100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bagian 51 /100 Hari yang terlampaui


__ADS_3

Udara dingin di pagi hari menyegarkan pikiran dan raga. Alam nan indah menyapa jiwa-jiwa yang bahagia. Ada deretan kebun pisang bertatap sejauh mata memandang. Juga hamparan sawah yang menjadi permadani. di sebelah timur, nampak dari ketinggian suasana kota Lumajang yang akan gemerlap dengan lampu di malam hari. Sungguh indah...


Rania merasa ada ketenangan jiwa yang ia temukan di tempat ini. Entah mengapa, meskipun ia baru menginjakkan kaki di kota pisang, namun ia sudah mampu menilai bahwa disinilah awal dari segala kebaikan itu. Awal dimana ia bisa menjadi jiwa yang baru.


Rania bersyukur menemukan tempat ini. Di Lumajang, anak-anak mudah beradaptasi. Setiap pagi, anak-anak akan berangkat ke sekolah dengan sepeda, dan di sore hari, mereka akan pergi ke langgar, nama lain dari musholla.


Di sela-sela aktivitas, anak-anak akan ikut Jean untuk menyiapkan kandang, tempat untuk kambing. Ya, Jean akan memelihara beberapa kambing peranakan etawa. Kambing etawa Senduro sangat terkenal dengan kualitas susunya. Jean telah menyiapkan sebuah pabrik kecil untuk mengolah susu kambing menjadi bubuk susu agar bisa dijual ke luar daerah.


Sementara, Rania akan sibuk membantu Jean dalam hal perijinan dan legalitas usaha. Rania juga membantu Jean dalam membangun usaha resto yang berkonsep taman bermain. Pengunjung bisa merasakan menu masakan lezat, aneka makanan dan olahan dari susu kambing, sambil menikmati langsung proses pengambilan susu dari kambingnya.


***


Sepekan berlalu. Sebuah resto telah berdiri. Rania membuat menu khas dari restonya yaitu milk shake strobery yogurt dan ayam asap. Rania yang telah mahir dalam fotografi mengunggah foto menu masakan dan penampakan restonya di Instagram.


Alhasil, dalam waktu kurang dari sepekan, resto yang diberi nama Taman Seribu Bintang itu ramai dibanjiri pengunjung. Lokasi resto yang berada di puncak desa Senduro dengan view menghadap ke kota Lumajang sangat terlihat indah di malam hari. Gemerlap lampu kota, nampak memanjakan mata.


Rania menata kursi-kursi dan meja tepat dibawah langit. Sebab atap resto itu hanya di tutup rooftop transparan.


***


Malam itu, Rania tengah sibuk untuk menyiapkan hidangan. Pengunjung di akhir pekan cukup ramai. Rania dan Jean bahu membahu untuk melayani setiap pengunjung yang datang. Mereka belum memiliki karyawan. Resto ini baru saja dibuka, dan Jean meminta Rania untuk meminimalisir pengeluaran agar cash flow tetap baik.


Semakin malam pengunjung semakin banyak. Rania terlihat kewalahan saat memasak. Sementara Jean juga sangat sibuk melayani pesanan dan kasir. Resto baru tutup jam 23.30.


"Rania...aku bantu"


Ucap Jean yang tiba-tiba hadir di samping Rania yang sedang mencuci piring.


"oh ....ya terimakasih"


Merekapun melakukan tugas secara bersama.


***


"Rania, aku telah menghitung omzet kita pekan ini"


Ucap Jean ketika mereka baru selesai melakukan tugas mencuci dan merapikan resto, agar esok pagi mereka siap menyambut pelanggan baru.

__ADS_1


"oh ya..."


gumam Rania yang tengah bersiap untuk pulang.


"ini... lima juta dalam sepekan untuk labanya saja!"


Rania terperanjat melihat nominalnya. Itu merupakan pencapaian diatas target. Karena mereka hanya menargetkan omzet sebesar tiga juta saja per pekan.


"Omzet terbesar adalah dari milk shake dan both foto!"


ya Rania memasang beberapa both foto, ada yang berbayar dan ada yang gratis. Rania sangat memikirkan konsep ini. Ia mempelajari ilmu marketing ini dari sebuah seminar yang pernah ia ikuti. Bahwa dalam satu tempat usaha, maka kita bisa memaksimalkan setiap space di tempat kita untuk menjadi potensi uang. Nah, Rania melihat ada satu spot foto di area restonya yang sangat bagus. Tempat itu menghadap ke hamparan langit luas dan Rania membuat beberapa rumah miniatur ala Jepang dan Korea, pengunjung bisa menyewa pakaian adat Korea dan Jepang, dan ber swa foto di miniatur rumah adat Jepang dan Korea itu. Hanya butuh satu atau dua bulan untuk mengembalikan modal pembuatan miniatur rumah dan membeli pakaian. Setelah itu, menjadi pasif income.


