100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bagian 94: Aku Mencintaimu, Om. Bagian 2


__ADS_3

Pintu kamar diketuk dengan kencang. Sesaat tak ada jawaban, tak ada yang membukakan pintu. Sari tak menyerah, ia terus berusaha untuk mengetuk pintu. Hingga beberapa tamu hotel memperhatikannya. Kamar sebelah membuka pintu, mencari tau siapa yang tengah mengetuk pintu dengan paksa.


Pintu dibuka oleh sosok perempuan muda. Mengenakan kimono dengan rambutnya yang basah.


"iya, ada yang bisa saya bantu?"


Ucap perempuan lugu itu. Dia masih berpikir bahwa sari yang masih mengenakan blazer adalah seorang pegawai hotel yang sedang bertugas, atau ia pikir Sari adalah cleaning service hotel. Entahlah, Sari menahan geram menunggu seseorang untuk menampakkan batang hidungnya.


"Apakah kamu bersama Pak Arkan?"


Tanya Sari dengan nada menginterogasi, tentu membuat perempuan yang ada dihadapannya itu menjadi serba salah.


Orang ini mengenal teman ranjangnya. Tentu ia tau bahwa dirinya belum menjadi istri sah Arkan. Gumam Defi.


Tak berselang lama, Arkan menampakkan diri keluar dari kamar mandi hotel hanya mengenakan sehelai handuk saja.


Bak sesosok macan, Sari meringsek masuk kedalam ruang kamar hotel bintang tiga itu, kemudian berteriak mencaci maki suaminya itu. Handuk ditarik paksa oleh Sari, tanpa sempat melawan, Arkan yang telanjang bulat mencoba melindungi alat vitalnya dari mata-mata yang melihat aksi beringas Sari. Hanya dalam hitungan detik, tubuh Arkan yang kekar telah dipenuhi oleh bekas-bekas cakaran. Belum puas. Ia kemudian menjambak rambut Defi yang hanya bisa menangis sedari tadi.


Setalah dipisahkan oleh security hotel, barulah Sari bisa diam. Namun, ia mengancam akan melanjutkan aksinya itu diluar.


Sari menuruni basemant hotel. Mencari mobil milik Arkan. 4 ban mobil itu berhasil dibocorkan oleh Sari. Kaca mobil pecah dan bebe rapa bagian mobil penyok. Sari sangat memastikan bahwa Arkan tidak bisa pulang dengan tenang, karena Vidio telanjangnya dengan perempuan bernama Defi telah berhasil disimpan oleh Elen, sahabat yang turut menyaksikan Arkan. Jika ia akan dilaporkan oleh Arkan atas aksi pengerusakan, maka aksi perselingkuhan dan perzinahan pun akan turut ia laporkan.


Sari bukan istri yang lemah. Ia cukup pintar memainkan ritme masalah yang dihadapinya. Ia sebenarnya tipe istri penurut, namun bisa menjadi garang ketika disakiti.


***


Tanpa butuh waktu lama, Sari telah mengajukan gugatan perceraian. Vidio yang disimpan Elen menjadi penguat dan membuat Arkan kalah telak dipersidangan. Sari berhasil mendapatkan Gono gini atas harta bersama.


Setelah perceraian, sari tidak ingin berhenti begit saja, melupakan rumah tangga dan pelik yang dijalaninya. Dengan sangat optimis ia menjadikan Defi menjadi objek observasinya, penelitian, kemudian akan dijadikan real tulisan ilmiah berbau psikologi.


Rasakan, kau sudah bermain-main dengan orang Psikologi!


***


Agar penelitiannya menghasilkan sebuah fakta yang konkrit dan objektif, Sari menggandeng beberapa sahabat yang berprofesi sama dengannya. Tujuan mereka 1, andai dibuat menjadi judul skripsi bisa jadi judulnya adalah


"Motivasi Wanita Usia Dewasa Dalam Pengambilan Keputusan Menikah Dengan Duda Kaya"


Jihan, salah seorang tim Psikolog yang ikut dalam tim penelitian ini nyeletuk sekenanya. Sudah lama mereka tidak melakukan sosial eksperimen atau penelitian ilmiah. Kali ini, mereka melakukan penelitian ilmiah yang dipadukan dengan sosial eksperimen yang nantinya hasilnya akan memuaskan rasa penasaran emak-emak yang hati suaminya digondol pelakor muda nan belia, berusia remaja, dan cantik jelita, mengharap belas kasih sugar Daddy kaya nan jutawan, lagi dermawan, seperti Om Arkan, agh....


