
Setelah membaca Al-Qur'an hati Rania menjadi lebih tenang. Jean mengecup Rania ketika telah membaca Al-Qur'an.
"Terimakasih, yah. Aku jadi tenang".
Ucap Rania.
Jean tersenyum manis.
"Tulisannya tetap dilanjut ya..."
Rania terdiam. Dia merasa tidak enak hati karena menyadari bahwa tulisannya dibaca oleh Jean.
"Aku minta maaf , yah"
"Tidak perlu minta maaf. kamu butuh tulisan itu. Berkarya lah. Setidaknya dari tulisanmu nanti, aku ingin kamu bisa menginspirasi banyak perempuan diluar sana. Tidak semua perempuan korban perceraian memiliki mental sekuat kamu, dan tak semua memiliki orang tua seperti ayah Malik, yang mampu membangkitkan semangatmu. Beberapa diantara mereka, justru mendapatkan tekanan sosial bertubi-tubi, termasuk dari keluarga sendiri".
Rania mendengarkan dengan khidmat.
"Menulis lah, istriku. Dengan tulisanmu setidaknya kamu bisa berbagi kekuatan lewat pengalaman. Kamu bisa meng edukasi mereka. syukur-syukur bisa menolong mereka keluar dari masalahnya. Besok aku akan menyiapkan tempat khusus untukmu, supaya kamu bisa lebih nyaman ketika menulis".
Jean mengusap bahu Rania. Kata-kata Jean selalu mampu membangkitkan semangat Rania. Kata-katanya mengingatkan Rania pada sosok ayahnya. Jean itu seperti ayahnya. Baik secara tutur kata maupun sikap.
***
Pagi menjelang...
Dani dan ibunya telah siap untuk pulang. Jean membawakan banyak oleh-oleh untuk Bu Nani. Lima ikat Singkong, dan dua tandan besar pisang tanduk hasil kebun sendiri. Jean juga memberikan susu bubuk kambing hasil produksi pabriknya. Bu Nani sangat bahagia menerima oleh-oleh dari Jean. Ia tak menyangka Rania mendapatkan jodoh yang se-sifat dengannya. Ya, Bu Nani menyadari kebaikan Jean, sama dengan kebaikan Rania. Mereka sama-sama suka membahagiakan orang lain. Bedanya hanya, dulu Rania terlalu lemah hingga kebaikannya selalu dimanfaatkan oleh orang lain, dan bahkan disalah gunakan oleh dirinya.
"Nak Jean..."
Sapa Bu Nani ketika Jean sedang memasukkan oleh-oleh tersebut kedalam kardus.
"Apakah kamu tidak masalah jika aku sering mengunjungi Rania disini?"
terdiam sejenak. Jean tersenyum.
"entah kenapa, aku merasa kehilangan Rania justru setelah Rania pergi".
Suara tertahan,
"Bu, ada bekas istri, namun tak ada bekas mertua. Karen mertua telah menjadi orang tua. Datanglah kapan ibu mau..."
Jawaban Jean membuat hati Bu Nani bergetar. Ia diperlakukan istimewa oleh yang bukan siapa-siapa. Jean sangat baik, nyaris tanpa cela.
Begitulah rumah tangga, ekonomi bukanlah satu hal yang menjadi patokan. Ada yang bergelimang harta, namun diuji belum memiliki keturunan. Ada yang sempurna memiliki keturunan, diuji dengan kurangnya harta. Ada yang diuji dari suaminya, ada yang diuji dengan istrinya, dan ada yang diuji dengan kesehatan. Apalah manusia, hidupnya akan terus diuji sampai nafas penghabisan.
Waktu berpisah telah tiba. Dani mengangkat koper. Tatap matanya mulai memudar dari pandangan Rania. Ia pulang membawa perasaan kecewa. Namun, ia sadar bahwa ia harus bisa kembali ke kehidupan nyata. Kita bisa saja memiliki keinginan, berambisi akan suatu hal atau bahkan banyak hal. Namun, pada nyatanya takdir Tuhan lah yang mampu menentukan, siapa dengan siapa, jodoh adalah bagian takdir yang tak butuh campur tangan manusia.
Bayangan Dani mulai memudar, seputar perasaan Rania padanya. Cinta bukan sesuatu yang abadi, dia bisa saja datang kemudian menghilang. Cinta bukan penentu jodoh, cinta tak mampu mengubah takdir Tuhan, untuk itu manusia jangan menuhankan cinta.
