100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Ibu Masa Depan Untuk Aisyah (Habis)


__ADS_3

Sarah mengundang seluruh keluarga untuk berunding tentang rencana pemindahan rumah yang Anjar tempati. Semua keluarga setuju dan mendukung. Bahkan mereka meminta ijin kepada perangkat desa untuk melakukan eksekusi terhadap rumah yang baru ditempati beberapa tahun saja.


Sarah menguatkan hati dan mentalnya untuk menyaksikan eksekusi. Kepala desa yang selalu berusaha menginisiasi Sarah selalu gagal. Karena, Anjar pun selalu lari jika akan ditemui kepala desa. Maklumlah apa yang dilakukan Anjar, selalu menimbulkan kontroversi di masyarakat. Bahkan sebelum menikahi Lidya secara siri, Anjar telah kumpul kebo di rumah itu, sehingga para warga menggerebek dan mendesak mereka untuk segera menikah.


Sepekan kemudian, Sebuah Ekskavator telah bertengger di depan rumah Anjar. Seseorang telah mengemudikan dan siap memindahkan tiap bagian rumah milik Sarah yang bertengger diatas tanah milik Anjar. Ekskavator itu kemudian menghantam bagian tiang depan rumah sehingga tiang itu roboh.


Sang tuang rumah berlari kedepan mencari sumber suara kegaduhan. Alangkah terkejutnya ia melihat tiang bagian depan rumahnya hancur berkeping-keping.


Belum sempat Anjar berbicara. Seorang perempuan bertubuh padat berisi dan mengenakan hijab berwarna hitam muncul dari sebuah mobil dan menghampiri Anjar.


"Sarah, kamu sudah gila ya!, kamu mau rumah ini roboh?!!!!"


Ucap Anjar dengan raut wajah panik, dibelakang Sarah telah berjejer keluarga besarnya. Mulai dari bapak-bapak, om-om, Pak de, Bu de, Ayah, ibu bahkan kepala desa turut Sarah undang untuk menyaksikan pemindahan rumah itu.


"Aku tidak merobohkan rumah ini. Aku hanya memenuhi perintah kamu. Bahwa jika aku menolak di poligami, maka aku dipersilahkan mengambil rumah yang bertengger diatas tanah mu ini!!!"


Ucap Sarah sambil bertumpang tangan.


"Hah ...kamu...!!!"


Anjar mendekat, Keluarga Sarah ikut mendekati Anjar. Setiap langkah yang Anjar ambil, maka begitu juga dengan keluarganya. Mereka lengkap membawa celurit khas Madura dan parang. Tubuh Anjar bergetar. Nyalinya tiba-tiba buyar entah kemana.


"Beri aku waktu. Aku akan mengganti semua uang yang kamu keluarkan untuk rumah ini!!!"


Ucap Anjar. Suaranya mulai melemah.


Namun Sarah malah berdecik "Cuihhhhh!"

__ADS_1


pada lelaki yang telah memberinya seorang putri itu.


"Terlambat Anjar. Aku sudah tidak sudi menerima uang apapun dari mu. Aku hanya ingin mengambil rumah ini!!!"


Ucap Sarah berapi-api. Ia juga melihat perempuan bernama Lidya itu mulai keluar dari rumah dan ketakutan ketika melihat ekskavator sudah berada didepan rumah.


"Kalau begitu, ijinkan aku mengosongkan rumah ini terlebih dahulu!"


Namun sayang, ekskavator itu sudah lebih dulu mendekat dan meruntuhkan setiap bangunan rumah yang kokoh dan paling megah diantara rumah di desa itu. Rumah itu roboh, beserta dengan mobil yang terparkir dibagian garasi dan tak sempat lagi diamankan, karena sasaran pertama dari rumah itu adalah garasi dan mobil.


Bangunan itu cukup kokoh karena menggunakan material yang berstandar. Pasirnya didatangkan langsung dari wilayah Lumajang, Jawa Timur, karena wilayah ini memiliki kualitas pasir nomer satu di Indonesia, yaitu pasir besi.


Sarah menahan air matanya tak kala melihat hasil jerih payahnya terbuang sia-sia. Namun, baginya tentu lebih menyakitkan melihat rumah ini dihuni oleh nyonya rumah yang lain.


Mertua Sarah berteriak histeris memohon kebaikan hati Sarah. Namun, luka yang terlanjur tertoreh tak bisa ada obatnya lagi. Seharusnya, sang mertua memohon maaf sebelum ekskavator itu datang, mungkin hati Sarah akan sedikit luluh. Namun nyatanya, ia sebelumnya malah membela kelakuan anaknya.


