Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 32 - Apa Yang Kau Lakukan Pada Wanitaku?


__ADS_3

Dengan langkah lebar, Rangga memasuki mansion yang sangat mewah milik ayahnya, tempatnya tinggal bersama Melisha.


Baru saja berdiri di ambang pintu utama, pintu itu terbuka menampilkan seorang wanita cantik yang tak lain Melisha.


"Akhirnya kamu pulang mas, aku udah kangen."


Rangga langsung menepis tangan Melisha yang akan menyentuh pundaknya, ia melangkahkan kaki menuju ruang kerja ayahnya dengan wajah datar dan rahang mengeras.


Sebelum masuk ia mengetuk pintu untuk memastikan orang yang ia cari benar ada di dalam sana.


"Masuk!"


Brak!


Rangga mendorong pintu sedikit keras, berdiri tepat di depannya ayahnya.


"Mana ponsel aku!" tegas Rangga.


"Mau kau apakan? Kau mau menghubungi wanita itu lagi? Bukannya kau sudah berjanji tidak akan menemui apa lagi saling bertukar kabar?"

__ADS_1


"Aku bilang dimana ponselku!" bentak Rangga.


Emosinya berada di ubun-ubun karena ulah seseorang ia hampir kehilangan anak juga wanita yang ia cintai.


"Ponsel kamu ada pada Melisha," jawab Edwin."Jangan sekali-kali menghubungi teman atau wanita itu, atau kau tau sendiri akibatnya!" ancam Edwin. Namun, Rangga tak menanggapi.


Laki-laki itu langsung keluar dari ruang kerja ayahnya dan menuju kamar untuk menemui Melisha.


Ia menatap tajam wanita yang sedang merias diri di depan cermin. Ia mendekat lalu menarik tangan wanita itu kasar, jangan lupakan tatapan tajam Rangga. Jika di ibaratkan pisau, mungkin Melisha sudah meregang nyawa sakin tajamnya.


"Apa yang kau lakukan pada wanitaku?" tanya Rangga dengan suara baritonnya.


"Maksud mas apa? Aku nggak ngerti," jawab Melisha berusaha melepaskan cengkraman Rangga yang terasa sangat sakit.


"Aku punya hak, karena kamu suami aku. Aku berhak tau dengan siapa dan dimana kamu, telebih wanita selingkuhanmu itu."


"Melisha!" bentak Rangga.


"Kenapa? Apa aku salah jika marah pada selingkuhan suamiku? Aku istrimu, tapi kau tidak pernah menyentuhku dan malah menghamili wanita lain. Aku juga punya hati mas. Sakit saat tau suamiku mempunyai calon anak dengan wanita lain," jawab Melisha dengan air mata berderai membasahi pipinya.

__ADS_1


"Kau benar-benar berubah."


"Aku berubah karenamu, aku berubah karena tidak ingin kehilangan dirimu."


"Cukup Melisha! Apa yang kau lakukan sangatlah fatal. Bagaimanapun anak yang ada di perut Rania adalah darah dagingku, jadi kau tidak punya hak untuk membunuhnya! Kau sakit hati? Kau tidak terima? Lalu kenapa masih bertahan sampai sejauh ini?" tanya Rangga dengan dada bergemuruh.


Hatinya sedikit terusik mendenger kalimat Melisha sebagai istri sahnya. Ia mengakui ia melakukan kesalahan karena menyakiti dua wanita sekaligus, tapi dari awal Rangga sudah menyuruh Melisha untuk pergi dan mencari kebahagiannya sendiri.


Rangga melangkah menuju lemari dan mengambil kotak lumayan besar kemudian meletakkannya di tempat tidur. Menarik Melisha agar melihat semua itu.


"Bukti apa lagi yang kau ingingkan untuk menuduhku Lisa? Bukankah bukti ini sudah cukup untuk mengugatku dengan kasus perselingkuhan?"


Rangga menumpahkan semua isi kota itu, dimana isinya adalah foto dirinya dan Rania, beberapa bukti perselingkuhan lainnya yang ia sengaja berikan untuk Melisha.


Anehnya wanita itu tidak membeberkan ini pada ayahnya dan malah menyembunyikannya dengan aman. Sedangkan sesuatu yang berusaha ia sembunyikan, malah Melisha beberkan pada ayahnya, tentang kuliahnya, tentang teman-temannya, juga kegiatan lainnya.


"Aku tidak ingin bercerai, aku mencintaimu!"


"Kalau kau tidak ingin bercerai, maka terima Rania sebagai istri keduaku! Tapi aku tidak bisa berjanji untuk bersikap adil!"

__ADS_1


"Sekali lagi kau mengusik hidup Rania. Maka jangan harap kau bisa hidup tenang. Seharusnya aku beruntung dan tahu diri. Kalau saja bukan ayahku, mungkin kau akan mendekam di penjara mengantikan ayahmu!"


...****************...


__ADS_2