Cinta bisa tumbuh tanpa kita mau sebelumnya. Hanya dengan kuasa Tuhan, cinta bisa tumbuh pada hati yang saling mengasihi. Pada hati yang saling menyayangi.
Dani-Rania adalah sebuah masa lalu yang tak berjalan dimasa kini, ataupun dimasa yang akan datang. Statusnya tak lagi suami dan istri, namun akan abadi menjadi Papa dan mama untuk Azka dan Zidan.
...Selamat tinggal Dani,...
...Selamat tinggal kenangan penuh luka....
...Dimana aku belajar untuk dewasa,...
...dan pintar menyembuhkan luka....
__ADS_1
Pintu mobil ditutup. Lambaian tangan dari Bu Nani menjadi pertanda bahwa kebersamaan sampai disitu. Rania sibuk menguatkan Azka dan Zidan. Rania boleh pandai menyembunyikan kesedihannya, namun tidak dengan dua anaknya, Azka dan Zidan. Meskipun telah ada Jean yang mengambil alih pengasuhan, rupanya, mereka hanya anak kecil dengan naluri alaminya. Mereka tetap mencintai ayah kandungnya.
"Ayah...nanti jika Azka sudah besar, Azka akan mencari ayah. Azka ingin menjaga ayah, Azka akan memeluk ayah...Azka cinta ayah...".
Rania terngiang suara Azka saat Dani berpamitan pada anak itu. Luka traumanya benar-benar bisa sembuh. Dani menunjukkan perubahan yang begitu nyata pada anak-anaknya.
Terimakasih Dani, setidaknya mereka akan menyimpan namamu di memorinya dengan kenangan yang indah.
***
Dua pasang bola mata itu basah. Perasaan Rania campur aduk. Antara ingin menumpahkan air yang tak tertahan di pelupuk mata, atau staying menahannya untuk perasaan yang lain.
Rania tidak tau. Ia hanya berusaha memeluk dua jagoannya.
"Ada mama, nak. Mama disini. Kapanpun kalian ingin bertemu papa, mama pastikan kalian akan bertemu. Mama janji sayang...".
Pelukan sedikit meringankan beban. see you Dani.
***
Setiap hari Rania menyempatkan diri untuk menulis karya tulisnya. Karya ini berbentuk novel. Rania menceritakan perjalanan hidupnya menghadapi kondisi rumah tangga yang diambang perceraian. Bagaimana mengetahui penghianatan pasangan dan bagaimana bangkit maju meraih bahagia.
Jean sangat men-support Rania untuk bisa menyelesaikan tulisannya. Jean selalu mengambil alih tugas Rania dalam pengasuhan anak. Bahkan ketika berada di kandang kambing pun, semua anak ia bawa, hanya agar tidak mengganggu ibunya yang sedang fokus menulis novel.
Saking seringnya ikut ke kandang kambing, Azka bahkan begitu cekatan membantu sang ayah untuk memberikan umpan kepada kambing-kambing itu, Zidan selalu bersemangat jika diajak memerah susu, dan si bungsu Chantika yang baru berusia tiga tahun, sangat menyukai kegiatan naik embe alias kambing.
***
Disisi lain. Rania telah menuntaskan 20 part novelnya. Ia siap mempromosikan novelnya itu pada rekan-rekannya dan tentu pada sebuah platform baca novel ternama, Noveltoon.
Semakin hari, pembaca novel Rania semakin banyak. Tak hanya dari kalangan rekan-rekannya, namun juga dilirik oleh sebuah LBH yang khusus menangani perempuan dan anak korban perceraian.
***
Rania dengan dukungan Jean, langsung menerima tawaran tersebut. Sebuah email balasan Rania kirim pada LBH Sehati. Isinya tentu mengenai persetujuan Rania untuk menjadi salah satu volunteer mereka.
Rania pun segera mendapatkan balasan berupa undangan dari LBH Sehati untuk hadir di kantor mereka. Mereka akan menjelaskan cara kerja mereka, dan Rania sadar bahwa ini adalah lembaga non profit, sehingga ia telah menyiapkan diri untuk tidak mendapatkan imbalan sepeserpun. Berbagi untuk sesama, sebab ia pernah di posisi yang sama. Bahkan ia tak mendapatkan bantuan hukum untuk kasusnya. Berdiri untuk membela kaum yang senasib dengannya, merupakan suatu cara balas dendam yang positif. Begitulah isi hati Rania. Jangan sampai ada Rania Rania berikutnya yang terbuang dari sebuah keluarga. Jangan sampai ada Azka dan Zidan berikutnya yang harus menanggung luka akibat perceraian orang tuanya.