Sebenarnya, kepala desa telah berkali-kali menginisiasi mereka. Namun, Anjar selalu menghindar. Anjar menganggap bahwa Sarah tak bisa berbuat apa-apa, karena sertifikat rumah itu miliknya. Ia menganggap Sarah perempuan penakut yang selalu akan tunduk pada apa yang Anjar ucapkan. Namun, beratnya sakit hati telah mengubah segalanya.


***


Ekskavator itu telah menyelesaikan tugasnya. Sarah segera kembali ke mobil yang ia beli beberapa hari lalu. Tak ada kekerasan disana. Karena semua pihak, selain keluarga inti Anjar, memihak pada Sarah. Mereka semua tau kelakuan Anjar yang terkenal sombong dan doyan foya-foya.


Hanya karena ia telah kaya, ia sering merendahkan para tetangganya yang hanya bekerja sebagai buruh harian lepas di sebuah tambak ikan dan pabrik kerupuk. Ia juga sering pamer mobil dan uang. Bahkan, Anjar sengaja membunyikan musik dengan salon dengan volume yang sangat besar, sehingga mengganggu tetangga lainnya.


Kini, rumah Anjar telah rata dengan tanah. Mereka terpaksa mengungsi di rumah kerabatnya. Karena memang tak memiliki apa-apa. Perlahan mereka menjual rongsokan bekas perabotan yang tertimpa reruntuhan untuk bisa bertahan hidup.


Lidya meninggalkan Anjar dan kembali ke rumah orang tuanya. Sedangkan sang mertua terpaksa menjadi pembantu rumah tangga tinggal dalam di sebuah perumahan yang berada di kecamatan itu untuk dapat bertahan hidup.

__ADS_1


Anjar yang notabene lama tidak bekerja, akhirnya hanya lintas Lantung di sekitar desa. Kadang ia menjadi buruh serabutan untuk bisa makan dan tinggal di sebuah tempat kecil di musholla dekat rumahnya.


***


Sarah, mencoba mengikhlaskan semuanya. Ia memilih untuk fokus pada ekonomi keluarga dan anaknya.


Dengan sisa tabungan yang ada, ia membeli sebuah mobil dan rak kaca yang bisa ia letakkan di bagian belakang mobilnya. Kemudian, ia membeli beberapa peralatan catering dan membuat banner.


Sarah membuka warung makan seperti yang pernah ia jalankan sebelumnya. Bedanya, kali ini ia membuka warung keliling. Setiap pagi, Sarah akan mengantar anaknya sekolah dan mangkal sebentar disana. Pelanggannya adalah para ibu-ibu pengantar anak sekolah. Setelah itu barulah Sarah mangkal di depan pabrik. Pelanggannya disana adalah karyawan pabrik yang hendak masuk dan keluar pabrik, karena pabrik tersebut memberlakukan sistem kerja sift.


Menjelang sore, Sarah akan berpindah lokasi ke sebuah alun-alun yang ramai pengunjung. Disanalah makanan yang dijajakan Sarah selalu habis. Karena Sarah memiliki Oven Portable yang bisa ia gunakan untuk menghangatkan makanan.


Sebulan berjalan Sarah telah mampu kembali modal. Sebab, banyak yang memesan makanan yang Sarah buat untuk acara-acara catering. Mereka menyukai menu-menu Sarah yang merupakan menu yang biasa ia buat di restoran hotel di Malaysia.


Sarah juga mulai melakukan branding. Seorang sepupu membantunya untuk berjualan, sehingga Sarah bisa fokus pada pengembangan bisnis. Sarah mencoba membekukan makanan-makanan yang ia buat. Kemudian jadilah menu baru yaitu Kare ayam Frozen, roti Jala Frozen dan lainnya.


Usaha Sarah terbilang sukses dan memiliki 10 member friendchise.


Ia sukses dengan kerja kerasnya, ia ganti waktu yang dulu banyak hilang bersama anaknya. Sarah menginvestasikan dana hasil bisnisnya untuk pendidikan anaknya. Ia tidak mau anaknya merasakan getirnya menjadi perempuan dengan pendidikan yang sangat minim. Jangan sampai Aisyah mengecap rasa pahit kehidupan pernikahan dini dan poligami. Cukup dirinya saja.


Aisyah tumbuh behagia dibawah pengasuhan ibunya. Ia menjadi anak berprestasi yang dibanggakan, Karena berhasil menjuarai lomba Kompetisi Science Nasional yang diadakan Kementrian Agama.


"Aisyah...inilah mimpiku, menjadi ibumu seutuhnya, dan melihat tiap prestasi yang kau torehkan di dunia". Gumam Sarah.


Selesai...


ikuti Cerita selanjutnya ya😊🙏

__ADS_1


__ADS_2