
Rania menelan salivanya kasar, percayalah kali ini ia sangat takut, terlebih mengingat bagaimana perilaku Rangga saat marah. Waktu pacaran saja ia sering di bentak dan di maki hanya karena dekat sama cowok, entah teman kerja atapun teman kelompok.
Mata Rania terpejam, tak sanggup membalas tatapan tajam Rangga. Bulu kudungnya meremas saat tangan kekar itu meremas lengannya secara perlahan.
"Ak- aku ...."
"Kalau kamu tanya mas cemburu atau nggak, marah atau nggak jawabannya udah pasti iya Rania. Mungkin kalau orang lain yang ngomong gitu sama kamu, mas bakal temuin, terus hajar dia. Sayangnya ini sahabat mas, dan Mas liat dengan mata kepala aku sendiri."
Kalimat yang baru saja keluar dari mulut Rangga membuat Rania bingung. Melihat dengan mata kepalanya sendiri? Ia memberanikan menatap Rangga.
"Mas ada malam itu?"
"Hm, dan mas kecewa saat kamu jawab dari kamar mandi Ran. Malam itu mas hampir aja ngamuk, untung Agas nggak meluk atau ngelus kepala kamu. Mungkin tau batasan sekarang kamu istri mas."
"Maaf karena bohong sama mas, aku nggak mau persahabatan kalian hancur cuma karena aku." Rania memeluk Rangga, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang suami.
Rangga mengangguk mengerti. "Mas nggak marah, mas tau Agas suka sama kamu. Seseorang nggak bisa milih bakal jatuh cinta sama siapa, dan tergantung kitanya yang menanggapi. Memilih memperjuangkan, atau kehilangan dengan cara mengikhlaskan."
"Mas percaya sama Agas, dia nggak mungkin ngambil kamu dari mas. Kalau emang dia mau ngambil kamu, udah dari dulu dia ambil kesempatan. Pernah nggak Agas jelek-jelekin mas sama kamu?"
Rania mengeleng. "Nggak, dia selalu nyuruh aku buat percaya sama Mas," jawabnya.
"Kalau Agas menganggap cinta tak harus memiliki, maka mas beda Ran. Mas menganggap cinta harus di perjuangnya, pantang menyerah sebelum memiliki tanpa memikirlan resiko yang terjadi. Bodoh nggak sih?" Rangga tertawa hambar.
Karena caranya menanggapi sebuah cinta ia harus menempatkan Rania dalam bahaya sama seperti sekarang. Karena ke egoisannya ia harus menanggung akibat yang sangat fatal.
__ADS_1
"Mas nggak bodoh."
***
Memastikan Rania tidak ada di sekitarnya, Rangga coba-coba menghubungi salah satu nomor yang di berikan Alana tempo hari, dan pilihannya terjatuh pada nama Rayhan.
Pangilannya sempat tidak di jawab. Namun, ia tak menyerah hingga ada jawaban dari seberang telpon.
"Selamat sore ada yang bisa saya bantu? Dengan siapa?" tanya seorang pria seumuran Alana di seberang telpon.
"Saya Rangga, saya mendapat nomor Anda dari Nona Alana."
"Oh Alana, ada apa?"
"Jalur hukum?"
"Tidak perlu. Pria yang menyerang istri saya akan keluar dari penjara hari ini."
"Ok, nanti saya hubungi lagi."
Rangga memandangi ponselnya setelah panggilan terputus, apa benar orang yang baru saja ia hubungi adalah CEO GR Scientist group? Perusahaan yang bergeran di bidang IT.
Lamunan Rangga harus buyar karena panggilan Rania dari kebun belakang, ia langsung menyimpan ponselnya dan segera menyusul sang istri.
"Iya sayang, tunggu," sahut Rangga seraya berjalan.
__ADS_1
"Ayo bantu aku panen sayuran!" ajak Rania. "Itu tomat sama cabainya di petik yang masak aja ya mas!" perintah Rania.
"Cuma itu?"
"Iya."
Setelah menyuruh Rangga, Rania kini fokus memotong kangkung darat untuk ia stok di kulkas sebelum jiwa rajinnya meronta-ronta.
Takunya jika menunda-nunda, moodnya tidak baik hingga bergerak aja ia engang.
"Mas Rangga, di petik buahnya bukan di patahin rantingnya!" kesal Rania saat melihat kelakuan sang suami.
Pohon tomat dan cabainya kini tidak berbentuk lagi. Rangga memang memilih yang masak, salahnya karena langsung mematahkan ranting.
"Biar nggak lama Yang, liat langsung banyak kan? Nanti mas pisahin sama ranting di dalam aja," jawab Rangga tanpa dosa.
"Mas ish, nyesal aku nyuruh mas. Kalau rantingya di patahin nggak berbuah lagi. Udahlah, capek-capek rawatnya mas matahin gitu aja." Rania beranjak, membawa kotak berisi kangkung ke dapur, membersihkannya dengan wajah cemberut.
"Ya mana mas tau," jawah Rangga tanpa rasa bersalah. "Masa gitu aja ngambek sih Yang."
Hening, hanya suara kerang yang terdengar dari dapur. Rania kali ini benar-benar marah pada sang suami. Hari ini adalah panen pertamanya. Tanaman yang seharusnya masih bisa di panen lain hari harus mati hanya sekali panen.
...****************...
Tebar kembang yang banyak jangan lupa🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1