***
Pagi ini merupakan jadwal Rania untuk datang ke kantor LBH Sehati. Kebetulan kantor mereka tak seberapa jauh dari tempat tinggal Rania. Hanya berjarak 40 menit saja. Rania berdandan minimalis. Ia terlihat fresh dan sangat mantap untuk datang kesana. Jean membuatkan sarapan untuknya dan juga anak-anak yang telah siap dengan ransel sekolah mereka masing-masing. Seperti volunteer lainnya, sebelum bekerja, mereka tetap harus mengikuti serangkaian seleksi terlebih dahulu. Hal tersebut untuk memastikan kualitas dari para penyuluhnya. Sehingga mampu memberikan pelayanan yang maksimal untuk para klien. Setelah proses interview, nantinya para volunteer juga dibekali dengan ilmu hukum yang memadai, sehingga bisa memberikan bantuan hukum pada kliennya, membantu LBH dalam melakukan advokasi pada para korban perceraian di lapangan. Sungguh pekerjaan yang menantang bagi Rania. Mengingat hampir semua volunteer memiliki latar belakang yang sama, yaitu korban perceraian!
"Ma, ini roti keju kesukaanmu, makanlah, supaya perutmu tidak kosong ketika interview nanti".
Sebua roti sandwich keju telah tersaji di meja makan. Entahlah kapan Jean mulai menyiapkan makanan, karena ketika Rania turun dari lantai dua kamarnya, makanan sudah tersaji, dan anak-anak telah rapi. Rania melahap roti buatan Jean dengan lahap. Roti itu dibuat oleh Jean sendiri. Sebagai mantan pengusaha roti, Jean tentu sangat piawai dalam membuat roti.
"Setelah mengantar anak-anak sekolah, saya akan mengantarmu ke LBH Sehati. saya juga sudah berkoordinasi dengan guru anak-anak, bahwa akan sedikit terlambat menjemput. Jadi, anak-anak bisa diberi les tambahan".
Rania tertegun mendengar penjelasan Jean. Laki-laki ini begitu cekatan dengan apa yang harus ia lakukan, bahkan hal detil untuk anak-anaknya.
"Maafkan aku, yah. Sepertinya aku terlalu sibuk dengan novel ku!"
Rania merasa tidak enak hati karena Jean begitu sibuk dengan tugas tambahan rumah tangga.
"Kamu tenang saja sayang. Mbok Siti mulai besok akan membantu kita dalam urusan rumah, mulai dari mencuci dan memasak. Kamu hanya punya tugas untuk memberikan perhatian pada anak-anak. Suapi mereka ketika makan, dan mandikan mereka juga. Agar jangan sampai perhatianmu tercurah pada orang lain, sedang anakmu kurang perhatian, oke!"
Ucap Jean sambil menepuk pelan bahu Rania. Kemudian Rania membalasnya dengan acungan jempol.
***
Rania telah sampai di gedung berwarna kuning dan hitam. Ada sebuah neon box bertuliskan nama LBH tersebut. Jean segera memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang telah disediakan. Rania dan Jean berjalan berdampingan, membuka pintu dan kemudian menuju meja resepsionis.
__ADS_1
"Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?"
Sapa seorang resepsionis bernama Anita.
"Iya mba. Saya mendapatkan undangan untuk mengikuti interview pagi ini".
Ucap Rania.
"Oh ya...atas nama siapa?"
"Rania..."
"baik. Bisa tunggu sebentar ya. Akan saya hubungi manager dulu. Anda silahkan duduk dulu di ruang tunggu tamu ya".
" Baik mba, terimakasih"
Rania dan Jean duduk bersebelahan di ruang tunggu tamu. Mata Rania berselancar ke penjuru ruangan. Ada banyak kata-kata motivasi yang terpajang di dinding ruangan itu.
Dari sekian banyak tulisan, ada satu kalimat yang sangat menarik untuknya.
