
Satu hari sebelum hari H, Rania di bawa pergi oleh ibunya untuk membeli gaun uang dari Jeky. Winarti sudah sangat sibuk mengurus pernikahan putri pertamanya, tanpa mendengarkan cemohan para tetangganya.
Winarti sudah sangat kebal tentang omongan tetangga, apa lagi sekarang ia akan menjadi mertua orang terkaya di kampungnya. Orang yang mempunyai kekusaan melebih kepala desa. Polisi di kampung itu saja takut. Ralat bukan takut, tapi mereka hanya mendukung orang-orang berkuasa. Hingga Jeky tidak pernah di tuntut atas KDRT dalam rumah tangga.
Padahal duda tanpa anak itu sudah beristri sebanyak tiga kali, dan ketiganyapun, pergi karena tak sanggup hidup dalam siksaan setiap hari.
Bahkan ada yang belum keluar dari rumah sakit karena kekejaman Jeky. Banyak yang tidak menyukai Jeky di kampung, tapi apa boleh buat, mereka takut untuk berurusan dengan orang kaya.
Rayna yang berada di rumah bersama Relia memikirkan cara untuk membatalkan pernikahan Rania. Sebesit ide terlintas di kepala Rayna setelah lelah mondar-mandir di ruang tamu sembari mengigit kuku jarinya.
"Kita harus telpon pacar mbak Rania. Aku tidak peduli pacarnya punya istri atau tidak, laki-laki itu harus betanggung jawab pada mbak. Setidaknya mengagalkan pernikahan," ujar Rayna tiba-tiba.
"Lia setuju mbak. Tapi dimana kita bisa dapat nomor pacarnya mbak Nia? Mbak Nia nggak mau ngasih, ponselnyapun ada di ibu," sahut Relia.
"Mbak tau Lia. Gimana kalau kita curi ponsel mbak Nia? Kayaknya ibu nyimpen di kamar deh," usul Rayna di jawab anggukan oleh Relia.
Sebelum masuk ke kamar ibunya, Relia terlebih dahulu mengunci pintu rumah. Sangat di untungkan kamar ibunya tidak di kunci, jadi keduanya bisa langsung masuk.
__ADS_1
Kedua gadis cantik dengan karakter yang hampir sama itu, mulai mengeledah kamar ibunya sendiri seperti pencuri.
Sudah satu jam lamanya mencari, tatepi mereka tak menemukan apapun.
"Coba mbak telpon," usul Relia langsung di angguki oleh Rayna.
Gadis cantik itu segera mendial no Rania. Namun, tidak aktif, sepertinya Winarti sengaja mematikan agar tidak ada yang menelpon.
"Di bawah kasur!" Rayna menunjuk kasur.
Dengan sigap Relia mencarinya, tapi tetap hasilnya zonk.
Tanpa banyak bicara, Rayna langsung memajat di pembatas jendela, hanya satu tempat yang belum mereka geledah, yaitu di atas lemari, di sana banyak kotak.
Senyum Rayna mengembang saat mendapat benda pipih yang tak lain punya Rania.
"Mbak dapat Lia!" seru Rayna, langsung melompat ke tempat tidur.
__ADS_1
Relia mendekat untuk melihat aktivitas mbaknya. Sangat di untungkan dari dulu Rania tidak berubah, tidak suka memberi kunci pada ponselnya dengan alasan ribet.
Beberapa panggilan tak terjawab juga pesan langsung masuk setelah ponsel itu aktif. Dan yang paling dominan adalah nama kontak bernama
Kak Agas.
"Apa jangan-jangan kak Agas ini pacar mbak Nia?" tanya Rayna.
"Coba telpon mbak," perintah Lia.
"Jangan, kita ambil aja nomornya, kalau di telpon keburu ketahuan sama ibu."
Setelah mengambil nomor Agas, Rayna mengembalikan ponsel itu pada tempatnya agar Winarti tidak curiga, tak lupa mereka juga membereskan kamar seperti semula.
Keduanya membuka pintu rumah, kemudian masuk ke kamar dan segera menghubungi kontak bernama Agas.
Sebelum menelpon, Rayna terlebih dahulu mengirim pesan untuk memperkenalkan diri. Karena sebagian orang tidak menjawab panggilan dari sembarang orang, terlebih nomor asing, dan Rayna salah satunya.
__ADS_1
...****************...