***


"Jean..."


"ya Rania..."


"aku merasa beruntung hidup di sini. Aku seperti melepaskan beban masa laluku yang selalu menghantui pikiran".


Rania menghela nafas...


Jean sangat mengkhawatirkan anak-anak Rania. Bagaimanapun ia tau bahwa anak-anak dulu sering bertanya tentang papa mereka. Meskipun tinggal dalam lingkungan yang sama, namun Rania dan Jean tidak tinggal serumah. Jean menghabiskan waktunya di Pabrik, sedangkan Rania tinggal bersama mbok Siti.


"Itu dia Jean... anak-anak tak lagi menanyakan tentang Papa mereka. Aku juga tak mengerti alasannya".


Diam sesaat...


" Mungkin karena saat ini anak-anak lebih banyak aktivitas, dari sekolah, bermain dan sore hingga malam ditutup dengan mengaji. Sehingga tak ada kesempatan mereka untuk memikirkan hal lain selain aktivitas mereka sendiri".


Jean mencoba menjelaskan pada Rania.


"Ya...mungkin karena itu Jean".


Rania tersenyum lega.


"Ambillah ini...pasti keuanganmu sudah sangat tipis"

__ADS_1


Ucap Jean sambil menyodorkan uang sebesar dua juta rupiah.


"Uang modal darimu yang sepuluh juta masih ada Jean..."


Rania memang dimodali untuk belanja keperluan resto sebanyak sepuluh juta. Rania sangat berhati-hati dalam menggunakan uang tersebut. Perjanjiannya, Rania akan digaji setiap pekan sebesar satu juta rupiah. Uang sejumlah itu terlihat sedikit ketika berada di Jakarta, namun ternyata nominal itu cukup besar ketika berada di Lumajang, sebab harga kebutuhan pokok terutama sayuran sangat terjangkau.


"Kalau begitu, simpanlah uang ini untuk persiapan pernikahan kita!"


Deg....jantung Rania seolah berhenti berdetak. Rania menatap lekat mata Jean.


"Rania, telah tiba waktunya. Kamu telah melewati masa Iddah mu".


Rania terdiam. Ia baru ingat, bahwa hari itu adalah tepat 100 hari ia menjadi janda.


"Jean. Kita bicarakan nanti ya...aku ingin istirahat"


Ucap Rania sambil beranjak meninggalkan Jean.


Jean hanya mampu diam, memandangi punggung Rania yang perlahan menjauh dan terus menjauh.


"Perempuan yang sulit ditaklukkan!"


Gumam Jean


***


Dalam hati yang terdalam Rania. Tentu ada rasa rindu terhadap sosok seorang suami. Namun sisi lainnya, tidak mudah baginya membuka hati untuk yang baru. Mengingat trauma akan sebuah perjalanan pernikahan. Rania masih butuh waktu untuk membuka lembaran baru pernikahan. Mengingat ia baru saja bangkit dari sebuah keterpurukan hidup dan bayangan masa lalu.


***


Malam itu ia tak bisa tidur. Ia pun baru menyadari bahwa 100 hari pertama menjadi janda terlewati sudah.


Beratnya masa pencarian jati diri baru, keterpurukan ekonomi hingga berkali-kali pindah tempat tinggal, dipisahkan dari anak-anak, perjuangan hak asuh, dan ketegaran menata diri untuk menjadi pribadi yang baru ternyata mampu ia lewati. Benar nasehat dari ayah Malik,


"Berdirilah,..bangkitlah hai anakku. Ingat kembali saat kau belajar berjalan. Kau jatuh, bangkit lagi, terluka tapi kau tetap berusaha, kau tangguh, dan kau akhirnya mampu berjalan, selangkah, dua langkah, hingga kau mencapai ku, memelukku, aku menjadi tujuanmu saat itu. Maka, tentukan segera, apa yang menjadi tujuanmu saat ini".


Bersambung....

__ADS_1


Maaf readers 2 hari off karena puasa pertama banyak acara desa... Alhamdulillah tradisi di desaku sebelum ramadhan adalah masak-masak dan makan bersama di langgar ❤️🤗 kalau tradisi di desamu apa?


Jangan lupa like, comment dan fav ya...see you at the next part ❤️


__ADS_2