
Gemercik hujan membasahi sudut kota Jakarta. Langitnya berwarna abu-abu tua. Gelap. Aroma seperti puntung rokok menjadi ciri khas bila Jakarta diguyur hujan. Sedikit dingin.
Kehidupan Jakarta yang keras dan menantang, menuntut kaum urban untuk selalu berpikir, bekerja, dan bersaing untuk menjadi juara bertahan ditengah persaingan sumber daya manusia.
Hari menjelang petang, Rania bersiap untuk pulang. Zidan dan Azka tengah menikmati aneka jajanan jatah karyawan. Rejeki untuk Azka dan Zidan, karena mereka diijinkan untuk ikut ke tempat Rania bekerja. Sepulang sekolah, Rania akan menjemput mereka dan mengajak mereka ke ruang kerja Rania. Ada sebuah ruang kosong yang cukup luas, ditata sedemikian rupa agar nyaman untuk anak-anak bermain. Jika sore menjelang, anak-anak akan turun ke area parkiran dan menghabiskan waktu untuk bermain bola, sampai Rania menjemput untuk pulang.
Rania beruntung memiliki anak-anak yang hebat dan mandiri. Mereka tidak pernah merepotkan Rania. Sebagai tulang punggung, Rania harus membagi waktu dan perhatiannya antara mencari nafkah dan mengurus anak-anak.
Rania hendak menuruni anak tangga ketika melihat Jean tengah memasukkan beberapa barang yang ada di ruangannya. Terlihat memasukkannya ke dalam sebuah kardus.
"Jean...ada yang bisa aku bantu?"
Jean terhenyak
"Oh...Rania...iya..bisa bantu ?"
Rania mengangguk dan berjalan menuju ruangan Jean.
Selain beberapa barang, ada beberapa dokumen yang turut dimasukkan kedalam kardus.
"Mau dibawa kemana file-file ini Jean?"
Jean diam sejenak. Melihat file yang dimaksud Rania.
"Sudah ada yang akan membeli sebagian saham Latifaa group, termasuk cafe. Jadi, file-file ini akan pindah tangan ke tuan yang baru, Rania"
Ucap Jean kemudian meneruskan pekerjaannya.
"Jean..."
"Ya..."
Rania terdiam, kemudian menunduk.
"Apakah bakery juga akan kamu jual?"
Jean tidak menyadari ekspresi Rania.
"Tergantung. Jika saya mampu untuk memulihkan kondisi pasar, saya tidak akan lepaskan".
Jawab Jean masih belum memperhatikan Rania.
"Aku sangat mengkhawatirkan diriku sendiri"
Suara Rania mulai serak
Jean mulai menyadari, kemudian menatap Rania.
"Apa yang kamu khawatirkan Rania?"
"Kondisi ekonomi jika aku harus angkat kaki dari perusahaan ini"
Rania mulai menangis. Kekhawatiran yang selama ini hanya menjadi miliknya akhirnya ia utarakan kepada Jean.
Jean tertegun. Kemudian ia mendekati Rania.
__ADS_1
"Jangan khawatir terlalu berlebihan Rania, semua akan baik-baik saja"
Ucap Jean lirih. Namun Rania menatap ragu padanya.
"Bagaimana bisa aku memastikan semua baik-baik saja Jean. Jika sampai paviliun yang menjadi tempat aku dan anakku sekedar menumpang tidur pun harus digusur nantinya, dimana kami akan tinggal?"
Tangis Rania pecah. Hampir setiap hari ia memikirkan ini. Ia mencoba untuk tegar menjadi singgle parent, mencoba diam ketika Dani tak lagi mengirimkan nafkah untuk anak-anaknya, mencoba mengatur sedemikian rupa penghasilannya agar cukup untuk semua kebutuhan dan menyisihkan uang untuk membeli atau sekedar menyewa rumah jika paviliunnya disita Bank.
Jean memegang bahu Rania.
"apapun keadaannya, saya tidak akan membiarkan kamu dan anak-anak terlantar, Rania. Saya janji!"
Ucap Jean sambil menatap dalam mata Rania. Seperti sebuah kekuatan besar tiba-tiba masuk kedalam tubuh Rania.
Kekuatan yang sebenarnya dimiliki oleh seorang ibu. Namun, fitrahnya seorang perempuan untuk membutuhkan sosok yang bisa menggali potensi kekuatan itu. Sebab letaknya ada di bagian alam sadar. Ketika perempuan bercerita, sesungguhnya ia tidak sedang mengeluh, namun sedang menggali kekuatannya yang tertutup oleh sifat alamiahnya yang selalu butuh teman, butuh didengarkan, dan butuh dimengerti.
Kekuatan itu adalah kekuatan untuk bertahan hidup dalam keadaan apapun, demi anak-anaknya. Kekuatan untuk sigap melakukan apapun demi kebahagiaan anak-anaknya. Kekuatan untuk menjadi peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah, serta kekuatan mencari solusi dari setiap masalah.
Rania menatap dalam mata Jean. Seolah ia ingin berbagi beban hidup bersamanya.
"Rania. Jangan menggantungkan hidup padaku. Karena Allah pasti cemburu. Kamu mampu karena ada Allah"
Rania tertegun. Mencoba menata hatinya kembali.
Sore itu Jean mengantar Rania pulang., setelah sebelumnya mengajak Rania dan dua putranya untuk makan malam bersama.
***
Malam itu, Rania gelisah. Ia memikirkan apa yang Jean katakan tadi. Bahwa selama ini ternyata ia terlalu menggantungkan diri pada orang lain. Pada Dani, lalu pada Jean.
