Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 53 - Panas Tapi Bukan Api


__ADS_3


Makan bareng calon istri sebelum pulang❤


Rangga meremas beda pipih di tangannya melihat status Agas yang baru saja di post. Ingatkan laki-laki itu untuk menghajar Agas setelah bertemu karena berani mendekati miliknya.


Semenjak Rangga tau bahwa Rania bersama Agas, laki-laki itu bagai satpam di depan rumah sahabatnya, cuma untuk memastikan apa Agas sudah ada di rumah atau belum.


Dan mendengar kabar kepulangan Agas, tanpa menunggu waktu lagi, Rangga langsung masuk kerumah lumayan mewah. Ia melempar senyum pada wanita paruh baya yang tak lain ibunya Agas.


"Rangga? Apa kabar Nak?" sambut wanita paruh baya itu.


"Baik tante, Agasnya udah pulang belum?" tanya Rangga langsung pada intinya.


"Agasnya belum pulang, kirain sama kamu karena pas pamit katanya mau keluar kota ketemu teman. Kayaknya hari ini balik, tunggu aja!"


Rangga senyum sinis.


Teman katanya?


"Yaudah tante, Rangga tunggu di ...."


"Langsung ke kamarnya aja, biasanya juga gitu," perintah wanita paruh baya itu berhasil mengundang senyum di bibir Rangga.

__ADS_1


Dengan senang hati laki-laki tampan itu melangkah menuju kamar Agas, membaringkan tubuhnya di kasur empuk. Mata bagai panda juga rambut acak-acakan itulah kondisi Rangga karena kurang tidur hanya untuk mencari keberadaan Rania.


Dan setelah tahu, ia semakin tidak bisa tidur karena memikirkan apa saja yang di lakukan Agas pada wanitanya.


Karena lelah yang berlebihan, Rangga terlelap di kamar tanpa pemilik itu. Hari yang tadinya cerah kini tergantikan dengan gelap di temani bulan dan bintang.


Bugh!


Rangga terbangung saat tubuhnya di hantam bantal sangat keras. Ia membuka mata dan mendapati Agas dengan kaos oblong juga celana pendek.


Tanpa mengumpulkan nyawa terlebih dahulu, Rangga langsung beranjak, dan menarik leher baju Agas.


"Katakan sama gue lo sembunyiin Rania dimana?" tegas Rangga dengan mata memerah, efek bangun tidur juga rasa emosi.


"Dan apa kata lo, calon istri? Rania milik gue!" tekannya.


"Gue cuma mau ngetes sampai di mana perjuangan lo," lanjutnya.


"Lo nggak percaya sama gue?" tanya Agas dengan salah satu alis terangkat.


Rangga mengeleng. "Gue bukan nggak percaya sama lo. Tapi gue takut lo ngambil Rania, karena gue tau lo suka sama dia," jawab Rangga, emosinya sedikit mereda ikut duduk bersama Agas.


"Gimana keadaan Rania dan anak gue?"

__ADS_1


"Lebih baik daripada saat ada di kota ini. Lo udah beneran ceraiin Melisha?"


"Hm."


"Ck." Agas berdecak. "Gue lapar, makan kuy!" ajaknya.


"Jawab dulu pertanyaan gue sialan, dimana Rania berada, gue mau ketemu."


"Gue lapar, makan sambil cerita dah!"


Karena penasaran akan keberadaan Rania, Rangga nurut saja saat Agas mengajaknya makan malam bersama. Orang tua laki-laki itu? Sepertinya pergi.


"Lo udah ngajuin surat cerai ke pengadilan?" tanya Agas sembari menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


"Belum, gue mau mastiin dulu Rania baik-baik aja atau nggak," jawab Rangga.


Tawa Agas pecah. "Bilang aja lo takut gue nikahin Rania."


"Bacot!"


"Rania baik-baik aja, mending lo ngurus percerain lo di pengadilan dulu, biar nama Rania nggak semakin buruk. Itusih saran gue."


"Gue mau tau Rania ada di mana!" tekan Rangga tidak sabaran.

__ADS_1


"Dia ada di rumah nenek gue, tempat yang pernah lo kunjungin itu. Tapi ingat saran gue dulu. Rania nggak bakal nerima lo sebelum status lo resmi bercerai, dia udah kecewa akan janji-janji lo selama ini."


...****************...


__ADS_2