Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 73 - Sama-sama Bucin


__ADS_3

Rania tidak mendengarkan Rangga, tetap membangungkan adik-adiknya terutama Relia yang akan berangkat sekolah.


"Sarapan dulu sebelum berangkat," ucap Rania setelah melihat Relia sudah siap dengan seragam sekolahnya.


"Senang deh kalau ada Mbak, tiap pagi ada sarapan," gumam Relia ikut bergabung dengan Rayna di meja makan.


Karena Rania sudah selesai makan sedari tadi, wanita itu berjalan ke depan rumah untuk mencari sang suami. Namun, ia tak menemukan laki-laki itu di depan rumah, hanya mobil hitam milik ibunya. Mobil hasil uang tipuan dari Rangga.


Sampai sekarang Rania tidak tahu bahwa ia sudah di jual oleh Winarti pada Rangga. Rangga juga tidak ingin mengungkit itu semua, takut Rania bersedih.


Wanita cantik berbadan dua itu segera masuk dan meneriakkan nama Rangga.


"Mas Rangga?" panggil Rania.


"Mas di belakang Ran," sahut Rangga.


Rania segera menyusul, berdiri di ambang pintu belakang, di sana Rangga sedang duduk di sebuah batu dengan sebatang rokok di tangannya.


"Kenapa nyari Mas?"


"Nggak ada cuma nyari aja, Mas mandi gih, mumpung air nyala!" perintah Rania.


Air di kampung Rania terbilang sedikit susah, harus mengantri bersama tetangga lainnya.


"Jangan mendekat Ran, Mas lagi ngerokok, itu nggak bagus buat kesehatan kamu," tegur Rangga, tapi Rania terus berjalan menghampirinnya.


Dengan cepat laki-laki itu membung puntung rokok dan menginjaknya, tak lupa melepas baju kaos yang mungkin saja bau asap.


"Ngeyel ya istri Mas."

__ADS_1


"Mas juga ngeyel, masih aja ngerokok padahal calon dokter."


"Cuma sesekali Yang."


"Rokok tuh bikin candu Mas, mungkin hari ini dan besok sesekali, sebatang dua batang. Tapi lama-lama makin banyak," omel Rania.


"Lia udah berangkat sekolah? Bareng kita aja kalau gitu," usul Rangga mengalihkan topik. "Mas mau mandi ...."


"Udah telat kalau mau nunggu Mas. Nanti aja kita nyusul, sekarang mas Mandi, biar pakaiannya sekalian aku cuci."


Memang keduanya ada rencana ke sekolah untuk mengurus kepindahan Relia agar lebih cepat selesai.


"Kamu yang bakal nyuci? Nggak usah, nyuci otomatis kamu bakal jongkok, perut kamu ke himpit, ntar sakit."


Rania hanya mengeleng, menghadapi ke posesifan Rangga terhadap dirinya. Tapi ini sudah berlebihan menurut Rania, hanya cuci baju itupun cuma baju mereka berdua. Adik-adik Rania cukup tahu diri, kedua gadis itu menyembunyikan pakaian kotor masing-masing agar Rania tidak mencucinya.


"Nggak sayang, aku bakal duduk."


"Ish, apaan sih, mending mas duduk aja atau ngapain."


Lama berdebat, akhirnya Rania mengalah. Alhasil Rangga ikut ke kamar mandi untuk membantunya mencuci baju.


"Mbak, Ina ke luar bentar ya!" teriak Ina dengan kepala sedikit muncul di ambang pintu kamar mandi.


"Mau kemana Ina? Naik apa?"


"Di jemput sama bang Radit."


Rania menoleh. "Pacar kamu?"

__ADS_1


"Iya, sekalian mau izin sebelum ikut mbak."


Rania tertawa meledek. "Kasian yang bakal LDR. Jangan pulang malam ya."


"Oke Mbak. Oh iya, bang Rangga jaga mbak Ina ya, dia nggak mau diam orangnya."


Memang benar, Rania perempuan yang terlewat aktif. Tidak akan istirahat sebelum rumah benar-benar bersih, sebersih-bersihnya.


Sepeninggalan Ina, Rangga menatap Rania dengan senyuman jahil, tangan yang penuh busa itu menjentik hidung sang istri.


"Gemes banget sih istrinya Rangga. Pengen di karungin."


"Mas."


"Dalem sayang?" sahut Rangga dengan suara yang sangat lembut.


"Apaan sih mas. Bisa aja buat aku salting. Nyahutnya kayak biasa aja," gumam Rania menunduk karena tersipu.


Rangga langsung menangkup wajah Rania, tak peduli dengan busa sabun di tangannya. Mengecup bibir pink Rania yang sengat menggoda itu, bibir yang selama ini ia rindukan.


Cup


cup


cup


"Anak kita nggak kangen apa sama Papa nya?" bisik Rangga setelah mengecup bibir Rania berkali-kali.


"Ng-nggak!" Rania sedikit ngegas karena salah tingkah. "Aku mau jemur ini dulu."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2