"Hidupmu terlalu berarti untuk disia-siakan. Jangan engkau jatuh hanya karena cinta. Ingatlah perjuangan orang tuamu yang telah berjuang untuk mengajarkanmu berjalan. Bangun dan bangkitlah, kamu masih punya waktu untuk bahagia...".
Pikiran Rania mengingat kembali masa-masa sulit yang pernah ia lewati dulu. Andai ia mengenal adanya LBH seperti ini, tentu akan berbeda ceritanya. Sedari awal ia tak akan membuang waktunya untuk laki-laki yang tak mencintainya.
Rania menarik nafas panjang. Tanpa ia sadari Jean yang duduk disebelah memperhatikannya. Ia juga membaca apa yang Rania baca barusan.
"Ma, apa pendapatmu tentang tulisan itu?"
Rania tersenyum.
"Terimakasih, sayang. Kamulah mentor ku, meski tak banyak kata, namun berhasil membantuku keluar dari masa-masa sulit itu. Masa 100 hari pertama menjadi janda".
Rania tersenyum puas. Ia baru menyadari bahwa Jean adalah volunteer perceraian sesungguhnya. Memberikan bantuan dengan ikhlas dan membimbingnya hingga akhirnya menjadi istrinya. Hahaha...itu bonus! oh ya bonus dapat dua bocah juga plus ekstra bonus anak cantik bernama, Chantika.
Waktu diruang tunggu tak dirasa oleh Rania dan Jean. Canda dan tawa keduanya, mampu menyulap ruangan berukuran 4x5 meter itu seperti menjadi milik mereka berdua. Setiap sudut ruang jadi pembahasan dan jadi bahan lelucon Jean. Begitulah ia. Sosok sederhana yang mampu menyulap air mata sengsara menjadi tawa bahagia.
...Kelak kau akan dianggap hebat, ketika kau mampu menertawakan masa lalu yang menyakitkan!...
...Ingat. Hidup hanya sekali. Yang menjadi bagian masa lalu, biarkanlah menjadi pelajaran yang harus selesai dan tamat. Jangan diperpanjang, nanti kamu tak naik kelas. Ayo bangkit ke level yang lebih tinggi. Semakin dewasa, semakin naik level ujiannya, seharusnya makin pandai menyelesaikan masalah yang ada....
100 hari pertama menjadi janda adalah proses jatuh kemudian sadar. Harus segera sadar ya. Karena setelah itu, harus mulai bangkit dan bangkit lagi. Tunjukkan pada Tuhan bahwa engkau adalah manusia pilihan, yang do'anya layak untuk di kabulkan, kenapa? sebab kamu itu berarti, setidaknya untuk kelangsungan hidupmu sendiri".
"Ibu Rania..."
Percakapan Rania dan Dani terhenti saat resepsionis tadi memanggilnya. Rania bangkit dari tempat duduknya dan menuju ke resepsionis tadi.
"Ibu silahkan menghadap manager. Namanya Bu Marta. Ibu Rania telah ditunggu disana".
"Baiklah mba. Terimakasih".
Rania berjalan menuju ruang yang dimaksud. Melewati koridor yang menghubungkan tiap ruangan disana. Sepanjang koridor ada sekat ruang yang berbeda-beda. Ad pintu bertuliskan ruang administrasi, ruang konseling psikologi, ruang konsultasi hukum, ruang edukasi, lalu ruang perpustakaan dan tepat diujung ruang ada tulisan Martha Wilata. SH.
Hati Rania berdegup kencang. Seperti orng yang sedang mengikuti seleksi kerja dengan profit tinggi, dan takut ditolak. Sebuah novel yang berbentuk print out telah ia pegang ditangannya.
"Bismillahirrahmanirrahim semoga bisa melewati seleksi ini"
Gumamnya.
Ia mengetahui dari Kaskus, bahwa volunteer disini sangat profesional karena sering mengikuti pelatihan-pelatihan advokasi. Program mereka sangat ketat dan oleh sebab itu, yang berhasil diterima disini pastilah orang-orang pilihan yang berkualitas. Rania sangat berharap ia menjadi salah satu diantara mereka. Rania penuh harap ...
Bersambung ...
__ADS_1
...Dears Readers...author membuka sesi diskusi nih buat yang mau konsultasi soal rumah tangga. Bisa DM di ig @bungakering1986 atau via inbox chat di apk ini ya ..😘 peluk sayang dari author and see you at the next part 🤗...