Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 110 - Maafin Mas Sayang


__ADS_3

Tatapan Rania menajam pada sang suami. Jangan bilang apa yang ada di pikirannya benar-benar terjadi dulu. Bukan, bukan ia tidak ingin menerima masa lalu suaminya, tapi bukankah yang di lakukan Rangga sanggat ....


Rania tak sanggup memikirkannya lagi, memejamkan matanya untuk mengatur nafas yang mulai memburu karena terpancing emosi padahal Rangga belum menjawab.


"Maksud mas apa? Aku pacar mas yang pertama?"


"Ah sialan!" maki Rangga mengusap wajahnya kasar, ia langsung meraih tangan sang istri. "Itu masalalu sayang, maaf mas nggak pernah jujur sama kamu."


"Mas lakuin itu bukan di hanya satu orang?" Rangga menggeleng.


"Aku orang yang keberapa?"


Rangga mengeleng. "Mas nggak tau sayang."


"Saking banyaknya sampai nggak tau. Kenapa nggak sama kak Melisha aja? Mas mau nyari penyakit di luar sana? Mas lupa cita-cita mas apa!" bentak Rania tanpa sadar.


Percayalah Rania sedikit kecewa akan kenyataan yang ada, kenapa suaminya sangat bodoh. Apa Rangga tidak pernah berpikir bahwa itu sangat berbahaya.

__ADS_1


"Karena mas nggak mungkin lakuin itu sama Melisha Rania! Wanita di club bisa mas tidurin tanpa harus terikat apapun, modal uang dan gombalan mas akan dapat dan nggak perlu takut dia hamil atau nggak. Beda sama Melisha mas nggak mau dia hamil."


"Kenapa nggak satu orang aja?"


"Kamu tuli Ran? Mas udah bilang nggak mau terikat sama hubungan apapun."


"Berarti aku dulu salah satu pelampiasan hasr*atmu itu?"


"Nggak. Semua berubah setelah mas ketemu kamu. Itu pertama kalinya mas menjalani hubungan yang sangat serius. Alasan mas lakuin itu dulu bukan karena na*fsu, tapi mas nggak mau kamu tinggalin mas setelah tahu mas punya istri. Maaf," lirih Rangga di akhir kalimat, langsung memeluk Rania dan menyembunyikan wajahnya disana.


Kini ia menyesal melakukan itu semua. "Maafin mas Rania, jangan tinggalin mas karena masa lalu itu. Mas udah berubah, mas nggak bakal ngelakuin itu lagi. Sejak pacaran sama kamu, mas nggak pernah berhubungan sama siapapun lagi." Rangga mendongak dengan air mata dipipinya.


Rania memalingkan wajahnya tak ingin menatap Rangga yang kini menangis. Entah, ia tidak mempermasalahkan masalalu Rangga tapi ia sedikit kecewa.


"Sayang aku mohon! Jangan marah, mas udah berubah."


Rania memejamkan mata sejenak lalu memberanikan menatap Rangga dengan mata yang berkaca-kaca siap menangis. Ia mengusap rambut suaminya.

__ADS_1


"Aku nggak marah sama mas, aku nggak bakal tinggalin mas. Jangan nangis, anak kita juga ikut nangis," bujuk Rania saat merasakan perutnya berdenyut.


"Maafin Mas," rengek Rangga.


Rania menangkup kedua rahang Rangga agar menatap dirinya. Ia mengusap air mata di pipi sang suami. "Semua cuma masalalu mas, udah ya." Rania memeluk Rangga mengelus rambut lebat sang suami dan sesekali mengecupnya.


laki-laki itu seperti anak kecil yang merengek pada ibunya karena ketahuan nakal di sekolah.


"Jangan tinggalin mas." Hanya itu yang terus keluar dari mulut Rangga. Melihat tatapan kecewa Rania tadi membuatnya sangat takut.


Ya secinta dan sebucin itu ia pada istrinya.


"Yang penting kan nggak lagi. Udah dong, kita pulang ya, aku mau baring capek duduk dari tadi Mas. Anak kita juga kayaknya udah lapar."


Rangga mengeleng dalam pelukan Rania, rasanya laki-laki itu tidak ingin lepas. "Ish manja lagi kan. Papa, manjanya nanti di rumah aja sekalian jengukin dedek, dedek udah rindu sama Papa," bisik Rania menirukan suara anak kecil. Mungkin dengan begini, mood Rangga akan kembali membaik.


Salahkan juga dirinya karena membahas hal tidak perlu bahkan tersulut emosi.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2