
Agas mengusap air mata Rania setelah berada di dalam mobil. "Udah nangisnya Ran. Kamu kenapa Hm? Ada yang sakit? Apa kata dokter tadi?" tanya Agas. Laki-laki itu pergi karena telpon dari ibunya, saat kembali ia sudah mendapati Rania di depan rumah sakit seperti orang linglung.
"Aku nggak papa kak, mungkin cuma banyak pikiran." Rania menyingkirkan tangan Agas dari wajahnya.
"Kita pulang kalau gitu." Rania hanya mengangguk.
Sepanjang jalan Rania tak mengeluarkan suara sepatah katapun, wanita itu sibuk memejamkan matanya. Rasa sakit di kepala juga hatinya masih terasa.
"Ran, kamu tidur? Kita udah sampai," ucap Agas.
Rania membuka mata, melempar senyum tipis pada Agas. "Makasih kak udah mau nganter aku pulang."
Agas mengangguk. "Kalau ada apa-apa langsung telpon aja, gue ada waktu kok."
"Nggak perlu kak. Sebaiknya kakak menjauh dari aku, aku nggak mau kak Agas kena sial," gumam Rania setelahnya berjalan menuju kontrakan.
Rania merebahkan dirinya di tempat tidur. Pikirannya sedang kacau dan bimbang. Di sisi lain ia ingin menjauhi Rangga dan berusaha melupakan laki-laki itu. Tapi di sisi lain ia memikirkan janin yang ada di perutnya.
Tidak mungkin ia hamil tanpa seorang suami, apa kata tetangganya yang lain? Satu yang pasti ia bakal menjadi bahan ejekan, belum lagi di usir dari kontrakan karena berbuat aib.
Rania meraih ponselnya dan segera menelpon sang ibu. Baru deringan pertama panggilannya sudah di jawab.
"Ibu."
"Ngapain kamu telpon ibu? Mau ngirim uang? Nggak usah udah ada Rangga yang ngirim setiap bulannya."
__ADS_1
"Aku boleh pulang nggak ke kampung?" lirih Rania walau ia sudah tahu apa jawabannya.
"Ngapain kamu mau pulang? Mau malas-malasan? Kamu itu harus kerja, gimana kalau pacar kamu nyari? Terus marah dan nggak ngirim uang lagi," omel Winarti.
"Tapi Rania kangen sama ...."
"Nggak usah manja, kamu bukan anak kecil lagi."
Tut
Sambungan telpon terputus begitu saja.
"Aaaakkkkhhhhhh! Kenapa semua orang benci sama aku? Apa aku hidup di dunia hanya untuk hidup seperti ini?" Tangis Rania pecah.
Masa-masa indah yang pernah ia alami selama setahun terakhir ternyata tidak gratis, terbukti sekarang ia semua membayarnya.
"Kenapa kamu harus hadir di perut aku? Kenapa!" bentak Rania memukul perutnya berkali-kali hingga lelah.
Rania beranjak, menuju dapur dan mencari benda tajam. Ia tersenyum pedih memandangi pisau di tangannya. Rania mengangkat benda runcing dan tajam itu sedikit tinggi bersiap menancapkan di perut ratanya.
Prank!
Pletak!
"Lo gila!" bentak Agas melempar benda tajam itu sejauh mungkin.
__ADS_1
"Aku mau mati kak," gumam Rania.
"Kenapa buru-buru? Mungkin hari ini dunia lo sedang gelap, tapi bukan berarti besok dan seterusnya akan tetap seperti itu. Bisa saja besok atau lusa akan ada pelangi yang menerangi hidup lo."
"Apa yang harus aku lakukan kak? Aku hamil ...," lirih Rania jatuh tersungkur kelantai. "Rasa pedih apa lagi yang akan aku alami. Kak Rangga pergi tanpa kabar, dan nggak mungkin aku ngabarin dia tentang kehamilan aku. Aku nggak mau ngerusak rumah tangannya."
"Hamil di luar nikah memang bukan hal yang harus di benarkan, tapi bukan berarti lo mau ngorbanin janin di dalam perut lo Rania, dia nggak bersalah. Ini salah lo sama Rangga!" tegas Agas.
Dari dulu ia tidak pernah setuju akan hubungan Rangga dan Rania. Tapi bukan berarti ia setuju Rania mengugurkan kandungannya begitu saja.
Agas sangat beruntung karena datang tepat waktu, atau nyawa Rania akan dalam bahaya. Untung saja Rania meninggalkan dompetnya di mobil Agas.
"Mau atau nggaknya Rangga bertanggung jawab, lo harus beritahu dia tentang kemahilan lo ini. Jangan bodoh mau nanggung semuanya sendiri Rania! Dia juga ikut andil dalam hal ini."
Rania mengeleng, terus menangis meratapi nasibnya.
"Apa harus gue yang nelpon?"
"Jangan!" cegah Rania. "Aku bakal ngomong sama kak Agas tapi nggak sekarang."
"Itu terserah kamu, tapi janji sama gue lo nggak bakal ngelakuin hal kayak tadi!" pinta Agas di jawab anggukan oleh Rania.
Agas merongoh saku celananya, mengambil dompet dan mengeluarkan kartu nama. "Itu no Rangga yang baru, telpon dia! Kalau dia nggak jawab, telpon no perusahaanya sekitar jam 9 pagi, pasti bakal di jawab."
...****************...
__ADS_1