100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Perjanjian Pernikahan Bagian 3 : Pemikiran Liberal!


__ADS_3

"Berhentiiiiiiiii....!"


Melati berteriak sekeras-kerasnya membuat orang-orang yang mengelilingi api berhenti bersorak. Ada beberapa handphone yang telah dalam genggaman para pengurus pesantren dan siap untuk dilemparkan ke dalam api.


"Jangan berbuat semena-mena membuang handphone itu kedalam api!"


Teriak Melati sambil menunjuk ke arah para pengurus.


"Neng ..ini sebuah peraturan yang harus ditegakkan. Di pesantren ini santri dilarang membawa handphone, sehingga bagi yang melanggar harus di hukum dengan cara membakar handphone ini!"


"betullll....!!!"


"bakar!!!!!"


Jawaban salah satu pengurus disambut oleh para santri lainnya. Beberapa diantara mereka menangis tersedu-sedu, melihat handphone-nya akan dimusnahkan.


"Iya, saya paham, itu adalah pelanggaran. Namun, jangan sampai merusak. Ingat, perjuangan orang tua mereka untuk membelikan handphone, kemudian lihat untuk apa mereka menyimpannya, bukan sepenuhnya salah mereka. Ada peran orang tua juga disana!!!!"


Ucap Melati setengah berteriak.


"Ijinkan saya mengajukan keringanan hukuman pada Kyai. Ijinkan saya untuk bernegosiasi!"


Tambah Melati.


"Jadi, Neng sekarang membela anak yang salah?!"


"Kalau Neng Melati mengatakan negosiasi peraturan, akan banyak yang melanggar!!!"


Melati menghadapi para pengurus.


"Bukan...bukan itu. Saya hanya meminta bahwa, peraturan yang sudah kita jaga selama puluhan tahun, ada baiknya diganti, karena sudah tidak relevan!, mari kita melihat sedikit dunia luar, dan belajar dewasa dalam menanggapi teknologi!"


Semua terdiam. Para pengurus terlihat saling berdiskusi satu dengan lainnya.


"Saya perintahkan kalian membubarkan diri. Saya akan menemui kyai!!!"


Ucap Melati sambil meninggalkan kerumunan. Ia langsung menghadap ayahnya. Langkah melati diikuti oleh beberapa orang pengurus yang memiliki kepentingan yang sama, bertemu kyai.


"Peraturan ini telah berlaku semenjak pesantren ini didikan, nduk. Saya tidak bisa merubahnya semena-mena tanpa persetujuan para penasehat!"


Ucap Kyai Basuki sambil menatap anaknya dengan raut pilu. Beberapa diantara penasehat sangat terlihat menentang Melati yang dianggap liberal dan jauh dari nilai islami.


Bahkan mereka ada yang mengetahui bahwa Melati sendiri menggunakan handphone.


"Kyai, ijinkan saya menegur neng yang sudah berpikiran liberal. Neng telah menggunakan handphone dan sosial media. Saya memiliki buktinya!"

__ADS_1


kemudian pengurus mengeluarkan ponsel dan memberikan tangkapan layar sebuah akun Instagram milik Neng Melati.


Melati mencoba bersikap tenang. Ia merasa saatnya mengubah mindset pesantren menjadi lebih moderat dan tidak fanatik lagi.


"Bi, perkembangan science dan teknologi sudah berkembang sedemikian rupa. Teknologi menguasai dunia. Kita dijajah dengan teknologi. Namun, kita juga tidak bisa meninggalkannya 100 persen. Anak-anak harus diajarkan untuk bisa menguasai teknologi dan mampu mengendalikannya!"


Melati kemudian menghadap ke arah para penasehat dan pengurus pesantren. Malam itu menjadi malam bersejarah bagi pondok pesantren milik kyai Basuki, karena untuk pertama kalinya, protes dilayangkan oleh putri kyai sendiri.


"Jika kita tidak tau apa-apa tentang teknologi, maka yang terjadi, kita akan dibodohi oleh dunia. Kita bisa dijajah oleh mereka yang menguasainya!"


Imbuh Melati.


"Lalu, menurut neng, apa yang harus kita lakukan?!"


Tanya salah seorang penasehat.


"Kita ubah sedikit peraturan pesantren. Kita buka tempat penitipan handphone. Kita ijinkan mereka mengakses diwaktu tertentu dan dengan durasi tertentu. Kita awasi mereka. Kita beri mereka pelatihan cara menggunakan teknologi untuk pendidikan, untuk dakwah, jangan jadi manusia techno phobia yang antipati pada teknologi".


Diantara penasehat dan pengurus, tentu ada yang menyukai, namun ada juga yang mencibir orasi dari Melati. Mereka menganggap pemikiran melati sebagai pemikiran barat yang liberal.


"Saya memang memiliki handphone dan sosial media. Itu saya gunakan untuk menulis dan berdakwah. Teknologi itu seperti dua mata pisau. Akan tepat ditangan orang yang tepat. Maka, kita harus mampu mencetak generasi yang tepat yang melek dengan IPTEK namun berkultur Uswatun Hasanah!"