Amarah yang bercampur gelak tawa bercampur aduk dalam sanubari Sari. Ia sangat bersemangat, bersemangat untuk bangkit, mengalahkan rasa pedihnya setelah perceraian. Meski dibalik itu, ia harus berusaha meredakan tangis anak bungsunya yang merindukan punggung ayahnya. Sejuta tanya dari anak sulungnya yang penasaran, mengapa ayah tak kunjung pulang, mengapa mama menangis setiap malam. Mengapa foto Papa tak lagi digantung di dinding. Mengapa mama menghindar saat Papa menelpon, mengapa ma, mengapa ini, mengapa jadi begini...


Deru waktu memacu adrenalin. Sari mencoba mencari keberadaan Defi yang mulai menghindarinya. Bahkan perempuan itu resign dari tempatnya bekerja, begitu juga dengan Arkan.


Sosial media Difa hilang, tanpa foto profil dan di privat. Meski begitu, Sari masih sempat menyimpan beberapa foto milik Defi.


Jangan main-main dengan seorang Psikolog, mungkin begitu pikir Sari yang sangat berapi-api. Ia tak gentar untuk mencari informasi mengenai Defi.


Melalui akun Facebook yang lama tidak ia gunakan lagi, Sari berhasil mencari tau alamat rumah Defi. Dalam akun itu, lengkap Defi mengunggah foto keluarga saat lebaran bersama, lokasi depan rumah, nama perumahan, dan bahkan beberapa tag saudara-saudaranya.


Fix, masuk perangkap!


Dengan gegap gempita, Sari dan dua orang temannya menuju alamat rumah yang dimaksud.


***


"Sar, kamu harus tetap bersikap profesional. Sebenarnya kalau niat kamu lurus, kita tinggal pakai subjek penelitian lain saja bisa. Toh sepetinya sama hasilnya".


Ucap Lastri sambil mengemudikan kendaraan menuju rumah Defi.


"Ya, memang sama. Namun, aku ingin mencari alasan perempuan ini mau menjadi pelampiasan nafsu Arkan. Dari sini, aku bisa melihat berbagai alibi dari para audiens nanti dan mengaitkan dengan alibi yang dibuat Defi nanti. Intinya, tuh cewek-cewek lain gak bakalan bisa bohong ngeles ini itu, karena aku bakal membuat Defi bicara jujur!"


Ucap Sari berapi-api. Antara semangat juga marah, sama-sama butuh adrenalin yang tinggi.


"Dari dulu, gak ada yang bisa mematahkan hipotesa Lo ya non!"


Celetuk Ellen yang sibuk dengan game online yang tengah dimainkannya.


***


"Sar, coba lihat di foto itu, sama gak warna cat rumahnya sama rumah ini?"


Tanya Lastri yang tiba-tiba menghentikan laju kendaraannya. Ellen segera menutup permainan game online nya dan fokus membantu Lastri dan Sari mencari alamat yang dimaksud.


"Foto itu diunggah lima tahun yang lalu. Ada kemungkinan sudah dicat ulang dengan warna yang berbeda. Ada beberapa bagian yang mungkin bisa kita jadikan acuan untuk memastikan apakah ini rumah Difa atau bukan. Pertama, bentuk bangunan, dan emmmm tanya tetangga paling enteng!"


Ucap Ellen yang bekerja sebagai tim penyidik di Polres.


"Oke. Kita telisik dulu bentuk bangunan. Fix sama!".

__ADS_1


Ucap Sari.


Lastri memarkirkan mobilnya diseberang rumah yang dikenali sebagai rumah Defi. Kebetulan ada tukang sate yang sedang mangkal disana. Merek memutuskan untuk makan sate terlebih dahulu, sambil mengawasi rumah itu. Rumah yang lokasinya tak jauh dari Pasar Ungaran, sebuah wilayah di kota Semarang.


Ketika mereka sedang asyik menyantap sate. Tiba-tiba Defi keluar dari rumah dengan mengendarai sepeda motor tanpa helm.


Dari penampilannya, tentu menunjukkan bahwa Defi tidak akan keluar dalam waktu lama.


***


Sari segera mengajak dua rekannya untuk masuk ke rumah. Sebelumnya, mereka telah merancang sesuatu yang akan mereka lakukan ketika berada di rumah Defi.


Sari membunyikan bel yang terpasang dibagian pagar rumah itu. Tak butuh waktu lama, seorang perempuan paruh baya membukakan pintu.


"Assalamualaikum, Tante, perkenalkan kami teman Defi".


Sekilas perempuan itu sedikit berpikir sambil mengingat-ingat apakah Defi punya teman yang usianya jauh lebih dewasa darinya. Maklum, penampilan dan wajah Sari dan teman-teman memang telah menunjukkan aura emak-emak beranak. Namun, untuk menghormati tamu, perempuan yang diduga sebagai ibu dari Defi mempersilahkan mereka bertiga untuk masuk dan duduk disebuah sofa yang ada di rumahnya.


