
Jean tiba di mushola dan mendapati Azka dan Zidan disana. Hati Jean menjadi lega. Namun tak berselang lama, samar-samar ia melihat orang yang tadi dia lihat di resto terburu-buru memasuki mobil yang ternyata terparkir tak jauh dari mushola.
Jean ingin mengejar mobil itu, namun terlambat. Mobil dipacu begitu cepat. Namun Jean sempat melihat plat mobil itu. Sehingga ia bisa waspada di kemudian hari. Jean kemudian menceritakan ke khawatirannya itu pada pak Darmo dan beberapa guru ngaji yang ada di sana agar mereka juga waspada.
Jean kemudian pulang ke rumahnya. Rania tengah membaca Al-Qur'an saat Jean baru tiba. Lantunan ayat suci Al-Qur'an membuat batin Jean lebih tenang. Ia mengambil wudhu dan duduk di samping istrinya, membaca Al Qur'an bersama dan dilanjut sholat magrib berjamaah.
"Jean, mengapa tadi kau terlihat begitu khawatir?"
Tanya Rania sembari merapikan mukenanya. Jean memang belum menceritakan hal ini pada Rania.
"Apakah ketika di resto tadi kmu memperhatikan seseorang, Rania?"
Tanya Jean.
" emmm orang yang mana ya?"
Rania terlalu sibuk melakukan pembukuan, sampai ia tak begitu memperhatikan tiap pengunjung yang datang ke restonya.
"Laki-laki berpakaian serba hitam, mengenakan topi dan kacamata, duduk menghadap meja kasir!"
Jean mencoba menjelaskan deskripsi orang tersebut.
Rania mencoba mengingat, dan ...
"Aku mengingatnya. Pria yang hanya memesan kopi itu. Dia...."
Ucap Rania tertahan. Ia baru menyadari bahwa pria itu mengubah posisi kursi menjadi menghadapnya yang saat itu berada di posisi kasir. Kemudian mengingat ancaman Dani padanya. Seketika Rania memeluk Jean.
"Jean aku takut. Aku khawatir kalau itu bagian dari rencana Dani!"
Rania mulai berpikir negatif. Hal-hal buruk berseliweran di kepalanya.
"Jean, anak-anak!"
tiba-tiba Rania teringat anak-anak.
"Mereka telah ku titipkan pada pak Darmo. Aku minta pak Darmo terus mengawasi anak-anak sampai aku menjemputnya".
Ucap Jean, kemudian Rania pun menjadi lebih tenang.
"Jika dugaan ku benar, mengapa Dani senekat itu?"
Gumam Jean.
"Dani tipikal orang yang tak ingin dikalahkan. Ia sangat mementingkan egonya. Dalam hal bisnis, pertemanan atau bahkan apapun, ia ingin selalu jadi juara. Sedari dulu ia begitu!" .
Ucap Rania yang mengenal Dani lebih dari sepuluh tahun.
"Apakah bisa ia melakukan hal yang menjurus pada kriminalitas?"
__ADS_1
Jean bertanya pada Rania yang tentu sangat mengenal Dani.
"Aku rasa, ya. Karena Dani tipikal orang yang sangat ambisius. Anak buahnya dimana-mana. Bahkan ia pernah menyewa bodyguard untuk mengancam salah satu klien yang ingkar janji padanya".
Rania mencoba mengingat tabiat Dani.
"Itu artinya, ada kemungkinan Dani melakukan tindakan kriminalitas terhadap keluarga kita, Ran".
Gumam Jean. Kemudian Jean diam sesaat. Berpikir mengenai keselamatan keluarga kecilnya.
"Rania, aku akan pergi sebentar. Tetap di rumah dan kunci semua pintu. Aku akan segera kembali".
Jean kemudian pergi menemui pak Darmo, Pak Haris, dan Cipto, mereka semua karyawan Jean yang membantu dalam urusan peternakan dan supir. Mereka juga orang asli daerah setempat, sehingga akan mudah mengenali jika ada orang lain menyusup ke wilayahnya.
Jean memasang gerbang di area musholla. Selain warga setempat, maka tidak diijinkan masuk. Dani juga menugaskan Cipto dan pak Haris untuk bergantian menjaga gerbang dan patroli ke area rumah.
***
Sementara itu, Dani telah menerima laporan dari anak buahnya tentang keberadaan Rania dan anak-anaknya. Dani kemudian memerintahkan anak buahnya untuk membawa Azka dan Zidan padanya. Bagaimanapun caranya.
***
Suatu sore, ketika anak-anak tengah bersiap untuk mengaji di mushola, Azka, Zidan dan teman-teman lainnya asik bermain bola dihalaman mushola. Bola yang dimainkan terlempar hingga keluar pagar. Azka berinisiatif untuk mengambilnya. Pak Cipto yang tengah memperbaiki sepeda motornya lengah dengan ini. Dia membiarkan Azka melewati garis aman.
