
Setelah Rania di pindahkan ke ruang rawat dan baik-baik saja, barulah Agas bernafas lega. Laki-laki itu tak pernah beranjak dari duduknya hanya untuk menemani Rania.
Kalau bukan dirinya, siapa lagi yang akan merawat Rania? Wanita itu tidak punya siapa-siapa di Bandung.
Agas menyeka bulir-bulir bening di sudut mata Rania. Entah apa yang di alami wanita itu hingga tidur saja, masih menangis.
"Gini amat hidup lo Ran, setelah kepergian Rangga gue nggak bisa ngitung berapa kali lo masuk rumah sakit," ucap Agas menatap Rania dengan tatapan sendu.
Ia melempar senyum saat wanita yang sedari tertidur membuka matanya.
"Anak aku baik-baik aja kan?" Satu kalimat yang langsung keluar dari mulut Rania saat siuman.
"Anak lo baik-baik aja Ran, nggak perlu khawatir. Mau minum?" tanya Agas di jawab gelengen oleh Rania.
Wanita itu miring membelakangi Agas, kejadian semalam kembali berputar di otaknya hingga air mata kembali menetes membasahi bantal.
Maaf kak aku nggak bisa hidup sama kak Rangga, sekarang aku lebih menyangi calon anak aku.
"Rania, lo baik-baik aja 'kan?" tanya Agas dengan suara selembut mungkin.
"Aku baik-baik aja kak. Terimakasih udah rawat aku dan selalu ada. Mulai hari ini dan seterusnya, kak Agas lebih baik menjaga jarak, aku nggak ingin kak Agas juga kena imbasnya."
"Maksud lo?"
Rania merubah posisinya yang tadinya berbaring, kini duduk bersandar di kepala ranjang walau sedikit susah.
__ADS_1
"Aku boleh minjem uang kak Agas? Nanti setelah aku punya uang, di balikin, janji."
Agas mengernyit, tidak biasanya Rania meminta uang seperti ini. Wanita itu bahkan rela tidak makan daripada harus meminta uang.
"Mau lo apain?" intro Agas sedikit curiga.
"Aku mau beli sesuatu kak."
"Nggak aneh-aneh kan?" Agas memastikan di jawab gelengan oleh Rania.
"Berapa?"
"Lima juta boleh?" lirih Rania.
"Aku bisa masuk kok kak, ini aja udah sehat," bohong Rania.
Agas meraih nampang di atas nakas, kemudian memangkunya, bersiap menyuapi wanita itu. Namun, Rania menolak.
"Aku bisa sendiri, lagian yang luka cuma tangan kiri kok."
Tak ingin berdebat dengan orang keras kepala, Agas menyerahkan nampang itu pada Rania, tentu saja ia memantau, takut wanita itu membutuhkan sesuatu.
Sesekali Agas menyeka sudut bibir Rania jika ada noda makanan di sana. Entah kenapa ia sangat menyayangi Rania, padahal wanita cantik itu bukan siapa-siapa di hidupnya.
"Habisin makanannya setelah itu kita jalan-jalan di sekitar rumah sakit biar otak lo lebih fress."
__ADS_1
***
Sesuai yang Agas janjinya, ia membawa Rania jalan-jalan di sekitar taman rumah sakit, berusaha menghibur wanita itu. Sesekali bersikap konyol hanya untuk membuat Rania tersenyum.
"Gue kesana bentar, jangan kemana-mana!" titah Agas di jawab anggukan oleh Rania.
Sepeninggalan Agas, wanita itu duduk di bangku taman sembari memperhatikan sekitar, banyak orang sakit yang berkeliaran di taman, tetapi mereka di temani oleh keluarganya masing-masing tidak seperti dirinya.
Rania mengernyit saat bocah lima tahun menghampiri sembari memberikan coklat juga bungan mawar putih yang sangat wangi.
"Katanya untuk kakak cantik. Jangan sedih ya kakak cantik, nanti dedeknya juga ikut sedih, kasian," ucap anak kecil itu berhasil menerbitkan senyuman di bibir Rania.
"Makasih dek, kamu juga cantik. Orang tuanya mana?"
Anak itu menunduk dengan wajah lesu. "Orang tua aku katanya pergi ke suatu tempat kakak cantik, dan kata nenek nggak bakal balik lagi." Anak kecil itu menatap Rania. "Apa aku bandel makanya mereka pergi?"
Rania mengeleng sembari tersenyum, ia tahu maksud kalimat anak kecil mengemaskan itu. "Kamu nggak bandel Dek. Mungkin orang tua kamu pergi karena yang di atas jauh lebih sayang sama dia."
"Gitu ya kakak cantik?"
"Iya sayang. Eh kalau boleh tau ini dari siapa?"
"Aku nggak tau namanya kak, tapi katanya dari kakak tampan."
...****************...
__ADS_1