Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 24 - Aku Tidak Mungkin Hamil!


__ADS_3

Rania kembali menemui Dewi setelah puas menangis di ruang istirahat. Hari ini ia tidak semangat bekerja, tubuhnya seakan lelah mengerjakan sesuatu, tidak seperti biasanya.


"Dewi, aku izin pulang boleh nggak?" ucap Rania.


"Kamu sakit? Pulang aja nggak papa. Atau mau aku antar?" tawar Dewi melihat wajah pucat Rania.


"Cuma lelah aja aku bisa pulang sendiri, lagian kontrakan aku dekat sini kok."


"Hati-hati kalau gitu, kalau ada apa-apa telpon aku ya."


Rania hanya mengangukkan kepalanya, berjalan dengan langkah gontai keluar dari Cafe. Ia berjalan di bawah terik matahari yang sangat menyengat, hingga peluh membanjiri tubuhnya.


"Panas bangat." Rania sedikit berteduh di bawah pohon. "Dikit lagi sampai, nggak usah manja mau naik taksi," gumamnya.


Lama Rania berdiri di bawah pohon, bukannya semakin semangat, tubuhnya malah semakin lemah. Penglihatan wanita itu mulai menggelap, tapi kesadarannya masih utuh.


"Kok gelap gini." Baru saja akan melangkah, tubuhnya ambruk di pinggir jalan.


***


Rania terbangun dengan kepala sedikit pening, ia mengedarkan pandangannya dan mendapati ruangan serba putih tanpa penghuni.

__ADS_1


Ia susah payah bangun sembari memegangi kepalanya, turun dari ranjang hendak pergi tapi kedatangan wanita paruh baya berjubah putih menghentikan pergerakannya.


"Mau kemana mbak? Kalau masih lemes istirahat aja dulu.


Rania terdiam sejenak membaca situasi di sekitarnya, ruangan serba putih dengan perempuan berpakain dokter, itu artinya ia ada di rumah sakit. Takut akan biaya yang membengkak jika ia terus berada di sana, Rania langsung beranjak.


"Aku nggak papa dok, aku juga udah nggak lelah," bohong Rania.


"Serius?" Rania mengangguk yakin.


"Kalau begitu tunggu sebentar." Dokter itu langsung meninggalkan Rania seorang diri.


Dokter itu kembali lagi dengan kantong obat di tangannya lalu menyerahkan pada Rania. "Lain kali mbak harus jaga pola makan agar tidak kelelahan, apa lagi mbak sedang mengandung. Kasian janinnya mbak."


"Nggak mungkin aku hamil Dok, pasti ada kesalahan," lirih Rania tidak ingin percaya.


"Saya tidak mungkin salah Bu, hasilnya sangat akurat," jawab dokter itu.


"Nggak mungkin," gumam Rania berjalan tanpa arah, bahkan menghiraukan panggilan dokter.


Wanita itu berjalan keluar dari rumah sakit dengan perasaan kacau. Kenapa hidupnya harusnya seperti ini? Apa yang ia impikan tidak pernah tercapai, malah hal lain yang terus terjadi.

__ADS_1


"Nggak mungkin!" teriak Rania hingga ia menjadi pusat perhatian di depan rumah sakit. Bahkan ia tidak sempat menanyakan siapa yang membawanya kerumah sakit.


Hatinya terguncang, ia tidak pernah memikirkan ini sebelumnya. Ia selalu memperigatkan Rangga kalau ia tidak ingin hamil, ia takut. Tapi laki-laki itu selalu mengatakan.


Semuanya akan baik-baik saja, kalaupun kamu hamil aku bakal tanggung jawab.


"Apa kamu bakal nepatin janji kak?" gumam Rania.


"Rania?"


Rania bergeming, tidak menoleh sampai laki-laki berbadan tegap berdiri di sampingnya. Dia adalah Agas, laki-laki yang membawa Rania kerumah sakit.


Laki-laki itu tidak sengaja lewat dan mendapati Rania tergeletak di jalan.


"Kamu kenapa? Kenapa ada di sini? Harusnya kamu istirahat," omel Agas, hendak menyentuh lengan Rania tapi wanita itu menepisnya.


"Menjauhlah kak, aku bukan wanita suci, aku kotor sekotor-kotornya!" bentak Rania.


"Jaga ucapan lo Ran, gue nggak pernah nganggap lo wanita kotor." Agas menarik paksa Rania lalu memeluknya untuk menengkan wanita itu.


"Bubar!" bentak Agas pada pengunjung yang mulai berkerumung.

__ADS_1


"Aku mau mati," gumam Rania dalam pelukan Agas.


...****************...


__ADS_2