Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 22- Mangga Muda


__ADS_3

"Sorry, reflek," ujar Rangga langsung menjauhkan tangannya dari kepala Rania.


"Nggak papa kak. Makasih udah buat aku ketawa." Rania beranjak dari duduknya. "Aku ke kelas dulu, sampai jumpa."


"Hati-hati!" teriak Agas.


Laki-laki itu mendekatkan tanganya kehidung sembari tersenyum. "Wangi," gumamnya.


***


Setelah kepergian Rangga tanpa kabar, akhir-akhir ini Agas selalu muncul di mana saja dan kapan saja saat Rania sedang duduk seorang diri. Entah itu di kantin, pinggir lapangan, ataupun di taman.


Tak jarang laki-laki itu juga selalu menghibur Rania di kala sedih. Bahkan senyuman cerah yang sempat hilang di wajah Rania kembali lagi.


"Hayo liatin apa lo?" Agas langsung menepuk pundak Rania yang sedang duduk di pinggir lapangan memperhatikan pemain volli.


"Cuci mata biar otak fress. Kata kak Agas kan, mandangin cowok tampan bisa memperlancar kinerja otak," jawab Rania.


"Ish, yang tampan itu cuma gue. Lo sih nggak ngerti kalimat gue." Agas mencubit pipi Rania.


"Sakit kak, malu juga."


Agas hanya menaikkan salah satu alisnya. "Kenapa harus malu? Emang kita ngapain?"


"Ya nggak ngapa-ngapain sih." Rania duduk miring menghadap Agas, meletakkan buku di pangkuannya di antara mereka. "Kak Agas punya pacar atau istri?"


Agas mengernyit bingung. "Kenapa emangnya?"


"Aku takut aja di cap ...."


"Syutt ...." Agas reflesk menempelkan jarinya di bibir seksi Rania. "Gue jomblo dari lahir asal lo tau."

__ADS_1


"Ish tangan kak Agas kok asin," protes Rania.


"Hah, masa sih? Njir tadi gue habis megang garam."


"Garam?"


Agas mengaruk tengkuknya malu. "Habis nyolong mangga di belakang." Cenggirnya tanpa dosa.


Mata Rania seketika berbinar mendengar kata mangga. "Serius kak? Masih ada? Aku dari kemarin pengen makan tapi nggak ketemu."


"Beneran mau nih?" Rania mengangguk.


Agas segera berdiri, langsung menarik tangan Rania meninggalkan lapangan yang penuh akan mahasiwsa.


"Mau kemana?"


"Nyolong mangga," jawab Agas.


Pohon mangga itu katanya di tanam oleh anak fakultas kehutanan.


"Banyak banget," gumam Rania.


"Lo tunggu disini, biar gue manjat. Eh sekalian Ran, di pojok sana gue nyimpen garam di isi toples, lo ambil dah." Tunjuk Agas di sekitar bangku rusak sebelum memanjat pohon.


Ya Agas bukanlah anak dari kalangan pengusaha, orang tuanya cuma pegawai negeri biasa. Dan ia kuliah mengambil jurusan manajemen.


Hal seperti ini sering ia lakukan saat SMA dulu, dan Rangga salah satu temannya.


"Udah dapat!" teriak Rania memperlihatkan toples kecil.


Agas hanya mengacungkan jempolnya, memetik beberapa buah mangga dan mengisinya kedalam tas. Dirasa sudah banyak barulah Agas turun menemui Rania.

__ADS_1


"Nih, awas aja kalau nggak habis!"


"Makasih kak."


Baru saja Rania akan duduk di rumput, Agas segera mencegahnya. Melepas kemeja yang ia pakai lalu mengelarnya seperti tikar. "Duduk sini, rok lo bisa kotor."


"Tapi kemeja kak ...."


"Habis ini gue nggak ada kelas, nggak kayak lo sibuk sampai malam. Kan nggak banget tuh beraktivitas dengan baju kotor."


Dengan tak enak hati Rania segera duduk beralaskan kemeja Agas.


"Nggak ada pisau, lo mau makan kan kalau gue pecahin nih mangga pakai batu?" tanya Agas di jawab anggukan oleh Rania.


"Jadi keingat kampung aku kak. Pas SMA sering gini di sekolah."


"Sama dong."


Agas menelan salivanya kasar melihat cara makan Rania. Baru kali ini ia melihat seseorang makan mangga seperti makan nasi.


"Garam?" tawar Agas.


"Nggak usah kak, nggak asem pun."


"Ya kali!"


"Nggak percaya? Cobain deh."


"Lo kira gue gila, mana ada mangga muda nggak asem, dasar calon dokter aneh."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2