Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 143


__ADS_3

Rania hampir kehilangan kesadaran karena rasa sakit yang begitu hebat. Di saat mata Rania hampir terpejam, setetes air mata membasahi pipi wanita itu, hingga kesadaran yang hampir hilang kembali lagi.


Bisikan-bikan Rangga membuat Rania tetap bertahan.


"Mas mohon sama kamu Rania jangan tidur, plis. Kamu pasti bisa. Kamu nggak maukan anak kita kesakitan didalam sana?" Rangga menunduk terus mengenggam tangan Rania. Menyatukan keningnya pada kening sang istri dengan air mata yang terus mengalir.


Rasa takut kehilangan membuat kewarasan Rangga benar-benar hilang, tak dapat ia bayangkan jika takdir berkata lain dan mengambil dua orang tersayangnya.


"Jangan tinggalin mas."


Rania tersenyum di tengah rasa sakit yang ia rasakan. "Aku akan berusaha demi anak kita mas," lirih Rania.


"Harus sayang!"


"Tapi kalau sesuatu terjadi, aku mohon jaga anak kita ya, jangan nikah dulu sebelum dia bisa ngurus dirinya sendiri."


Rangga mengeleng, air matanya kian deras mendengar permintaan sang istri.


"Ruang operasi sudah siap dokter," ujar salah satu suster membuyarkan lamunan Rangga dan Rania.


Rangga dengan setia menemani sang istri hingga keruang operasi. Saat disuruh keluar pada dokter, ia enggang. Ia tidak ingin meninggalkan istrinya seorang diri, berjuang hidup tanpa ada yang menemani.


Dengan langkah berat, Rangga keluar dari ruang keramat itu saat operasi akan segera di mulai. Namun, langkah nya terhenti saat mendenger suara tangisan Bayi.

__ADS_1


"Oek ... oek ... oek ...."


Dokter terkejut saat bayi itu lahir hanya satu edangan kuat dari Rania. Bukankah tadi sebelum di pindahkan posisi bayi masih sama, tapi sekarang ....


Dokter tak bisa berkata-kata lagi, ini sebuah keajaiban.


"Dokter?" panggil Rangga dengan dada bergemuruh.


"Selamat pak, putra Anda lahir dengan selamat," ujar sang dokter langsung memotong ari-ari sang bayi kemudian menyerahkan pada suster untuk di bersihkan.


Sementara dokter itu melanjutkan pekerjaannya. Menjahit sedikit robekan di bagian intim Rania.


Tanpa malu, Rangga sujud syukur di dalam ruang operasi itu, berterimakasih pada dokter juga sang pencipta tanpa ada rasa malu di perhatikan oleh beberapa orang.


Tak ada yang menjenguk Rania dan anaknya selain Relia dan Rayna. Pak Edwin masih dalam masa penyembuhan jadi tidak bisa kemana-mana padahal pria itu sangat ingin melihat cucu pertamanya.


Tak henti-hentinya Rangga mengucap syukur dan menciuman seluruh wajah Rania di depan adik iparnya tanpa rasa malu. Setelah melewati masa-masa sulit, akhirnya keluarga mereka merasakan bahagia yang sebenarnya.


"Makasih sayang, udah bertahan demi mas dan anak kita," ujar Rangga.


"Udah mas, malu diliatin Ina sama Lia," gumam Rania yang tubuhnya masih lemas.


Tapi percayalah, rasa sakit yang sangat hebat yang ia rasakan seakan hilang tanpa jejak ketika mendengar suara tangisan bayi. Perjuangan antara hidup dan mati tidak sia-sia ia lalukan, kini putranya lahir dengan selamat juga sehat.

__ADS_1


"Mbak Nia, kok susternya belum balik? Aku kan pengen liat bayinya," celetuk Relia.


Baru saja Rania akan menjawab, pintu ruangan di buka dengan seorang dokter mengendong bayi yang sangat imut dan lucu, sangat mengemaskan.


Mengerti apa yang akan di lalukan suster selanjutnya, Rangga langsung mengkode adik iparnya agar segera keluar dari ruangan. Walau berat hati, kedua gadis itu tetap menuruti perintah Rangga.


Benar saja perkiraan laki-laki itu, suster menyuruh Rania melepaskan kancing bagian atas hingga perut, lalu menidurkan bayi mungil itu di sana.


"Bayinya sangat tampan Nona," puji suster itu. "Kalau begitu saya pamit dulu."


Sepeninggalan dokter, Rangga terus memperhatikan putranya yang tengah terngkurap di dada Rania, ia juga membatu wanita itu memegangi sang bayi.


Rania tak henti-hentinya tersenyum, apa lagi bayi yang ada di atas tubuhnya mengelit sedikit demi sedikit seperti mencari sesuatu. Ia membantu putra kecilnya untuk meraih putin*gnya, mungkin makhluk mungil itu sedang lapar.


Ia sedikit tertawa saat merasakan sensasi yang berbeda ketika putranya menyusu, padahal ini bukan pertama baginya, apa lagi Bayi besarnya hampir tiap malam meminta.


"Heh, masih kecil udah tau mana yang enak ya," kelakar Rangga menusuk-nusuk pipi putranya.


"Sama kayak Papa nya," sindir Rania.


...****************...


Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1



__ADS_2