Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 30 - Mata-mata


__ADS_3

Walau sulit untuk menerima semuanya, Rania tetap menguatkan diri dan meyakinkan dirinya bahwa ia bisa melewati semuanya seorang diri.


Benar kata Agas, ia harus menjadikan anak di dalam kandungannya sebagai tujuan untuk tetap hidup.


Jika dulu Rania suka mengerai rambut panjangnya, maka sekarang ia memutuskan untuk mencepolnya agar lebih fress. Ia kembali ke kampus setelah berhari-hari absen.


Sebelum berangkat Rania tak lupa sarapan seadanya juga meminum vitamin yang di berikan oleh dokter.


"Cantik banget Nak," puji tetangganya setelah Rania keluar dari rumah.


Apa yang ia pikirkan tidak terjadi, tetangga di sekitar kontrakannya tak seperti ibu-ibu nyinyir di kampung yang selalu mengurusi hidup orang lain.


Mereka sibuk dengan dunia masing-masing hingga untuk mengurusi urusan orang lain tidak ada waktu.


"Makasih bu," sopan Rania melanjutkan langkahnya setelah mengunci pintu rapat-rapat.


Rania sampai di kampus jam 07.45, 15 menit lagi ia harus masuk ke kelas. Seperti biasa Rania masuk di kelas tanpa seorang teman satupun. Duduk paling pojok mendengarkan penjelasan dosen.


Kelas berakhir jam 11 siang. Namun, Rania tak kunjung beranjak dari duduknya. Gadis itu sibuk membaca beberapa artikel juga materi-materi tentang ke dokteran. Kali ini ia punya banyak waktu, karena mendapat shif malam di Cafe, karena pekerjaanya hanya bernyanyi.

__ADS_1


"Sssttrtr ... Rania." Rania mengedarkan pandangannya, tapi tidak menemukan siapapun, padahal ia seperti mendengar seseorang memanggil namanya.


"Gue di dekat jendela!" Suara itu kembali terdengar sembari melambaikan tangan.


Rania berjalan mendekat menuju jendela dan mendapati Agas tengah berdiri di sana. Pantas saja tubuh laki-laki itu tidak terlihat. Agas berada di belakang bangunan yang tingginya sekitar dua meter dari jendela, otomatis hanya tangan yang terlihat.


"Kak Agas ngapain di situ?" tanya Rania sedikit menunduk.


"Lo mau mangga lagi nggak? Sini, kita makan sama-sama," panggil Agas di jawab anggukan oleh Rania.


Wanita itu segera membereskan buku-bukunya kemudian menyusul Agas di belakang gedung. Ia tersenyum setelah sampai di gedung itu.


"Jangan berisik!" pinta Agas.


"Kenapa kak?"


"Pohon dan tembok punya mata dan telinga di sini."


Agas beberapa hari yang lalu ke ibu kota karena geram mendengar perkataan Rania. Ia ingin memastikan semuanya dari Rangga langsung, dan benar dungannya itu bukan Rangga.

__ADS_1


Rangga tidak tahu siapa yang membalas pesan Rania, tapi itu bukan dirinya. Dan satu hal yang Agas tahu setelah bertemu dengan Rangga. Ternyata di sekitar Rania ada orang-orang suruhan Edwin, mengawasi pergerakan wanita itu, apa saja kegiatannya, apakah masih berhubungan dengan Rangga atau tidak.


"Ma-maksud kak Agas apa?" lirih Rania.


Agas mengambil sesuatu dari saku celananya kemudian memasukkan ke tas Rania. "Dengerin setelah lo sampai rumah," bisik Agas sebelum melepaskan kunciannya pada tubuh Rania.


Rania mematung, semua kalimat yang keluar dari mulut Agas begitu ambigu di telinganya.


"Gue cuma iseng santai aja, kuy kita maling mangga!" ajak Agas bersikap seperti biasa.


Rangga berpesan padanya agar selalu berada di dekat Rania. Agar ayah Rangga percaya bahwa Rania sudah punya laki-laki lain selain Rangga.


"Kak Agas kok aneh?" tanya Rania.


"Aneh? Masa sih?"


"Iya."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2