Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 42 - Memulai Hidup Baru


__ADS_3

Cahaya matahari yang menembus melalui ventilasi udara berhasil mengusik tidur nyenyak seorang wanita. Wanita cantik berbadan dua itu mengerjapkan matanya menyesuaikan dengan pencahayaan di dalam kamar.


Ia baru tersadar, tempatnya tidur adalah tempat asing. Ia langsung beranjak dan keluar dan kamar. Rania mendapati wanita tua sedang berada di dapur.


"Udah bangun ternyata," ucap Agas membuat Rania menoleh. "Lo ada di rumah Nenek gue, lo bisa tinggal di sini untuk sementara waktu," lanjut Agas.


Rania bergeming, tidak tahu harus melakukan apa, hingga suara wanita tua membuyarkan lamunannya.


"Udah bangun nak? Gimana tidurnya nyaman?" tanya Nena.


"Nya-nyaman Nyo ... bu ...," gugup Rania tidak tahu harus memanggil Nena dengan sebutan apa.


"Panggil aja Nenek nak, ayo makan dulu!" ajaknya.


Ketiganya sarapan dengan khidmat, jika Agas dan Neneknya bercerita dan saling bertukar kabar, tidak dengan Rania yang hanya menunduk karena merasa cangung.


"Katanya Nia mau tinggal di sini ya?" Nena beralih bicara pada Rania.


"Iya nek, kalau di bolehin, kalau nggak ...."


"Boleh dong, kebetulan Nenek tinggal sendiri. Jangan sungkan kalau butuh sesuatu, atau apapun, anggap Nenek orang tua kamu."

__ADS_1


"Makasih," lirih Rania.


Setelah sarapan berlansung, Rania membantu wanita tua itu membereskan bekas makanan, juga mencuci piring dan beres-beres rumah, tentu saja dengan berbagai pertanyaan yang membuatnya terlihat cerewet.


Tapi tidak mungkinkan, Rania duduk saja dan membiarkan Nenek Nena bekerja sendiri sementara ia yang numpang.


Setelah semua pekerjaan beres, Rania membuat teh hangat juga kopi, kemudian mengantarnya ke ruang tamu.


"Rajin banget nak," puji Nenek Nena.


"Udah biasa dia Nek, istri idaman bukan?"


"Maaf Nenek, kak Agas, aku izin ke belakang bentar," ucap Rania setelahnya berlari ke toilet. Berjongkok di depan kloset, memuntahkan semua isi perutnya.


Setelah di rasa nyaman, barulah ia kembali ke ruang tamu dan mendapati Agas sudah rapi seperti akan pergi.


"Nah, tuh Nia udah datang," ucap Nenek Nena, setelah itu masuk ke kamar untuk mengerjakan sesuatu, meninggalkan Rania dan Agas yang kini berdiri di teras depan.


"Gue tinggal nggak papa Kan? Gue bakal sering kesini kalau lagi Free," ucap Agas sangat lembut, seperti suami yang akan meninggalkan istrinya.


"Nggak papa kak, makasih untuk bantuannya."

__ADS_1


"Santai aja, gue pamit, kalau butuh sesuatu telpon aja." Agas mengelus rambuat Rania. "Dah cantik, baik-baik di rumah, kalau nenek marah tutup telinga aja, namanya juga orang tua."


"Nggak boleh gitu kak," tegur Rania.


"Kak Agas?" panggil Rania saat Agas akan membuka pintu mobil. "Jangan beritahu kak Rangga ya!" pintanya.


"Nggak bakal gue janji."


Sebelum dia cerain istrinya, gue bakal nyembunyiin lo dari Rangga Ran.


Namun, kalimat itu tertahan di kepalanya tanpa mampu terucap.


Rania melambaikan tangan sebagai pengantar kepergian Agas. Setelah di rasa cukup, wanita itu kembali masuk dan mendapati Nenek Nena sedang berdiri bersedekap Dada.


"Ne-nenek," lirih Rania.


"Jangan takut gitu sama Nenek Nak," ucap wanita itu lembut.


Sebenarnya wanita tua itu kepo akan masalah yang di hadapi Rania, tapi tak enak jika bertanya, terlebih mereka baru bertemu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2