Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 82 - Kamu Lebih Berharga Dari Apapun


__ADS_3

Rangga, laki-laki itu terus menengkan istrinya yang terus menanggis dalam pelukannya. Kali ini Rania mengeluarkan suara tangisannya dan itu membuat Rangga sedikit lega.


Ia melerai pelukannya, menangkup kedua pipi cubi sang istri. Mengecup mata sembab Rania beberapa kali.


"Kalau ada masalah atau ada yang sakit tangisnya jangan di tahan kayak tadi, itu buat kamu sesak," ujar Rangga sangat lembut. Meraih tisu untuk menghapus air mata sang istri. Bajunya juga sedikit basah di bagian dada karena tangisan sang istri.


"Istri mas cantik kalau lagi nangis, gemes hidungnya merah-merah, tapi lebih cantik lagi kalau senyum."


Sia-sia belum ada repon apapun dari Rania. Air mata wanita itu sudah berhenti. Namun, tak urung mengeluarkan suara.


"Sayang?"


"Mas beneran beli aku dari ibu?" lirih Rania menatap keluar jendal. "Apa yang di katakan ibu benar? Ak-aku bagai pela*cur di mata mas.",


"Rania sayang, bukan gitu." Rangga meraih tangan Rania. "Mas nggak pernah nganggap kamu ... Mas lakuin itu semua buat kebaikan kamu, mas nggak mau kamu di jual sama laki-laki lain. Bukan mas yang minta, tapi ibu kamu sayang. Dia berjanji nggak bakal ganggu kamu setelah mas tranfer uang sesuai yang dia ingingkan," jelas Rangga sesekali mengecup tangan sang istri.


"Berapa mas?"


"Apanya?"

__ADS_1


"Uang yang ibu minta."


"Kamu nggak perlu tau, sekarang kita pulang."


"Berapa?" desak Rania.


"Dua ratus juta," gumam Rangga.


"Oh ternyata harga diri aku 200 juta, banyak." Rania senyum miris. Harga dirinya kembali terluka sekarang. Apa lagi ia sedikit sensitif karena hamil muda.


"Nggak, bagi Mas kamu nggak bisa di beli dengan apapun, kamu sangat berharga. Bahkan seluruh isi dunia nggak bakal bisa nandingin betapa berharganya kamu di hati Mas."


Rania mengeleng, memperbaiki duduknya. "Kita kerumah ayah?"


"Nggak jadi, kita langsung pulang."


***


Keduanya sampai di rumah sekitar sore hari karena mampir belanja bulanan dulu. Dan sepanjang itu pula Rania bicara seperlunya saja. Di otaknya masih banyak sesuatu yang menganggu.

__ADS_1


Lama-lama ia akan stress jika terus begini. Kedua gadis belia itu berhamburan keluar dan membantu Rangga juga Rania membawa belanjaan kedapur.


"Mbak pasti capek, biar aku sama Lia yang beresin," ujar Rayna. "Gimana calon ponakan aku? Baik-baik aja kan?" antusiasnya.


"Sehat, mbak ke kamar bentar ya," sahut Rania mencoba tersenyum walau matanya masih sembab, dan itu semua tak luput dari perhatian Rayna sejak tadi.


Berbeda dengan Relia yang sedikit acuh tentang sekitar. Namun, bukan berarti ia tidak peduli, ia peduli, tapi sulit untuk mengepresikannya langsung.


Beberapa menit kemudian, gadis belia itu di kagetkan oleh kedatangan Rangga di dapur. Masih terlihat rapi walau dengan baju yang berbeda.


"Temenin mbak kalian setelah ini ya, abang mau keluar bentar," ujar Rangga. Laki-laki itu memilih pergi, memberi waktu Rania bersama adik-adiknya. Mungkin perasaan Rania akan lebih baik jika bersama mereka. Lagi pula, Rangga ada urusan di hotel sebentar.


"Iya bang," sahut keduanya.


Sebelum benar-benar pergi, Rangga kembali ke kamar menemui Rania. "Mas pergi bentar, kalau butuh sesuatu telpon ya." Mengecup kening Rania yang melamun di tepi ranjang.


"Hati-hati mas, jangan pulang larut ya." Rania meraih tangan Rangga dan menciumnya.


"Iya sayang, mas cuma mau ke hotel bentar ngecek keadaan, setelah itu pulang."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2