100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Sahabatku, maduku Bagian 3


__ADS_3

Di pengadilan, tindakan Lesmana dibenarkan. Ya, dibela karena ia berhak untuk mendapatkan keturunan. Benar karena ia telah bisa mendapatkan keturunan dari wanita lain.


Aku seperti dilucuti didepan publik sebagai wanita mandul. Aku gagal memberikan keturunan pada keluarga Harun. Tak ada satupun keluarga ku yang aku ajak untuk menyaksikan sidang perceraian ku. Tidak ayah ataupun ibuku. Sudah cukup aku mengecewakan mereka bahwa aku sebagai istri yang tidak becus mengurus rumah tangga. Aku mandul dan layak untuk diceraikan.


***


Hari ini adalah sidang putusan pengadilan. Aku memutuskan untuk tidak hadir lagi ke persidangan. Aku sudah sangat lemah. Aku sering merasakan halusinasi. Tidurpun tidak nyenyak.


Di kantor aku merasa tidak percaya diri untuk memimpin seperti biasanya. Banyak keputusan yang aku serahkan pada pelaksana tugas. Aku merasakan tidak bergairah untuk hidup. Cuti selama dua pekan, namun setelah dua pekan, aku justru semakin tidak berdaya untuk melanjutkan hidupku.


Berita perceraian ku telah sampai ke telinga para tetangga, keluarga, kerabat dan bahkan staf di kantor. Ada yang bersimpati menanyakan kabar, memberi support, namun tak sedikit yang justru ikut berpartisipasi menambah beban pikiran ini. Bagaimana tidak, postingan pernikahan Arkan dan Laila berseliweran di sosial media dan snap WhatsApp. Menyakitkannya, kerabat dekat yang ku anggap saudara sekalipun justru memberi ucapan selamat pada Lesmana.


Aku dalam keadaan yang lemah, masih berusaha untuk bangkit, meski tak ada satupun tiang untukku bersandar.


30 hari sejak perceraian diputuskan, aku kembali ke kantor dan melakukan aktivitas ku. Meski tak senormal biasanya. Kadang beberapa orang staf menegurku karena aku lebih banyak melamun. Untungnya, aku adalah pimpinan disana, sehingga banyak staf berhati malaikat yang membantu pekerjaanku. Mereka mengerti dengan keadaanku.


Suatu pagi, Dewi staf humas, datang ke ruangan ku memberi sebuah buletin mengenai kesehatan mental. Ia menunjukkan sebuah artikel yang ditulis oleh Rania Salsabila. Sebuah tulisan yang berjudul melewati 100 Hari Pertama Menjadi Janda. Disana dijelaskan bagaimana step by step cara menghadapi kehidupan pasca perceraian. Ada bagian yang sama dalam fase emosi seseorang yang bercerai.


Dari profil yang aku baca, Rania adalah salah satu pengurus harian LSM Sehati. Sebuah LSM yang menaungi banyak korban perceraian atau bahkan para istri yang mengalami KDRT, istri dalam masa pra dan pasca perceraian.


Dalam buletin yang ku baca, Rania mengutip sebuah pendapat dari seorang psikolog bernama Evi Sukmaningrum, M.Si, psikolog yang artikelnya juga termuat dalam situs pesona.co.id.


...Menurutnya, Bagaimana gejolak emosi pasca bercerai, tentu berbeda pada setiap orang. “Perceraian berkaitan dengan grieving, yaitu rasa kehilangan suatu relasi yang tadinya diharapkan menjadi sebuah relasi jangka panjang dan selamanya, tetapi kenyataannya, relasi tersebut harus diputus....


Seseorang menghayati perceraiannya dengan gejolak emosi yang berbeda-beda. Dan mengutip hasil riset Deborah Carr, wanita ternyata lebih depresif, cemas, dan tertekan setelah bercerai.


 


Ada tahapan-tahapan yang biasanya dialami oleh seseorang pasca bercerai. Namun, menurut Evi, tidak semua tahap itu pasti dialami.  


 


Tahap menyangkal 


Merasa seolah-olah tidak terjadi apa pun, hidupnya normal dan biasa saja. Ia sering menolak untuk mengakui bahwa perceraian itu terjadi. “Saya baik-baik saja,” atau “Perceraian ini memang sudah seharusnya terjadi.”