"Azka... Azka...!"
Samar-samar Azka mendengar namanya dipanggil. Matanya mengitari sekeliling, mencari siapa yang memanggilnya.
***
Ustad Riyan mencari-cari Azka yang tak kunjung hadir di mushola. Zidan juga kebingungan, karena tadi masih bermain bersama kakaknya. Ustad akhirnya melapor pada pak Cipto yang tengah berjaga-jaga di gerbang. Ia terperanjat saat mendapati laporan Azka tidak ada di mushola, hanya ada Zidan saja.
Pak Cipto bergegas mencari ke penjuru tempat, namun tak juga ditemukan. Kemudian ia segera melapor pada Jean.
"Bagaimana bapak ini, saya sudah sampaikan, jangan sampai anak-anak keluar dari pintu gerbang!"
Ucap Jean yang baru saja memberi makan kambing-kambingnya. Ia kemudian bergegas mencari Azka ke penjuru tempat, namun sia-sia. Berita ini didengar oleh Rania. Ia lunglai. terduduk lemah di depan pintu.
"Dengarkan Rania. Ini bukan waktunya kamu untuk menangis. Kita harus mengerahkan tenaga kita untuk mencari Azka. Sepertinya pelaku adalah orang yang kemarin kita curigai!".
Ucap Jean tegas, sambil membopong tubuh istrinya dan direbahkan pada sebuah dipan kayu.
"Sepertinya dialah orangnya!"
Ucap Rania, sambil perlahan bangkit dan duduk bersandar. Jean benar, semakin ia lemah, maka kemungkinan untuk teraniaya akan semakin besar. Dani tau kelemahan Rania, oleh sebab itu Dani akan menyakitinya lewat kelemahannya itu.
"Ya. Jika Azka tak kembali dalam waktu 24 jam. Kita akan lapor polisi!"
Ucap Jean dengan ekspresi dingin. Ia seperti meredam amarah yang begitu besar pada Dani.
__ADS_1
"Pak Darmo akan menjagamu Rania. Jangan kemana-mana. Aku akan segera kembali!"
Ucap Jean sambil mengambil kunci sepeda motornya dan pergi meninggalkan Rania.
Rania kemudian mengambil ponselnya. Ia coba untuk menghubungi Dani. Namun tak mendapatkan respon. Ia lalu menulis pesan singkat pada Dani.
"Dani tolong sebutkan apa mau mu?!, jangan korbankan anak-anak hanya untuk kepentingan mu!"
Namun, tak juga mendapatkan balasan.
***
Azka mendapati dirinya didalam sebuah mobil minibus. Ia melihat ada Om Riyo, anak buah ayahnya di dalam mobil, sehingga ia tak merasa ketakutan.
"Om, kita mau kemana, Azka belum ijin sama mama".
Ucap Azka dengan polosnya.
"Kita akan menemui ayah". Jawab Riyo dengan senyum yang dipaksakan.
Namun Riyo hanya tersenyum. Perjalanan berlanjut hingga ke Surabaya. Disebuah hotel, Dani telah menanti kedatangan Azka.
Pintu kamar hotel di buka.
Sebuah pelukan hangat menyambut kedatangan Azka.
"Azka anak papa...."
Buliran air mata membasahi pipi Dani. Dia bukan sosok Monster yang menakutkannya. Dani tak menginginkan ini, hanya ego dan gengsinya, telah mendorongnya untuk berbuat nekat.
"Dani, seharusnya kau tak melakukan ini".
Ucap Riyo sambil menanggalkan topinya.
" Kau bisa datang pada Rania baik-baik. Kau harus belajar menerima kekalahan satu kali saja!"
Ucap Riyo sambil duduk di sebuah sofa, memperhatikan Dani yang masih meluapkan kerinduannya pada Azka.
"Kau tak pernah mengerti perasaanku, Yo!"
Jawab Dani sambil menggendong Azka.
"Kau yang terlalu ego dengan perasaanmu, Dani. Hingga kau rela mengorbankan perasaan semua orang. Setelah ini, bersiaplah, kita mungkin sedang diburu polisi!"
Ucap Ryo sambil pergi meninggalkan Dani dan Azka di hotel itu.
Beberapa hari berlalu, Azka masih dalam dekapan Dani....
...Bersambung......
__ADS_1
...Hai dears Readers setiaku terimakasih atas dukungan nya ya...jangan lupa untuk like, fav and vote untuk mendukung penulis...jangan boom like ya Krn akan membuat performa author menurun๐๐๐๐ terimakasih๐๐ค๐โค๏ธ๐...