Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 137


__ADS_3

Sesuai keinginan Rania, mereka kembali berkunjung ke Mansion untuk kedua kalinya.


Wajah Rania berseri-seri entah karena apa, yang pasti ia senang bisa bertemu dengan Edwin lagi. Sebelah tangannya mengenggam tangan Rangga, sebelahnya lagi memegang perutnya yang buncit.


Senyuman Rania merekah setelah sampai di dalam kamar Edwin yang ternyata sedang duduk di kursi roda menghadap jendela.


Rania langsung berlutut agar memudahkan dirinya mencium tangan ayah mertuanya di bantu Rangga yang memegangi pundaknya entah karena apa.


Wanita itu terkejut saat sebuah elusan terasa di kepalanya, ia mendongak dan mendapati Edwin tengah tersenyum, yang membuat pria tua itu terlihat gagah dan semakin tampan, benar-benar duplikat Rangga.


Bukan hanya Rania yang terkejut akan respon yang di berikan, Rangga pun sama. Terakhir kali mereka bertemu di akhiri dengan pertengkaran hebat, dan sekarang tidak ada angin, tidak ada hujan sikap Edwin berubah 180ยฐ pada Rania.


"A-ayah?" gugup Rania masih menatap Edwin tidak percaya.


"Maafin ayah ya nak udah jahat sama kamu, udah hina bahkan fitnah kamu. Ayah bodoh karena percaya semua apa yang di katakan Melisha, ayah bodoh karena melihat satu sisi saja," sesal Edwin, mata laki-laki berembun, benar-benar menyesali segala sikap dan perlakuannya pada Rania.


Beberapa hari yang lalu setelah kondisinya sedikit membaik, Edwin mencoba mencari tahu kehidupan Rania lebih dalam lewat asistennya, dan benar apa yang di katakan Rangga. Rania ada wanita yang hampir mendekati sempurna.

__ADS_1


Tentang foto-foto yang di perlihatkan Melisha dulu hanya kebetulan Rania berada di club bersama Agas, juga bermain gitar di cafe dengan beberapa pengunjung laki-laki.


Kini Edwin menatap Rangga dengan tatapan yang sama. "Rangga, maafin ayah nak. Kamu mau kan maafin ayah?" ujar Edwin. Namun, Rangga bergeming, sedikit terkejut akan semua yang terjadi, ini semua tidak ada dalam hayalannya.


Sementara Rania sudah menangis, masih berlutut di hadapa Edwin, ada bahagia tersendiri yang ia rasakan saat Edwin tak lagi melayangkan tatapa penuh jijik dan kebencian padanya.


Wanita itu mengeleng seraya menatap Edwin. "Nggak, bukan ayah yang salah, dan ayah nggak seharusnya minta maaf sama Nia. Nia yang minta maaf karena masuk kekeluarga ayah dengan cara nggak sopan bahkan terkesan merebut. Maafin Nia ya Ayah," ujar Rania dengan suara bergetar menahan haru.


Edwin hanya menganggukan kepalanya. "Berdiri Nak!" perintah Edwin.


Tanpa menunggu abah-abah lagi, Rania langsung memeluk Edwin sangat erat. Ia sangat merindunkan sosok seorang ayah di hidupnya, dan berharap ia bisa mendapatkan itu dari ayah mertuanya, walau tidak sebaik ayah kandungnya.


Senyuman Rania melebar kala pelukan hangat dari belakang terasa di punggungnya. Rangga ikut memeluk dirinya bersama Edwin.


"Maafin Rangga juga karena selalu bentak ayah," lirih Rangga.


"Apa kalian bisa kembali kesini, dan tinggal bersama ayah? Ayah kesepian."

__ADS_1


Hening tak ada sahutan, hanya acara pelukan yang kini berakhir. Rania berdiri tepat di hadapan Edwin di bantu Rangga.


"Rangga belum yakin tentang itu ayah, terlebih Melisha masih ada di sini."


"Kapan surat cerai kalian keluar?"


"Kata pengacara Rangga dalam waktu dekat ini. Rangga berharap semuanya selesai sebelum anak kami lahir. Apa ayah bisa bantu Rangga untuk menelpon inspektur kepolisian agar segera menurunkan surat perintah penangkapan? Pengajuan Rangga selalu di tolak!" pinta Rangga.


Edwin terbilang dekat dengan inspektur kepolisian, dan yang Rangga khawatirkan, Melisha menggunakan statusnya sebagai menantu kesayangan, itulah mengapa belum ada surat perintah yang turun.


"Surat perintah?" bingung Edwin.


"Iya ayah, Melisha sudah empat kali mencoba membunuh Rania juga anak aku."


...****************...


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2