
Rania terus memeluk perutnya penuh ketakutan, rasa kebas di pipi tak ia hiraukan. Bahkan mengabaikan Relia yang terus bertanya padanya.
"Anak aku, jangan ambil anak aku," ujar Rania dengan wajah linglungnya, air mata tak henti-hentinya menetes.
Rasa trauma beberapa bulan yang lalu saat di kontrakannya kembali lagi, trauma yang membawa ketakutan untuk kehilangan anaknya. Ia sadar telah mengingkari janji.
"Bayi mbak baik-baik aja." Relia mengusap pelan pipi Rania, air matanya ikut menetes melihat kondisi kakaknya yang terlihat tidak baik-baik saja.
"Ayo mbak kita masuk, Lia obatin pipi mbak."
Rania beranjak tanpa mengatakan apapun, wanita itu bukan mengikuti Relia melainkan, masuk ke kamar dan menguncinya rapat-rapat. Tak lupa mematikan lampu hingga gelap gulita. Duduk di kaki ranjang seraya memeluk perut besarnya.
"Jangan sakiti aku anak aku, aku janji bakal pergi darinya," gumam Rania.
Hanya kalimat itu yang terus keluar dari mulutnya, tak peduli akan gedoran pintu dan panggilan Relia di luar sana.
Sementara gadis belia yang masih panik itu, langsung menghubungi Rayna untuk segera pulang. Relia sampai lupa tujuannya balik cepat kerumah, dan ia memutuskan tidak akan kembali ke sekolah hari ini.
Setelah menelpon Rayna dan mengatakan semuanya. Relia kini menghubungi Rangga, sayangnya tak satu panggilanpun di jawab.
***
"Relia mana Mbak?" tanya Rayna yang baru saja datang.
__ADS_1
"Masih di kamar, mbak nggak mau buka pintu, aku takut mbak Nia lukain diri sendiri!" jawab Relia dengan mata berkaca-kaca. Bahkan tangannya masih gemetar.
Rasa shok masih ada padanya, apa lagi tadi ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, perut Rania hampir di tusuk benda tajam.
"Jangan nangis," tegur Rayna langsung menenangkan sang adik. "Nggak ke sekolah?" Relia mengeleng.
"Sekarang kamu balik ke sekolah, biar mbak yang temenin mbak Nia."
"Nggak mau."
"Ck, kamu mau aku marah Lia?"
"Iy-iya aku balik, jangan lupa telpon bang Rangga."
Karena takut kena marah oleh Rayna, Relia memutuskan untuk kembali ke sekolah, terlebih ia ada presentasi, dan bahan ada padanya.
"Sibuk kali ya?" tanyanya pada diri sendiri.
Rayna memutuskan untuk mengirim pesan saja, dan menyuruh Rangga menelponnya nanti. Ia meletakkan ponselnya di atas meja kemudian mengetok pintu kamar Rania.
"Mbak, ini Ina. Buka pintunya ya!" bujuk Rayna.
Sama saja tak ada sahutan dari dalam kamar.
__ADS_1
***
Hari hampir gelap dan Rangga baru saja selesai dengan urusanya dengan pemegang saham yang akan bekerja sama dengan hotelnya.
Ya beberapa hari yang lalu ada yang menawarkan diri untuk bekerja sama, hanya saja mereka tidak bisa ke ibu kota, itulah mengapa Rangga yang memutuskan menemui mereka.
Laki-laki itu melongarkan dasi yang serasa mencekek lehernya. Sedikit lagi dan semuanya akan rangkum, ia akan pulang lebih cepat dari perkiraanya. Tak sabar ingin memeluk sang istri yang belakangan ini sangat manja.
Ternyata menjadi pengusaha tidaklah semudah yang ia bayangkan, tak seinstan saat ia bekerja di Fan Group, apa-apa saja hanya memerintah dan semuanya akan beres. Ternyata benar, uang mempengaruhi segalanya.
Karena sangat rindu dengan sang istri, Rangga mengambil ponselnya seraya berbaring di ranjang.
Terakhir ia menghubungi sang istri saat sarapan tadi. Ia mengernyit mendapati beberapa panggilan dari adik Iparya Rayna dan Relia.
Jantungnya berdetak sangat hebat setelah membaca pesan dari Rayna.
Rayna: Bang Rangga masih sibuk ya? Kalau udah nggak sibuk telpon Ina ya! Kata Lia tadi ada orang yang mau nyakitin mbak Nia sampai Mbak Nia nangis-nangis kayak orang bingung.
17.37
Rayna: Bang masih sibuk? Mbak Nia belum keluar kamar, belum makan juga.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa meninggalkan jejak. Like dan ramaikan kolom komentarππππππππ