100 Hari Pertama Menjadi Janda

100 Hari Pertama Menjadi Janda
Bagian 54 Hari H Pernikahan


__ADS_3

Sepekan berlalu begitu cepat. Jean telah membeli tiket pesawat dari aplikasi online. Ia membeli empat tiket dari bandara Juanda, Surabaya, menuju bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Ia juga telah meminta Pak Darmo, supir baru Jean, untuk mengantar hingga Surabaya.


Rania sangat bersemangat, mengemasi pakaiannya dan juga pakaian dua buah hatinya itu kedalam satu koper besar. Jean ingin mengajak Rania dan anak-anak berlibur di kampung halaman Ayah Malik. Sekalian honeymoon ucap Jean.


Rania merasa menemukan jiwa yang hilang. Bersama Jean, perlahan ia mampu bangkit. Menemukan jati diri yang hilang, menjadi diri sendiri yang berarti bagi dirinya dan keluarga kecilnya nanti. Bahkan Jean telah mengungkapkan niatnya untuk tidak menunda momongan. Bahkan ingin memiliki anak kembar.


"Ma, sudah siap kan?"


Jean menyapa Rania yang tengah menata koper di ruang tamu rumahnya.


Rania tertegun


"ma...?" gumam Rania.


"Iya ma...kan harus terbiasa panggil ma sekarang"


Ucap Jean sambil meledek. Pipi Rania tiba-tiba merona.


"lantas kamu...?"


Balas Rania yang mulai terbiasa dengan sikap Jean yang suka meledek.


"emmm...apa ya...jangan papa ah...!"


Mereka tertawa cekikikan.


"Oke...ayah Jean saja, gimana?"


Tanya Jean sambil bergaya ala anak ABG.


"emmm....oke ayah Jean"


Ledek Rania.


Jean kemudian mengangkat satu per satu koper ke bagasi mobil. Juga tak lupa oleh-oleh khas Lumajang, yaitu keripik pisang tanduk aneka rasa.


Semua barang telah siap. Rania memanggil anak-anaknya untuk segera masuk kedalam mobil.

__ADS_1


***


Perjalanan menuju Banda Aceh membutuhkan waktu delapan jam perjalanan darat dan empat jam perjalanan pesawat. Rania dan anak-anaknya menikmati perjalanan kali ini dengan suka cita. Berbeda dengan mudik di waktu yang lalu. Mudik kali ini ia tak membawa berita sedih, melainkan berita bahagia untuk kedua orang tuanya.


***


Mobil sampai di sebuah rumah sederhana. Sejauh mata memandang ada hamparan pantai Ule le yang sangat indah. Beberapa kapal bersandar disana, sedangkan beberapa orang yang duduk-duduk menikmati sunset di sore itu.


Ayah Malik adalah anak laut, ia sangat menyukai laut. Ia lahir di Seunedon, Aceh Utara, tepatnya dibibir pantai Ungu. Kakek Rania, ayah dari ayah Malik adalah seorang nelayan. Meskipun ia seorang nelayan, namun kakek Rania bertekad bahwa anak dan cucunya harus mendapatkan pekerjaan yang baik, yang lebih layak. Sifat kerja keras dan rendah hati ditanamkan pada ayah Malik, dan dari ayah Malik pada Rania. Alhasil, ayah Rania berhasil dalam studinya dan berkarir di sebuah kantor pemerintahan. Pekerjaannya sebagai PNS di sebuah kantor pemerintahan, membuatnya pindah ke Banda Aceh. Namun karena kecintaannya pada pantai, ia membeli rumah yang tak jauh dari Ule Le.


Beberapa tahun yang lalu rumah Rania sempat diterjang Tsunami, namun pemerintah memberikan bantuan berupa dana yang kemudian dipergunakan untuk membangun kembali rumah yang rusak. Rumah yang nyaman meskipun sederhana. Rania selalu merindukan suasana rumah yang asri dengan pepohonan di halaman depan dan dari rumah, kita bisa menatap indahnya pantai Ule Le.


Anak-anak Rania berlari menuju bibir pantai ketika mereka baru saja tiba. Rupanya ayah Malik sedang berada disana. Si bungsu Zidan langsung digendongnya. Ayah Malik rupanya tengah membeli dua ekor ikan tongkol besar dan masih fresh. Azka menenteng salah satu ikan dan diberikannya pada sang nenek.


Mereka menutup senja dengan menikmati makan malam bersama dengan lauk ikan asam keueung dan sebagian dibakar. Jean sangat lahap menikmati menu ikan. Karena ia jarang sekali menikmati menu ikan yang fresh seperti ini.