Kamu meragukan rejeki yang Allah berikan,
Kamu mengira Latifaa group bisa menjamin kesejahteraan hidupmu, nyatanya ia bisa saja bangkrut.
Tapi, Allah, sumber rejeki itu bisa saja tertutup dari satu sumber. Namun bisa dibuka dari sumber lainnya.
Setelah anak-anaknya terlelap tidur. Ia mengambil wudhu dan menghamparkan sajadahnya. Ia ingat apa yang Jean katakan tadi ketika mereka menikmati makan malam, bahwa porsi ibadah kita harus ditambah. Tak cukup sholat lima waktu saja, tambah tahajud dan Dhuha. Tahajud untuk menenangkan hati, dan Dhuha untuk membuka pintu rejeki.
***
Seiring waktu berjalan, Rania semakin tenang menjalankan hari-harinya. Ia mulai merasakan tenang, meski gejolak perusahaan semakin tak menentu.
"Rania, bisa kita bicara?"
Jean tiba-tiba menemuinya ketika Rania sedang mengontrol sebuah adonan roti yang tengah dikerjakan anak buahnya.
Rania mengangguk dan mengikuti Jean menuju ruangannya.
Berbeda dari hari sebelumnya, Rania kini lebih tenang, ia siap mendengar apapun berita yang disampaikan Jean terkait dengan kondisi perusahaannya.
Jean duduk di sofa. Meski ada senyum mengembang dibibir Jean, namun Rania tau, ada guratan kesedihan di wajahnya.
Rania duduk berhadapan dengan Jean.
"Rania. Pengacara keluarga telah mengumumkan tentang kondisi Latifaa group dan amanah dari almarhumah mama".
__ADS_1
Jean terdiam sesaat....
Rania fokus mendengarkan, tanpa berkomentar.
"Banyak hal yang tidak harus kamu tau Rania. Tapi karena aku telah memiliki janji padamu, aku memutuskan untuk membawamu kemanapun aku pergi"
Rania tertegun. Batinnya bergemuruh. Entah harus menanggapi apa. Rania masih mencoba tegar untuk diam.
"Aku memutuskan melepaskan semua saham Latifaa Group. Perusahaan ini memang aku dan ibuku yang merintis. Kami bekerjasama hampir sepuluh tahun untuk menjadikan Latifaa group menjadi raja di dunia bakery. Namun...."
Jean terdiam sesaat. Menahan gemuruh dihatinya yang semakin tak terkendali.
"saya minta maaf Rania, karena perusahaan keluarga. Maka, saham pun dibagi rata sebanyak anggota keluarga. Aku merasa tidak bisa berbisnis dengan keluargaku sendiri, terutama adik-adikku. Jika ku lanjutkan, maka sama halnya dengan membuang waktu, tenaga dan pikiran secara percuma!"
Jean mengatur nafasnya. Mengatur kestabilan emosinya.
" Apa rencanamu, Jean?"
Rania memberanikan diri untuk bertanya.
"Aku akan membawamu beserta beberapa karyawan ahli untuk pindah dari Latifaa group. Aku akan merintis usaha dibidang yang sama dengan Latifaa Group".
Jean mengatakan dengan mantap. Seolah ia telah menyiapkan semuanya. Jean adalah perintis Latifaa Group, sejak bisnis ini masih berskala rumahan, tentu ia tak akan kebingungan jika harus merasakan lagi merintis usaha yang sama.
"Aku menyadari, sebesar apapun effort ku untuk Latifaa Group, perusahaan ini bukanlah milikku seutuhnya. Maka, aku akan mencoba peruntunganku di bisnis yang sama, dan itu milikku, Rania!"
Jean sangat bersemangat. Rania sangat antusias mendengarnya.
"Tapi, bagaimana jika aku harus keluar dari Latifaa Group, aku membawa anak-anak, mau tinggal dimana?"
Terbesit keraguan di hati Rania. Ia khawatir karena tak tau akan tinggal dimana.
"Aku akan menyewakan sebuah hunian sementara untukmu, sampai aku bisa menikahi kamu, Rania..."
Wajah Jean berbinar ketika mengungkapkan hal itu. Jean tak pernah mengungkapkan cinta. Tapi, terang-terangan mengungkapkan akan menikahi Rania. Ah...Jean, lelaki misterius!
Bersambung....
Dears Readers...maaf kemarin off sehari karena kegiatan sangat padat.
Di part kali ini penulis menyelipkan sebuah hikmah (janji yang tertunda kemarin hehehe) :
*Jangan pendam masalahmu sendirian, sekuat apapun kamu butuh teman untuk sekedar mendengarkan dan mengeluarkan beban hidupmu.
*Semakin kamu memendam, maka kamu tidak memiliki daya untuk membaca atau melihat masalahmu dari sisi yang berbeda.
*Seperti gunung api, material kekuatanmu ada di alam bawah sadar. Kamu perlu mengeluarkan material yang menumpuk diatasnya. Carilah teman bercerita yang tepat, yang mampu menjaga rahasia mu. Tak penting ia pandai berbicara dan memberikan solusi. Sebab potensi manusia ada dalam dirinya, kamu mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.
*Jangan menggantungkan diri pada manusia, sebab belum tentu ia ada untukmu esok. Karena ia pun sama manusia, yang menggantungkan hidup pada nafas tiap hembusan belum tau kapan berakhir.
* Gantungkan hidup dan rejeki mu hanya pada Tuhan sang pemberi rejeki.
* Tambah porsi ibadahmu jika hatimu merasa tak tenang dengan dunia.
*Hiduplah dengan semangat dan optimisme.
__ADS_1
Semangat membaca para readers๐ค๐๐๐ see you at the next part ya....