Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 115 - Tidak Rela Berpisah


__ADS_3

Rania sungguh menyesal menceritakan keinginannya pada Rangga sore tadi. Lihatlah, ia harus pulang malam karena belanja banyak hal, terutama tas yang ia sebutkan tadi.


Wanita itu langsung membaringkan tubuhnya di ranjang karena sangat lelah. Beberapa paper bag memenuhi sudut ruangan, Rangga seperti kesurupan belanja untuknya.


Ia membuka mata saat benda kenyal yang sangat dingin menyentuh keningnya. Ia tersenyum melihat wajah sang suami yang begitu dekat dengannya. Tanpa menunggu abah-abah ia mengalungkan tangan kemudian mengecup bibir tebal itu.


"Nakal ya istrinya mas." Rangga menyentil bibir Rania.


"Mas juga suka."


"Mandi dulu sayang, setelah itu kita makan." Rania mengeleng semakin mengeratkan pelukannya di leher Rangga. Membuat laki-laki yang hanya terbalut handuk itu semakin menunduk.


"Beneran seminggu mas?" lirih Rania.


Ini pertama kalinya mereka akan berpisah setelah menikah, dan ia juga tidak boleh egois, tak membiarkan Rangga pergi. Suaminya harus pergi karena urusan pekerjaan.


Rangga mengangguk, mengambil kesempatan dalam kesempitan, ia merangkak naik ke ranjang, kemudian menindih tubuh Rania. Wajah gadis itu terlihat cemberut. Bukan hanya Rania yang tidak rela, Rangga juga.


"Aku ikut ya," bujuk Rania dengan suara lirih.


"Nggak bisa sayang, mas bakal kunjungi dua kota sekaligus, kamu bakal capek di perjalanan aja. Mas janji bakal selesai secepatnya biar cepat pulang," bujuk Rangga.


"Gitu ya?"


"Iya sayang. Oh iya, kebetulan Mas bakal ke kota Nenek Nena juga, kamu telpon, biar sekalian mas ambilin semua barang kamu."

__ADS_1


Bibir Rania semakin mengerucut mendengarnya, tak tahukan Rangga ia juga sangat merindukan nenek Nena?


Cup


Cup


Cup


"Setelah pulang dari sana, kita liburan janji," bujuk Rangga kembali menatap intens wajah Rania setelah mendaratkan ciuman berkali-kali.


"Kalau kamu emang benar-benar nggak mau mas pergi, yaudah nggak papa. Nanti Lingga yang tanganin semua," putus Rangga.


"Ng-nggak bukan gitu mas, nggak papa kok mas pergi, aku nggak papa di tinggal, cuma seminggu iya kan? Oh iya ponsel mas mana?"


Rania melepaskan rangkulannya, hendak keluar dari kungkungan Rangga. Namun, tidak semudah itu, siapa suruh wanita itu memancing lebih dulu, padahal suaminya mempunyai otak mesuk di atas rata-rata.


"Mau kemana hm? Mas udah bangun dari tadi karena kamu, sekarang tidurin dulu. Oh iya, sekalian mas mau ambil jatah selama seminggu."


Mata Rania terbelalak, jatah selama seminggu? Yang benar saja.


"Ka-katanya mau makan malam. Ay-ayo, mas pakai baju dulu."


"Nanti aja pakai bajunya, lagian mas mau mandi lagi setelah ini."


Rania mengigit bibir bawahnya. "Anak kita, pelan-pelan," lirih Rania saat Rangga mulai menjalari lehernya.

__ADS_1


Rangga mendongak dengan seringai liciknya, laki-laki itu berbaring telentang di samping Rania. Sekali tarikan, wanita hamil itu kini berada di atas tubuhnya


"Yaudah kamu yang pimpin, biar tau pelannya gimana!"


Blush


Pipi Rania bersemu merah, jantungnya berpacu sangat hebat. Ia malu dan salah tingkah sekarang, apa lagi Rangga tengah menatapnya tanpa berkedip.


Ia juga tidak ingin bergerak saat merasakan sesuatu sangat keras di balik handuk di mana ia sedang duduk.


"Ayo sayang, mau panduan?"


"Mas ish, aku malu." Rania menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Tak tahan lagi beralam-lama, laki-laki itu langsung duduk hingga Rania hampir tejungkal kebelakang kalau saja Rangga tidak menahan pinggangnya.


Rania memejamkan matanya saat benda kenyal menyentuh bibirnya sangat lembut tidak seperti biasanya. Rangga meraba-raba sesuatu di sekitarnya hingga tangannya sampai di saklar.


Klep


Lampu padam, berbarengan Rania berada dalam kendali Rangga saat ini


...****************...


Jangan lupa tebar kembang sebanyak-banyaknya. Vote, like di pencet, dan komen yang banyak.

__ADS_1


__ADS_2