"Rania, kamu bisa masak menu ini kan?"


Ucap Jean disela-sela makan malam.


Rania tersenyum kecut. Tanda bahwa ia tak bisa. Rania sejak remaja menghabiskan waktunya dengan merantau, sehingga jarang sekali bisa pulang, dan jika sudah pulang, maka ia akan menjadi raja di rumahnya, kerjaannya hanya makan, tidur dan bermain di pantai.


Ucap Bu Murti sambil mencubit anak perempuannya.


"Lagian ibu selalu protes kalau Rania salah motong bawangnya...!"


Rania mencoba membela diri.


"Harus belajar yang benar kan..."


Balas Bu Murti.


***


Malam itu Rania mengikuti prosesi peugaca. Yaitu sebuah prosesi dimana seorang calon pengantin mengenakan "pacar" atau hena di bagian lengan bawah hingga ke ujung jari. Sebenarnya dalam adat pernikahan Aceh, ada dua prosesi yang terlewat yaitu Jak keumalen (seperti melamar atau melihat calon pengantin wanita). Kemudian Jak bar Ranup, yaitu prosesi melamar untuk meminang, dan kemudian malam sebelum akad nikah dilangsungkan, mempelai perempuan mengenakan peugaca. Namun, karena Jean berasal dari luar pulau yang tidak memungkinkan mereka untuk pulang pergi hingga berkali-kali. Maka, prosesi langsung pada acara inti yaitu akad nikah dan resepsi.


***

__ADS_1


Akad nikah dilangsungkan di masjid Baiturrahman, Banda Aceh. Masjid yang menjadi icon termegah di Nanggroe Aceh Darussalam. Ayah Rania dulu bercita-cita ingin menikahkan putrinya disini, dan akhirnya cita-cita itu terwujud.


Rania berjalan dengan dipapah oleh dua saudara perempuannya. Ia terlihat sangat anggun dengan gaun putih tulang yang bagian bawahnya menjuntai hingga ke bawah, dengan hiasan brokat dan mutiara. Untuk riasannya, Rania ditangani oleh MUA yang sudah sangat terkenal di kota Banda Aceh. Rania terlihat sangat cantik dan anggun.


Hati Jean berdegup saat melihat kecantikan Rania yang tak terlihat seperti perempuan berusia tiga puluh tahunan yang telah memiliki dua orang anak, melainkan seperti seorang gadis kembali.


Para saksi dan beberapa keluarga telah hadir didalam masjid. Ada sebuah meja yang diselimuti kain putih dan dihiasi bunga. Jean dan ayahnya telah duduk disana. Tak berselang lama, penghulu tiba dan duduk bersebelahan dengan ayah Rania. Akad nikah pun dilangsungkan.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Jeandra Adityatama bin Almarhum haji Ridwansyah Yusuf dengan anak saya Rania Salsabila dengan mas kawin berupa emas sebesar sepuluh gram dan uang tunai Dua Juta Dua Puluh Satu Ribu Rupiah dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Rania Salsabila binti Muhammad Malik Syahrial dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"


Saksi-saksi


"sah...sah...sah..."


Ada suasana haru menyelimuti ruangan masjid yang sakral. Pernikahan ini bukan yang pertama untuk Rania. Namun, terasa sangat istimewa. Tangis haru pun pecah. Ayah Malik memeluk anaknya. Menggandengnya, kemudian menghadapkan pada Jean. Jean menatap hari mata Rania. Ia bukan lagi sahabat atau rekan kerjanya yang dulu sangat ia kasihani karena nasibnya. Kini, Rania yang ada dihadapannya adalah seseorang yang menjadi istrinya. Menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.


"Rania ijinkan aku mencium keningku sebagai ungkapan kasih sayangku..."


Rania tersipu malu. Sebuah kecupan lembut mendarat di keningnya, diiringi lantunan sholawat dari para tamu yang hadir.


...Tak perlu menatap mendung...


...Sebab hujan tak bersyarat mendung...


...Lihat pelangi yang hadir sesudahnya...


...Kau akan takjub tak berkesudahan...


...Bersyukurlah jika Rabb mu menguji...


...Ia sangat sayang dan hendak mengangkat mu...


...Ke tempat terindah, kado terindah berupa jannah...


Bersambung....

__ADS_1


Alhamdulillah sudah menikah ya Rania. Terimakasih untuk support dari pembaca. Part selanjutnya tak kalah seru, karena pembalasan-pembalasan untuk sang pelakor dan mantan suami. So, see you next partπŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ€— jangan lupa like and comment untuk mendukung penulis ya😍 terimakasih readers setiaku πŸ˜πŸ˜πŸ€—


__ADS_2