
Ramaikan kolom komentar, kalau perlu komen tiap paragraf😘
...****************...
Rangga meraih tangan Rania yang memerah, membersihkannya dengan tisu basah lalu mengoleskan salep agar tidak membekas. Setelahnya ia mengecup jari itu beberapa kali.
Ia tahu bukan ini yang membuat istrinya menangis, Rania tidak secengen itu. Wanita yang kini berstatus sebagai istrinya wanita yang kuat fisik tapi tidak untuk batin.
Wanitanya sangat perasa, hatinya mudah tersentuh oleh kata-kata.
Rangga merentangkan tangannya dengan senyuman. "Peluk sayang," ujar Rangga di balas pergerakan tubuh oleh wanita itu.
Rania sedikit bringsut untuk mendekat dan masuk kepelukan Rangga. Elusan di punggungnya begitu menenangkan.
"Apa benar mas nikahin aku cuma karena hamil?" lirih Rania masih menyembunyikan wajahnya.
"Nggak, aku nikahin kamu karena cinta, sejak mas mengucapkan ijab kabul hari itu, mas sudah berjanji untuk tidak meninggalkanmu apapun yang terjadi."
"Kenapa semua orang menganggap aku penggoda? Mas benar udah cerai sama kak Melisha, nggak bohong kan? Kenapa kak Melisha berteriak seperti itu? Kenapa aku selalu salah di mata mereka. Aku tau awalnya aku salah, tapi ...."
"Sssttttt, jangan sedih sayang. Jangan dengerin apa kata orang, selama Mas ada buat kamu omongan orang tidak perlu."
"Tapi hati aku sakit. Sampai kapan aku bakal di cap seperti itu mas? Aku berharap satu hari aja aku keluar dari rumah tanpa mendengar bisik-bisik seperti itu."
__ADS_1
"Maaf, maaf salah karena menempatkanmu di posisi seperti ini. Mencemari namamu. Maaf sayang," bisik Rangga. "Udah ya jangan di pikirin, nggak kasian sama anak kita kalau Mamanya nangis mulu, hm?"
"Aku baperan ya mas?" Rangga mengeleng seraya membenamkan bibirnya di kening sang istri.
"Mas ngerti perasaan kamu sayang.
***
Setelah menenangkan sang istri di mobil, Rangga melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sebelah tangannya tak pernah lepas mengenggam tangan sang istri yang lebih baik sekarang.
"Jangan liatin aku mulu mas, ntar nambrak," peringatan Rania.
"Nggak bisa sayang, kamu terlalu cantik untuk di abaikan," gombal Rangga sontak menerbitkan senyum di bibir tipis Rania.
Wajah yang penuh senyuman berubah tegang saat akan berhenti di sebuah kafe untuk makan siang
"Shiit," umpat Rangga saat menyadari rem mobilnya blong. Ia berusaha menurunkan kecepatan, membelokannya ke tempat sepi agar tidak terjadi kecelakaan.
"Kenapa mas, kok mukanya panik gitu?" tanya Rania yang menyadari raut wajah Rangga, terlebih tangan suaminya terasa sangat dingin.
Percayalah, yang di takutkan Rangga bukan dirinya, tapi Rania dan anak mereka. Rangga langsung menarik tangannya, kemudian membanting setir kemudi kekanan saat akan berpapasan dengan truk di tikungan.
"Sialan!" panik Rangga karena kecepatan mobil tak kunjung turun. Menyuruh Rania melompat juga tidak memungkinkan.
__ADS_1
"Rem ... akhhhh ...." frustasi Rangga, mana mobil di sekitarnya semakin Ramai.
"Jangan bilang remnya blong mas?" tanya Rania kaget.
Wanita itu mengatur nafasnya agar tidak ikut panik, menelan salivanya kasar. Mengelus pundak sang suami.
"Jangan panik mas, kita pikirkan solusinya," ujar Rania menenangkan.
"Kalian?"
"Kita bakal selamat mas, kecepatannya nggak bisa turun? Kalau gitu kita kelapangan kosong!" perintah Rania.
Rangga mengangguk, membanting setir kemudi memasuki lapangan kosong yang kebetulan mereka lewati.
Setelah berada di tengah lapangan, Rania meraih tangan Rangga yang terasa sangat dingin. "Jangan khawatir mas, kita nggak bakal kenapa-napa. Jangan panik."
Tidak, Rangga tidak bisa tenang sebelum mobil yang mereka tumpangi berhenti, Ia memejamkan mata, keputusan ini mungkin sangat sulit, tapi jauh lebih baik daripada Rania tetap berada di dalam mobil.
"Dalam hitungan ketiga kamu lompat, di sini nggak ada batu sayang!"
...****************...
Jangan lupa tebar kembang yang banyak
__ADS_1