 


Tahap marah


Perasaan campur aduk antara takut dan luka yang diekspresikan dengan cara marah. Marah kepada diri sendiri karena merasa gagal, marah kepada mantan suami karena tidak mampu mempertahankan perkawinan, marah kepada anak, mertua, dan lain-lain.


 


Tahap tawar-menawar


Muncul rasa penyesalan karena sudah bercerai dan merasa bersalah karena membiarkan perceraian itu terjadi. Beberapa orang perlu mengekspresikannya dengan meminta kesempatan kedua atau rujuk kepada mantan pasangan.


 


Tahap depresi


Muncul dalam berbagai gejala, seperti sulit tidur, merasa sedih berkepanjangan, merasa tidak berharga, kehilangan selera makan, sangat sensitif terhadap masukan dari orang lain, atau memandang hidup dengan pesimistis.


 


Tahap penerimaan


Sejalan dengan tahapan-tahapan yang dilalui, orang akan melakukan refleksi mendalam terhadap perceraian yang sudah terjadi. Pada satu titik dia akan tiba pada tahap penerimaan sepenuhnya bahwa dia sudah bercerai dan menerima perceraian sebagai bagian dari masa lalunya. Pada tahap ini biasanya muncul keberanian untuk memulai lagi hidupnya dengan lembaran baru, mampu melihat masa depan dengan lebih bersemangat, dan memiliki energi untuk move on.


****


Rania pun tak lupa menuliskan mengenai apa yang harus dilakukan seorang wanita pasca perceraian. Aku membaca dengan seksama artikel pada bagian ini.

__ADS_1


Berikanlah waktu kepada diri untuk berduka


Tak satupun yang menikah pernah berpikir "Aku berharap kita bisa bercerai suatu hari nanti!". Bahkan, terlepas dari Anda menginginkannya atau tidak, perceraian pasti menyisakan kerugian.


Psikoterapis Florence Falk, PhD, MSW, mengatakan, " Meskipun pernikahan Anda berakhir dengan perceraian, adalah suatu hal yang wajar jika Anda menjadi sangat emosional menghadapi hal ini. Tak jarang Anda akan menyalahkan diri sendiri. Namun, jangan berkutat pada perasaan itu, tetapi berikan ruang untuk memahami rasa sedih yang Anda rasakan."


Jadi berikan kesempatan pada hati untuk memahami rasa kehilangan yang Anda hadapi.


Libatkan perasaan Anda


Jangan libatkan ketakutan Anda akan kegagalan hubungan di masa lalu untuk menjalani hidup yang baru. Cobalah untuk melewati masa krisis perasaan dengan menemui terapis atau alihkan aktifitas pada hal hal – hal yang membuat Anda bahagia


Temukan jati diri sendiri.


Ketika Anda mulai stabil secara emsoional dan berhenti memikirkan mantan suami, waktu, dan kenangan bersamanya. Perlahan pikiran Anda akan semakin terbuka terhadap peluang baru dalam hidup. 


Anda mungkin akan menjalin pertemanan yang baru, hobi yang baru, karir yang baru, kehidupan yang baru, dan tentunya diri Anda yang baru. 


Menemukan jati diri yang baru


Ketika Anda mulai stabil secara emsoional dan berhenti memikirkan mantan suami, waktu, dan kenangan bersamanya. Perlahan pikiran Anda akan semakin terbuka terhadap peluang baru dalam hidup.


Anda mungkin akan menjalin pertemanan yang baru, hobi yang baru, karir yang baru, kehidupan yang baru, dan tentunya diri Anda yang baru.


Bila Anda ingi menangis maka menangislah. Beri kesempatan pada diri Anda untuk berduka. Ini adalah bagian yang sangat penting dalam kehidupan setelah perceraian.




Lakukan terapi


Jika Anda masih belum bisa menerima segala perubahan emosi yang bergejolak dalam diri. Tak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog untuk membantu Anda melewati masa sulit pasca perceraian.




Setelah bercerai, cobalah untuk lebih memahami dan mengenali diri Anda sendiri. Jangan takut untuk mencoba hal baru.




