Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 128


__ADS_3

Keinginan Rania untuk menjenguk ayah mertuanya di sore hari harus tertuda menjadi pagi hari karena kekeras kepalaan Rangga yang tak ingin istrinya kemana-mana.


Wanita itu baru keluar dari rumah sakit, harus istirahat di rumah bukannya malah berkeliaran kemana-mana.


"Ayo mas!" ajak Rania setelah siap pergi.


"Mau kemana mbak? Tumben rapi," tanya Rayna yang kebetulan olahraga pagi di depan rumah.


"Mau jengukin ayahnya mas Rangga."


Mulut Rayna terbuka sebagai respon ketekejutannya. Selama ini ia mengira Rangga sama dengan Rania tidak punya orang tua. Pasalnya, kakak iparnya itu tidak pernah mengajak Rania berkunjung kerumah mertua, atau mertua yang berkunjung kerumah seperti pengantin baru pada umumnya.


"Mbak pergi dulu ya."


"Oh iya mbak, hati-hati," sahut Rayna memandangi kepergian sang kakak bersama suaminya.


***


Sepasang suami istri itu sampai di sebuah mansion lumayan mewah setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam. Rangga membukakakan pintu mobil untuk sang istri, mengenggam tangannya memasuki mansion.


Beberapa pelayan langsung menunduk menyadari keberadaan Tuan muda mereka. Hal itu membuat Rania ikut menunduk sebagai bentuk hormatnya pada orang tua, karena kebanyakan dari pelayan, wanita paruh baya.


Rania hendak melepaskan genggaman Rangga, tapi urung saat melihat seorang wanita cantik tengah duduk di ruang tamu. Ia malah memeluk lengan Rangga erat seakan memperlihatkan Rangga hanya miliknya seorang.


Kelakuan Rania berhasil mengundang senyum di bibir Rangga, padahal laki-laki itu sedari tadi sangat kesal karena harus mengunjungi mansion yang hampir membuatnya gila.


"Posesif banget istri mas," bisik Rangga menggoda.

__ADS_1


"Biarin," acuh Rania.


"Selamat datang Tuan Rangga," sambut kepala pelayan berhasil mengalihkan atensi Melisha yang sedang sibuk dengan ponselnya.


Wanita itu memicingkan matanya menyadari sepasang suami istri berada di mansion. Melisha berjalan mendekat, seraya menatap sinis Rania yang terus bergelayut manja di lengan Rangga.


"Mas Rangga? Mau jengukin ayah ya? Kenapa baru datang sekarang, padahal aku udah berusaha ngehubungin mas hari itu."


"Ayah ada di kamarnya?" tanya Rangga pada kepala pelayan, menghiraukan Melisha yang mengajaknya bicara.


Ingin rasanya Rangga mencekek leher wanita itu sekarang juga, tapi belum saatnya.


"Ada Tuan, mari saya antar."


Rania dan Rangga akhirnya di antar ke kamar Edwin yang kini terbaring lemah dengan selang infus di tangan. Rangga bergeming di samping brangkar memperhatikan tubuh ayahnya, dari yang ia dengar. Edwin mengalami stok hebat, hingga sebagian tubuhnya kaku, hanya bibir dan tangan yang bisa bergerak itupun bicara tidak jelas.


Merasakan kecanggukan antara ayah dan anak itu, Rania segera melepaskan rangkulannya, berjalan semakin dekat, meraih tangan Edwin lalu di ciumnya.


"Pagi, A-ayah," ragu Rania, lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan panggilan itu. Namun, ia harus melakukannya. Jika ia bersikap acuh pada mertuanya, maka Rangga akan semakin jauh dari ayahnya, dan Rania tidak ingin itu terjadi.


Cukup ia yang kehilangan seorang ayah, suaminya tidak boleh. Mau sebenci apapun seorang anak pada ayahnya, suatu hari nanti akan merasakan penyesalan saat di tinggalkan untuk selamanya.


"Udah di jengguk kan? Ayo kita pulang!" ajak Rangga.


"Mas apaan sih."


"Mas harus kerja Ran, nggak mungkin cuma ngurusin orang sakit, nggak ada gunanya."

__ADS_1


"Mas Rangga!" tegur Rania. "Kalau gitu mas ke kantor aja, biar aku di sini, kalau pulang ke sini lagi ya jemput aku."


Rania beralih pada pelayan yang sedari tadi mengekori mereka.


"Maaf bu, Ayah mertua saya udah sarapan dan minum obat?" tanya Rania sopan.


"Belum Nona, Nona Melisha belum nyuruh kita."


Rania terbelalak, kejam sekali Melisha jika belum memberi Edwin sarapan, padahal jarum jam sudah menunjukkan angka 10.


"Kenapa harus menunggu perintah dari kak Melisha? Ibu kan bisa langsung ngasih."


"Maaf Nona, kami takut di maki."


"Mas!" Rania meminta bantuan.


"Sekarang Melisha bukan lagi nyonya di rumah ini, lalu buat apa kalian takut? Hari ini dan seterusnya tidak perlu menunggu perintah darinya. Sekarang yang menjadi nyonya di rumah ini Rania, istri saya. Mulai hari ini dengarkan perintah dia saja!" tegas Rangga.


"Tapi Tuan."


"Mansion ini milik keluarga Fan, kalian di gaji oleh ayah Saya, tapi kenapa mendengarkan wanita itu? Kumpulkan semua pelayan, sayang ingin bicara!"


Rangga memang membenci ayahnya, tapi tidak jika ayahnya di perlakukan tidak adil di istananya sendiri. Awalnya Rangga ingin bersikap acuh akan semuanya, tapi mendengar keluhan dari pelayan. Rangga memutuskan akan mengambil alih secara paksa kekuasaan rumah ini selagi ayahnya tidak berdaya.


...****************...


Jangan lupa meninggalkan jejak

__ADS_1



__ADS_2