Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 144


__ADS_3

Rangga tak henti-hentinya memandangi buah hatinya bersama Rania, tangan kekarnya sedari tadi mengelus pipi bayi mungil itu dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya.


Merasa tak percaya sekarang ia menjadi seorang papa seperti impiannya dulu bersama Rania.


"Anak kita mirip kamu mas," ujar Rania berhasil mengahlikan fokus Rangga.


Laki-laki itu tersenyum, tangannya berpindah mengusap pipi Rania yang kini tidur miring menghadapnya.


"Iya kan mas Papa nya sayang. Tapi liat deh, hidung sama matanya ngikut kamu, cantik," puji Rangga.


Tatapan keduanya terkunci satu sama lain, mengungkapkan kebahagian lewat mata masing-masing.


"Impian kita terwujud," ucap keduanya berbarengan, berhasil menciptakan tawa di ruang luas itu.


"Mas udah nyiapin nama buat putra kita?" tanya Rania seraya memperbaiki posisi tidurnya saat bayi yang ada di sampingnya mengeliat lucu.


"Udah, namanya Rayyan Qorizal Fan," jawab Rangga. "Gimana suka nggak?"


Rania mengangguk. "Suka mas, namanya keren." Wanita itu kini beralih menatap buah hatinya yang sedang terlelap setelah menyusu.


"Dengar Nak, nama kamu Rayyan Qorizal Fan, keren kan? Itu papa yang beri nama," lirih Rania.

__ADS_1


Rania beralih pada Rangga, mengusap rambut suaminya yang sedikit berantakan. "Pulang dulu mas, mandi terus ganti baju biar segar, habis itu istirahat. Dari jam 3 pagi sampai sekarang belum tidur," ujar Rania menatap penuh cinta suaminya.


"Nanti, setelah mas puas mandangin putra tampan mas ini." Rangga mengambil tangan Rania kemudian mengecupnya.


***


Rayna dan Relia baru masuk setelah kepergian Rangga karena urusan dadakan dari Hotel. Bukan karena Rangga tidak mengizinkan sehingga kedua gadis belia itu baru masuk, melainkan keduanya pulang kerumah untuk mengambil kebutuhan yang mungkin di perlukan Rania.


Relia langsung menghampiri boks bayi yang tak jauh dari brangkar tempat Rania berbaring.


"Ih kecil banget tangannya, jadi gemes," pekik Relia sakin senangnya, akhirnya ia bisa melihat ponakannya.


"Sssttt, jangan ribut Lia, itu ponakan aku lagi tidur," tegur Rayna.


"Ponakan kalian berdua, nggak usah bertengkar," leraih Rania, jika tidak maka perdebatan keduanya akan semakin panjang dan merembet kemana-mana.


"Namanya siapa Mbak?"


"Namanya Rayyan."


"Ish keren banget, manggilnya Ray dong?" celetuk Relia.

__ADS_1


"Senyaman kalian aja, oh iya kalian udah makan siang kan?"


"Udah mbak, sebelum kesini kita mampir makan sama bang Lingga."


***


Jika keluarga kecil Rania dan Rangga sedang berbahagia karena kedatangan malaikat kecil, maka tidak untuk Melisha yang kini berada di balik jeruji besi.


Sudah seminggu lamanya Melisha mendekam di penjara, dan seminggu pula hidupnya tidak pernah tenang. Karena sikap kekuasaan yang ia bawa sampai ke penjara membuat wanita itu teriksa sendiri.


Ingin di ratukan oleh tahanan lain dan angkuh pada yang lain, membuatnya tidak pernah tenang.


"Heh, jangan sok belagu kamu di sini! Mau kamu anak presiden sekalipun kalau udah di tempat ini nggak ada artinya lagi, tetap aja kamu Napi!" ejek salah satu wanita di dalam tahanan.


Wanita yang di juluki Rimba, wanita paling lama di penjara dan tentu saja menjadi bos karena keberaniannya. Wanita yang di gelar Rima itu mendorong tubuh Melisha hingga membentur dinding tahanan.


"Makan seadanya aja atau makanan kamu kami yang makan! Ini bukan restoran yang bisa memilih makanan seenak hati, dasar gila!"


"Diam kalian, aku besumpah setelah keluar dari sini bakal menuntut kalian!" ancam Melisha tak suka.


Tawa membahan terdengar dari yang lain. "Sebelum berpikir menuntut kita, sebaiknya pikirkan nasib kamu selama di sini karena sudah berani nyari masalah sama Rimba kita."

__ADS_1


...****************...


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2