Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 46 - Pertengkaran


__ADS_3

Bugh!


Rangga membalas pukulan Agas, laki-laki itu begitu murka mendengar Agas ingin mengambil Rania.


"Maksud lo apa Hm? Lo mau nikung gue?" ucap Rangga.


Kini keduanya adu tatapan tajam seraya saling mencekram kerah baju satu sama lain.


Agas senyum sinis. "Gue suka sama Rania kalau lo lupa Ga. Tapi selama ini gue ngalah karena gue tau lo tulus cinta sama dia. Tapi setelah apa yang terjadi belakangan ini, gue jadi berpikir buat ngerebut dia."


Bugh.


Agas jatuh tersungkur karena pukulan Rangga yang kedua, laki-laki itu berjongkok untuk mencekram kerah Agas. "Jangan coba-coba lo ambil Rania dari gue!"


Cih


Agas berdecih. "Gara-gara lo hidup Rania hancur, cita-citanya hilang gitu aja. Semua orang mandang dia wanita nggak benar!" teriak Agas.


"Beberapa hari yang lalu dia hampir aja mati di tangan orang suruhan keluarga lo sendiri! Dan lebih parahnya lagi, seluruh kampus mengunjingnya wanita penggoda karena pesan pengakuan Rania bahwa dia hamil."

__ADS_1


"Ini yang namanya cinta? Membiarkan orang yang dia cintai melarat di luar sana, sementara lo hidup tenang dan bergelimang harta?"


Tatapan Agas kian menajam. Ia langsung menghempaskan cengkraman Rangga yang melemah. "Nggak semua kebahagian harus di ukur dengan uang Rangga! Rania nggak butuh harta dari lo! Dia cuma mau lo bertanggung jawab atas apa yang lo lakuin. Bukan malah berdiam diri seperti ini tanpa melakukan apapun!"


"Dimana Rania?" tanya Rangga.


"Lo tanya dia dimana setelah apa yang lo lakuin? Gue nggak tau dia ada dimana, dan kalaupun gue tau, gue nggak bakal ngasih tau lo sebelum lo cerain Melisha."


"Nggak segampang itu Agas, lo nggak tau ...."


"Gue nggak butuh alasan apapun dari lo, gue kesini cuma mau bilang, kalau lo nggak bisa jamin keselamatannya dari istri dan ayah lo, maka berhenti mencari Rania!"


"Sialan!" teriak Rangga frustasi, ia mengira Ayahnya menepati janji saat ia juga menepati janji ternyata tidak.


Dan ia tidak pernah menyangka, Rania semenderita itu di luar sana.


"Anda tidak apa-apa Tuan?" tanya sekretaris Rangga yang langsung masuk setelah mendengar teriakan.


Rangga menepis tangan sekretarisnya. "Dimana Edwin?" tanya Rangga dengan tatapan memerah dengan emosi berkobar dalam dirinya.

__ADS_1


"Tuan Edwin ada di mansion Tuan."


Tanpa mengatakan apapun, atau menitip pesan pada sekretarisnya, Rangga berlalu pergi untuk memberi pelajaran pada ayahnya. Selama ini Rangga diam saja bukan karena takut, tapi ia fokus pada tujuannya. Tapi sepertinya Edwin sudah membangungkan sisi lain dalam diri seorang Rangga.


Sesampainya di rumah, Rangga langsung mengampiri ruang kerja ayahnya, masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Bugh!


Tanpa belas kasihan, Rangga langsung memberi bogeman pada wajah sang Ayah.


"Aku mengira dengan menuruti semua keinginan ayah, hidup Rania akan baik-baik saja ternyata tidak!"


"Ma-maksud kamu apa Rangga!" tanya Edwin dengan intonasi tinggi, mengusap sudut bibirnya yang berdarah karena pukulan darah dagingnya sendiri.


"Jangan pura-pura polos sialan!" Emosi Rangga semakin membara. "Kenapa kau tega mengamcam keselamatan calon cucumu sendiri? Aku tau dia wanita yang tidak kau ingingkan, tapi tidak sepantasnya kau mengancam keselamatannya!"


"Apa yang kau katakan Rangga? Ayah tidak pernah menyentuh atau berniat menyakiti Rania dan calon anakmu! Ayah tidak akan pernah mengingkari janji sebelum kau sendiri yang memulai!" tegas Edwin.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2