Mata sari menerawang ke seluruh ruang itu. Bingkai foto wisuda Defi, foto masa kecilnya, terlihat bahwa Defi adalah anak baik-baik dari keluarga baik-baik.


Defi berusaha bersikap tenang. Meski nafasnya naik turun mengguncang dada. Sesak mulai meringsek masuk memenuhi dada, saat sepeda sebuah sepeda motor memasuki pagar.


Defi datang!


"Def, ini ada temannya datang"


Ucap ibunya yang menyambut Defi dari balik pintu.


Tanpa curiga Defi pun masuk kedalam rumah. Memperhatikan satu persatu tamu yang malam itu singgah ke rumahnya.


Deg...wajah Sari dan Elen tentu tak asing baginya.


***


Wajah Sari memucat, tepatnya pucat pasi. Ia terduduk kasar di salah satu sudut sofa. Ibunda Defi tak menyadari perilaku Defi. Ia hanya menyuguhkan 3 cangkir teh, kemudian mempersilahkan tiga orang tamunya untuk minum. Ia kemudian berlalu kembali ke ruang tengah rumah itu, bergabung bersama suami dan dia anak lainnya.


***


"Kamu tidak perlu lari, Def. Aku tak akan menjambak rambut kamu kali ini".


Ucap Sari dengan suara lirih namun sangat menusuk tajam.


Ucap Lastri.


"Tenang, rahasia mu akan kami simpan".


Imbuh Ellen sambil menarik ponsel dari genggaman Defi.


Fix, Defi tak bisa meminta tolong pada siapapun. Ingin berteriak pun tak bisa, karena jika itu sampai terjadi, Sari akan segera membongkar kelakuan anak gadis di dalam hotel.


"Katakan apa yang kalian inginkan?!"


Tanya Defi lirih. Suaranya nyaris tak terdengar, mungkin karena ia takut suaranya terdengar oleh ibunya dan membuat ibunya curiga.


Keringat dingin terlihat mengucur di kening perempuan berwajah semi oriental itu.


Sari tersenyum sinis.


"Carikan tempat disudut rumahmu ini yang kamu anggap aman untuk kita berbincang".


Ucap Ellen.


Defi kemudian mengajak mereka bertiga menuju ke lantai dua rumahnya. Ada sebuah balkon disana. Defi mempersilahkan mereka duduk dibangku yang ada di balkon.


"Katakan, aku harus memalukan apa. Asalkan jangan kalian bongkar aibku didepan keluargaku. Aku tak sanggup melihat ibuku menderita!"


Ucap Defi memelas. Air matanya mulai mengalir dan memenuhi wajahnya.


"Kalau kamu tak sanggup melihat ibumu menderita, mengapa kamu menyakitinya dibelakang?!"


Ucap Ellen.


"Sebagai anak berbakti, ada atau tak ada ibu, kamu wajib mematuhi aturannya, anak cantik!"


Sindir Lastri.


"To the point saja Def. Aku ingin bertanya, mengapa kamu mau berhubungan dengan mas Arkan yang notabene adalah suami orang?!"


Tanya Sari dengan wajah dingin.

__ADS_1


Defi terdiam sesaat. Wajahnya menunduk.


"Demi Tuhan, mas Arkan mengaku jika dirinya tengah sendiri. Telah berpisah dengan istri, karena ia tidak sanggup memenuhi tuntutan istrinya".


"Tuntutan apa?"


Tanya Ellen menyanggah.


"Tuntutan belanja, gaya hidup dan tekanan lainnya. Macam-macam, kadang ia bercerita istrinya tak pandai menjaga penampilan didepan suami".


Hati Sari mulai geram. Namun ia tetap menjaga sikap. Ada banyak hal yang ingin ia kupas dari perempuan yang ada dihadapannya itu. Sehingga, ia tak ingin kacau karena emosi. Momentum seperti ini sulit dicari!


"Mas mengatakan kalau mba Sari cerewet dan sering mengatur-atur mas Arkan. Mba Sari juga sangat galak terhadap dia dan anak-anak, bahkan terhadap mertua, mba Sari sering pelit!"


Mendengar itu, rasanya ia ingin melempar perempuan yang ada dihadapannya itu ke lantai 1. Dengan tidak ada rasa segan ia bercerita didepan Sari. Dia lugu, jujur, setengah tak ada akhlak, karena tak pandai merangkai kata untuk menjaga perasaan orang.


"Okey. Aku hargai kejujuran kamu, Def!".


