Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 80 - Bertemu Ayah?


__ADS_3

"Janinnya sehat pertumbuhan juga normal, hanya saja saya sarankan untuk ibu Rania lebih sering lagi makan makanan yang bergizi ya! Misal, buah dan sayur yang kaya akan serat."


Rangga meilirik wanita yang sedang duduk di sampingnya dengan wajah datar. Tidak suka mendengar penjelasan bahwa istri dan bayinya kekurangan gizi.


Rania yang sadar sedang di tatap demikian, pura-pura acuh, mengambil vitamin pemberian dokter.


"Makasih Dok, akhir-akhir ini saya kurang berselera makan, makanya kekurangan dikit," lirih Rania di akhir kalimat.


"Itu biasa bagi ibu hamil bu, saya sudah memasukkan penambah nafsu makan juga."


"Jenis kelamin bayi saya apa dok?" Kali ini Rangga angkat bicara.


"Untuk itu, kami belum bisa memastikan pak, umur kandungan masih jalan 4 bulan, setelah jalan 5 atau 6 silahkan di periksakan lagi."


Setelah berkonsultasi pada dokter, keduanya kembali ke mobil. Mengerti akan sikap Rangga, Rania langsung memeluk lengan suaminya itu.


"Sayang, maaf karena nggak merhatiin pola makan. Dulu aku sedikit stress karena masalah di kampung sampai nggak ada selesa," lirih Rania.


Ia tersentak saat tangan yang ia peluk bergerak menjauh. Ia menatap Rangga dengan wajah cemberut.


"Kali ini Mas maafin, lain kali jangan gitu. Kalau butuh sesuatu ngomong sama mas, biar mas cariin." Rangga tersenyum manis mengacak-acak rambut Rania.


"Sebelum pulang kita kerumah ayah mau?" tanya Rangga berhasil membuat Rania bergeming.

__ADS_1


Jujur saja wanita itu takut bertemu dengan ayah suaminya, terlebih ancaman di kontrakannya dulu kembali terlintas di otaknya. Kepala Rania memberikan repon alami penolakan.


"Kamu takut sama ayah?" Sungguh pertanyaan itu adalah pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut Rangga.


Siapa yang tidak takut setelah di ancam seperti itu.


"Lain kali aja ya mas, ak-aku belum siap," tolak Rania halus.


Tangan Rangga yang semula berada di setir kemudi dan bersiap menjalankan mobil, teralih mengenggam tangan sang istri.


"Jangan takut sama ayah, bukan ayah yang ngancem kamu tapi Melisha sayang. Mas ada disini, nggak bakal ada yang macam-macam sama kamu," bujuk Rangga. Bagaimanapun, ia harus memperkenalkan Rania pada ayahnya, di terima atau tidaknya.


"Kak Meli ...."


Rania menarik nafas dalam-dalam sebelum kembali bicara. "Aku bakal ikut mas kerumah ayah, tapi sebelum itu antar aku ketemu ibu di kantor polisi. Aku juga mau ngenalin mas sama ibu."


Kini giliran Rangga yang terdiam. Bukan tak ingin mempertemukan Rania dengan ibunya. Namun, takut istrinya akan bersedih jika bertemu. Takut apa yang ia sembunyikan terungkap.


"Mas kok diam?"


"Janji jangan sedih?"


"Iya mas aku janji nggak bakal sedih."

__ADS_1


Pasrah, Rangga melajukan mobilnya keluar dari parkiran rumah sakit menuju kantor polisi tempat ibu Rania di tahan.


"Ran, mas habis ngecek-ngecek sekolah di sekitar sini, coba kamu liat-liat di ponsel mas. Lia bagusnya masuk di sekolah mana. Oh iya, sekalian kampus buat Ina."


"Kampus?" beo Rania.


"Hm, mas juga mau Ina kuliah kayaknya dia pintar sayang kalau berhenti."


"Tapi mas ...."


"Nggak udah mikirin biaya sayang, mas masih bisa nyekolahin adik-adik kamu. Setidaknya mereka sarjana biar dapat pekerjaan yang layak."


"Jangan mas, biar Ina kerja dulu ngumpulin uang. Aku nggak mau mas kerja cuma ngebiayain adik-adik aku, mereka bukan tanggung jawab mas sepenuhnya. Lagian aku nggak enak kalau gini."


"Di enakin aja sayang, nggak ada penolakan. Mereka berdua harus nempuh pendidikan sampai selesai. Do'a in usaha mas lancar kita juga ikut kuliah setelah kamu lahiran dan anak kita udah besar."


"Jangan nangis!"


"Tapikan terharu mas, mas baik banget mau biayain mereka. Aku janji bakal bantu nyari ...."


"Cukup jadi istri Mas aja !" potong Rangga.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2