Mulai berkencan




Anggap ini sebagai fase transisi sampai Anda mencapai hubungan yang lebih baru dan lebih memuaskan.


Cobalah berkencan dengan orang-orang di luar zona nyaman Anda dan lihat ke mana arahnya tanpa melakukan komitmen pada siapa pun atau apa pun.



Berjalan-jalan


Jangan mengurung diri Anda sendiri di rumah. Cobalah untuk pergi keluar dan berjalan-jalan.



Manjakan diri Anda dengan menonton bioskop, bergaul dengan teman-teman, dan menikmati hidup.

__ADS_1



Mencoba sesuatu yang baru


Bahagia setelah bercerai



Cobalah lakukan hal yang baru. Anda mungkin bisa belajar melukis, menjahit, bahkan membuat vlog.




Jangan terlalu banyak berpikir


Jangan memikirkan mantan suami Anda atau membicarakan tentang hal itu. Lebih baik, bicarakan tentang hal-hal yang lebih positif.




Bekerja


Bila sebelumnya Anda hanya dirumah dan bergantung pada gaji suami. Maka inilah saatnya Anda untuk mulai bekerja dan membangun karir.




Ini akan membantu Anda mempertahankan gaya hidup yang Anda inginkan.



Nikmati hidup sepuasnya


Bila Anda senang bermain video game, membaca buku, atau pergi ke taman hiburan. Maka lakukanlah



Lakukan apa yang Anda inginkan agar bisa selalu tersenyum, tertawa, dan bahagia.


***


Setelah membaca artikel tersebut, aku merasa ada energi baru dalam hidup. Namun tentu aku membutuhkan support sistem yang bisa memahami kondisiku saat ini. Yaitu, sebuah support sistem yang mengerti masalah yang ku hadapi, bukan ikut bersedih sepertiku, bukan juga yang menyalahkan ku.


Aku meminta ijin pada orang tuaku untuk berangkat ke LSM Sehati yang berkantor di Lumajang, tempat si penulis artikel tinggal. Alhamdulillah, keluargaku menyetujuinya. Pada prinsipnya, mereka ingin yang terbaik untukku. Dengan membiarkanku berada di circle orang-orang yang menyalahkan ku, akan membuat proses recovery pasca perceraian akan berlangsung lama. Sehingga orang tuaku mengijinkan aku untuk memulihkan kondisiku di tempat yang tepat. Bahkan mereka membekaliku dengan uang yang cukup banyak, hasil dari tabungan ibuku bertahun lamanya.


"pakailah untuk kesenanganmu. Tadinya ibu akan gunakan untuk ikhtiar kehamilan mu, tapi sudahlah. Kita pasrahkan pada Allah. Uang ini, gunakan untuk memulihkan kondisi mu saja".


Aku pun menerimanya. Entah ku gunakan untuk apa nanti. Memiliki uang yang cukup, membuat aku mudah untuk melakukan banyak hal tentunya.


Setelah menghubungi LSM Sehati. Aku pun bersiap untuk berangkat ke Kabupaten Lumajang. Sebuah kabupaten di Jawa Timur. Dimana Gunung Semeru adalah iconnya. Aku tak lupa mengurus cuti panjang, karena sakit psikologis. Begitu aku beralasan. Berani jujur, bahwa sakit bukan hanya yang berkaitan dengan fisik saja. Melainkan sakit yang menyerang kondisi psikologis pun tak bisa diabaikan begitu saja.


Disana aku mendaftar sebagai peserta yang mengikuti kegiatan pemulihan trauma pasca perceraian. Ada yang bersifat seperti rawat jalan, artinya klien yang datang hanya untuk konsultasi dengan Psikolog atau relawan. Namun, ada juga yang menginap disana, melakukan aktivitas bersama klien yang bernasib sama, dan berbagi saling menguatkan bersama mereka. Aku akan tinggal di asrama mereka untuk beberapa waktu, hingga aku bisa merasakan pulih dari lukaku.


****


Tepat 40 hari pasca perceraian, aku berangkat menuju Lumajang.


Berharap bisa menata hidup, untuk kehidupan lebih baik dimasa yang akan datang.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2