Sari menghela nafas. Ellen sudah sangat geram. Namun, ia ingat tujuan awal mereka kesini.


"Lalu, dengan alasan itu membuat kamu langsung mau?, sure?!"


Tanya Sari dengan tenang.


Defi terdiam.


"Mas Arkan orangnya baik. Dia selalu membantu kesulitan ku. Baik dalam pekerjaan maupun dalam urusan ekonomi. Dia membantu pengobatan mama dan memberiku uang jajan".


Ucap Defi lirih.


"Kamu tau gak, Def. Uang jajan anak-anak saya yang kamu pakai buat jajan!"


Sindir Sari. Jika sudah terkait ini, hati Sari terasa sakit. Karena semenjak ada Defi, Arkan jarang sekali memberi uang belanja, apalagi uang jajan untuk anak-anaknya.


Sari kembali mencoba tenang.


"Hanya itu alasanmu?!"


Tanya Lastri yang mendekatkan wajahnya pada gadis lugu itu.


"Siapa yang tidak luluh, jika rayunya seribu bahasa. Siapa yang tidak ingin menikah dengan laki-laki yang sudah mapan, dan selalu diberi hadiah. Aku telah gagal beberapa kali dalam percintaan. Sedangkan Mas Arkan adalah sosok laki-laki yang dewasa. Dia bahkan sangat baik pada keluargaku!"


Ucap Defi sambil *******-***** jemarinya.


"Kalau dia baik menurut kamu, mengapa dia tidak menikahi kamu saja, alih-alih mengambil keperawanan kamu?"


Defi terdiam, kemudian menangis sesenggukan.


"Oh ya...sesi bertanya aku sudahi dulu. Aku ingin konfirmasi bahwa aku telah memiliki anak yang keduanya hanya berjarak dua tahun saja. Coba kamu tanyakan pada ibumu, bagaimana merawat dua anak yang masih balita, sekaligus mencari nafkah, karena suaminya jarang memberikan nafkah, dan ibu mertuanya sangat haus akan harta".


Sari mulai tak mampu mengontrol emosi. Suaranya mulai serak. Sisi kewanitaannya muncul, menggantikan sikap profesionalisme-nya sebagai seorang Psikolog.


"Aku paham bahwa kamu, Defi, belum pernah merasakan menikah, menanggung beban kebutuhan rumah tangga, dan menghadapi suami yang menuntut perfect terhadap istrinya. Kamu tak pernah mau tau bagaimana sisi kehidupan rumah tangga yang tak hanya tentang rasa cinta saja!"


Sari mulai berbicara sambil menangis. Suaranya terdengar sangat berat.


"Sesekali kamu harus bertanya pada ibumu, bagaimana caranya melalui kehidupan rumah tangga. Agar kamu bisa menghargai peran seorang ibu dan juga istri. Juga menghargai bagaimana ia selalu memprioritaskan kebutuhan suami dan anak-anak dibandingkan dirinya sendiri. Bagaimana cara seorang menantu bersikap imbang, sedangkan ibu mertua dan ipar selalu ikut campur".


Hati Sari semakin sesak. Ia selama ini selalu defense menutupi perasaan hancurnya. Namun, malam ini ia ingin jujur dengan perasaannya. Ia ingin Defi tau betapa ia menahan sakit akan apa yang dilakukan Defi dengan suaminya.


"Defi, kamu juga harus bertanya pada ibumu, bagaimana rasanya jika suami kita berselingkuh, atau minimal dekat dengan perempuan lain. Padahal kita telah melakukan banyak hal yang terbaik untuk suaminya itu. Kamu harus tau, Defi!"


Defi merasa tersudut. Ia tak pernah menyangka mendapatkan pertanyaan yang tak pernah ia paham sebelumnya. Usianya masih terlalu muda untuk menjangkau pemikiran itu? Sepertinya tidak!


Hanya saja, segala pemikiran itu tertutup oleh bujuk rayu Arkan. Pesona Arkan dan motivasi untuk hidup bahagia dengan pria mapan.


Defi hanya menerima Arkan, dan Arkan telah menjadikannya ratu. Arkan bahkan tak pernah sekalipun membentak Defi. Ia perlakukan Defi bak seorang ratu.


Sari cemburu...


Meskipun ia tak lagi menjadi bagian dari kehidupan Arkan.


Sungguh ia ingin menjadi seperti yang Arkan mau.


Tapi mengapa Arkan tak membimbingnya untuk menjadi yang ia mau?


Bersambung....


Dear readers, ikuti terus ya kisah tentang "Aku Mencintaimu, Om" di part selanjutnya ya ..

__ADS_1


Jangan lupa like, comment dan favorit nya ya🤗 See you at the next part 😍🙏


__ADS_2