Ucap Melati.


Hasilnya sangat signifikan pada elemen pendidikan formal. Prestasi dan pengetahuan para santri meningkat. Mereka juga mampu mengikuti pelatihan yang sering diselenggarakan secara online dan mengikuti lomba-lomba yang diadakan diluar pesantren.


Namun, masalah baru muncul. Pesantren milik Kyai Mansyur masih sangat men-tabukan teknologi. Keadaan tersebut kemudian dimanfaatkan boleh para pembangkang Neng Melati. Mereka sengaja membuat propaganda di dua kubu yang menjadi besan.


***


"Kyai, maaf kyai Mansyur datang bertamu!"


Ucap seorang abdi dalem pada kyai yang baru saja turun dari mimbar, menuntaskan kajian selepas subuh.


Tak ada prasangka sebelumnya. Kyai Basuki hanya berpikir bahwa ini soal pernikahan yang beberapa pekan lagi akan segera dilangsungkan.


Raut wajah merah padam tampak di wajah Kyai Mansyur, yang tanpa basa-basi menegur kyai Basuki.


"Mohon maaf sebesar-besarnya atas kedatangan saya di pagi buta ini kyai Basuki!"


"Wa'alaikumsalam...saya menyambut kedatangan setiap tamu sebagai pembuka rejeki..."


Jawab kyai Basuki.


"Langsung saja sampaikan kepada kyai, bahwa saya memprotes aksi dari putri kyai yang melegalkan masuknya teknologi ke ranah pesantren. Ini saya anggap telah mengotori nama pesantren yang murni untuk menempuh pendidikan agama!"

__ADS_1


Ucap Kyai Mansyur dengan wajah memerah.


Melati yang mendengar percakapan mereka sampai menitikkan air mata. Kyai Basuki mencoba memberikan penjelasan layaknya Melati menjelaskan. Namun, terlalu banyak dalil yang kemudian di jelaskan oleh kyai Basuki.


"Jangan mencampur yang Haq dengan yang batil, kyai Basuki!"


Pemikiran liberal kembali di cap pada seorang Melati. Seorang anak kyai salaf yang memilih menempuh pendidikan formal, seseorang yang berusaha memberikan ilmu bekal dunia kepada para santri.


"Saya menjadi khawatir, jika masuknya Melati pada pesantren kami, akan membuat pesantren kami menjadi liberal, seperti pesantren milik njenengan, kyai Basuki!!!"


Suara lantang itu menyiratkan sebuah pesan yang sangat menohok pada Melati. Ia hampir saja keluar menghadapi kyai Mansyur, namun ditahan oleh para abdi dalem yang juga menyaksikan.


Kyai Mansyur keluar dari pesantren dengan pamitan yang tidak biasa. Tanpa bersalaman dan bercengkrama dengan keluarga pesantren milik kyai Basuki.


Melati segera menghambur pada pelukan sang ayah. Ia sungguh tak rela ayahnya diperlakukan secara hina oleh sang kyai yang telah bersahabat dengan ayahnya lebih dari 15 tahun.


Ucap Kyai Mansyur dengan terlihat lantang. Tak ada jalan tengah selain sama-sama diam.


***


Semenjak hari itu. Pembicaraan mengenai pernikahan pun tak lagi terdengar.


***


Semenjak hari itu, tak ada kabar maupun persiapan untuk acara pernikahan. Melati dihadapkan pada dua kanyataan. Pertama, bahwa sejujurnya, apabila pernikahan ini dibatalkan, maka itu kesempatan bagi dirinya untuk melanjutkan pendidikan. Namun sisi yang lain, ia menyaksikan wajah sendu ayahnya yang sangat tampak ketika melati bertemu dengan sang ayah. Tentu ia tak sanggup menyaksikan keadaan ini.


Melati memberanikan diri mengirimkan sebuah surat untuk Ustad Malik.


^^^Assalamualaikum Ustad Malik...^^^


^^^Seribu purnama tak akan mampu menerangi langit.^^^


^^^Namun, matahari yang telah terbenam, masih mampu memberi cahaya pada sang gemintang.^^^


^^^Ijinkan saya, Melati, seseorang yang telah anda pinang sebagai calon istri. Meminta sebuah kesempatan untuk bertemu langsung dengan anda, ustadz.^^^


^^^Tanpa mengurangi rasa hormat. Saya ingin benar-benar merasakan ta'aruf. Mengenalkan diri saya pada anda , agar anda mampu mengenal saya, dan mampu mengenal pemikiran saya, yang sering di cap sebagai seorang yang berpikiran liberal!.^^^


^^^Saya sangat berharap bisa bertemu dengan anda, ustadz, di Masjid biru, tepat jam ba'da ashar. Ajaklah seorang abdi, agar kita terhindar dari fitnah.^^^


^^^Jazakallah Khairan...^^^


^^^Melati^^^


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2