang kami dapatkan, Meta"


Tanya Bu Latifaa saat selesai mendengar pengaduan Meta.


"Yakin Tante. Tante kan sudah lihat sendiri Vidio mereka. Meta juga siap mengantar Tante ke paviliun untuk melihat siapa yang tinggal dsana".


Meta mulai memprovokasi Bu Latifaa.

__ADS_1


"Baiklah. antar Tante kesana"


Meta dan Bu Latifaa menuju paviliun yang Rania tempati.


Pintu diketuk berkali-kali. Rania yang sedang sholat memutuskan berhenti. Ia khawatir jika pintu sampai di dobrak.


Pintu dibuka. Dua pasang mata menatap sinis.


"Berani sekali Jean bersikap tidak profesional!, karyawan baru mengapa bisa ditempatkan di paviliun untuk level Direktur!"


sergah Bu Latifaa tanpa basa basi.


Rania terhenyak hingga nyaris tak dapat berkata-kata.


"Maaf Bu Latifaa. Pak Jean yang menyuruh saya untuk menempati tempat ini".


Ucap Rania tertunduk. Melihat ekspresi dan nada bicara Bu Latifaa membuat Rania tidak enak hati.


"Ya. tentu Jean yang menyuruhmu tinggal disini. itu karena kamu selalu merayunya, Rania!"


Ucapan Meta yang baru pertama kali berbicara dengan Rania sangat menyakiti hati Rania. Ia tak menyangka bahwa gosip Bu Meta sebagai pimpinan paling kejam terbukti adanya.


"Tidak benar Bu. saya tak pernah merayu Pak Jean" Rania mencoba menyanggah.


"bohong, Tante. Tante lihat sendiri Vidio mereka!" Sanggah Meta.


"Vidio...Vidio apa ya Bu Meta?" gumam Rania bingung.


"Vidio tadi pagi saat kamu memasuki ruangan Jean, jangan pura-pura lugu Rania!"


Rania terhenyak dengan ucapan Meta. Ia tak menyangka Meta memata-matai dia.


"Kamu. Kemasi barang-barang mu. Segeralah pindah dari paviliun ini. Besok Pak Tio akan memilihkan paviliun kelas karyawan untuk kamu".


Ucap Bu Latifaa sambil beranjak pergi meninggalkan paviliun.


"Rasakan!" ucap Meta sambil mengikuti langkah Bu Latifaa


Rania lemas. Ia terduduk diantara rimbunnya aster. Bu Latifaa yang baru satu kali ia lihat saat workshop pembuatan kue yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi bekerjasama dengan PKK desa. Ternyata tak seramah waktu itu.


Padahal, Bu Latifaa adalah orang pertama yang memberikan nilai 500 atas kreasi Rania, yang mengantarkan Rania terpilih menjadi peserta terbaik, sehingga mendapat kesempatan untuk bekerja di Perusahaan kue terbaik di Jakarta itu.


Namun, malam ini Rania seperti melihat sosok yang berbeda Bu Latifaa menjelma seperti seorang yang kejam. Rania teringat pada sosok ibu Nani, mertuanya dulu. Ia terluka lagi. Terusir untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


__ADS_2