
Rania yang sibuk di dapur bersama Rayna harus di kagetkan dengan kedatangan Winarti. Wanita itu menoleh saat namanya di panggil.
"Kamu berani bantah ibu? Bukannya keluar malah masak di sini, ayo!" tukas Winarti menarik paksa tangan Rania agar ikut dengannya ke ruang tamu.
Winarti sudah menunggu kedatangan Rania sejak tadi, bukannya nongol malah menghilang. Padahal sedari tadi Jeky sudah menanyakan keberadaan Rania. Wanita yang semasa sekolah dulu menjadi incaran laki-laki sekampungnya. Namun, Rania tidak pernah tertarik, bukan sombong, tapi bapaknya terlalu tegas hingga untuk mengenal laki-laki saja tidak boleh.
Dan sekarang putri yang dia jaga sangat ketat malah hamil di luar nikah setelah kepergiannya pada sang pencipta.
Rania hendak duduk di samping ibunya, tapi wanita paruh baya itu malah mendorong ke tengah dan terduduk tepat di samping Jeky.
Ia meremas ujung bajunya, merasa gugup dan takut, apa lagi saat melihat tatapan Jeky yang sangat menyeramkan. Bukan menyeramkan galak, tapi tatapan mesum yang Rania takutnya.
"Bagaimana nak Jeky? Rania tambah cantik setelah dari kota kan?" tanya Winarti.
Winarti sudah sejak lama menyerahkan Rania pada Jeky. Wanita itu selalu berjanji akan menikahkan Rania dengan Jeky saat pulang nanti setiap kali datang meminjam uang.
__ADS_1
Jeky tak melepaskan tatapannya dari Rania yang sedang menunduk. Hingga wanita itu tersentak saat sebuah tangan kekar mengelus pahanya yang terhalang kain.
"Sangat cantik, nggak sia-sia saya nunggu dia bu," jawab Jeky.
Dengan cepat Rania menepis tangan Jeky dari pahanya, bukannya berhenti, Jeky malah bertingkah semakin meremas paha mulus itu. Rania mengigit bibir bawahnya, ia tidak dapat menahan hinaan ini. Di lecehkan di depan ibunya sendiri, tapi sang ibu bukannya marah malah tersenyum.
"Karena niat baik tidak baik di tunda-tunda, sepertinya pernikahan kita percepat lusa saja Bu. Saya sudah tidak sabar menjadikan Rania istri saya." Jeky melirik ajudannya.
Orang yang dilirik segera mengeluarkan berupa map berisi kertas yang sepertinya akan di tanda tangani.
"Kalau ibu setuju akan pernikahan ini, silahkan tandatangani, dan semua hutang ibu akan lunas, plus akan mendapatkan rumah mewah."
"Saya tidak ingin menikah! Lagi pula saya sedang Ha ...."
"Sudah," potong Winarti, menyerahkan surat yang telah di tandatangani pada Jeky.
__ADS_1
"Ibu?" bentak Rania tak percaya.
"Diamlah Rania, dimana sopan santunmu? Jaga sikap di depan calon suami kamu!" tegur Winarti.
Jeky tertawa, ikut berdiri dan mengelus lengan Rania. "Tidak apa-apa bu, saya suka gadis seperti Rania, selain cantik dia juga sedikit bar-bar, saya sudah tidak sabar menantinya di malam pertama," ujar Jeky.
Setelah kepergian Jeky dan ajudannya, Winarti menarik Rania ke dalam kamar, mendorong tubuh putrinya hingga terhempas ke tempat tidur.
"Beraninya kau membentak ibu di depan orang lain Rania! Apa sopan santunmu sudah hilang setelah dari kota?"
"Aku hamil bu, aku tidak boleh menikah dengan siapapun. Kalaupun aku harus menikah, maka laki-laki itu harus tahu bahwa aku sedang hamil!" ucap Rania, baru kali ini ia berkata pada ibunya dengan intonasi tinggi.
"Aku haram di sentuh oleh siapapun setelah menikah Bu! Aku sedang hamil, kalaupun menikah, Jeky tidak bisa menyentuhku sebelum aku melahirkan!"
"Dan kenapa ibu tega jadikan aku pembayar utang? Apa aku bukan anak kandung ibu?"
__ADS_1
"Tutup mulutmu Rania! Sudah untung Jeky mau menikahi kamu untuk membayar semua utang bapakmu, kau jangan jual mahal seperti itu!"
...****************...