Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 127


__ADS_3

"Mbak Nia itu pohon tomat sama cabainya kenapa? Siapa yang patahin?" tanya Rayna dengan wajah kesal setelah dari kebun belakang.


Rania reflek menempelkan jarinya di bibir seraya menunjuk Rangga yang masih dalam posisi yang sama.


"Oh," gumam Rayna tak melanjutkan marahnya, lebih memilih masuk ke kamar.


"Mas jangan di gigit!" tegur Rania saat Rangga dengan lancang mengigit ceruk lehernya, mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Maafin mas. Mas nggak bakal ngubah posisi ini sebelum di maafin."


"Ya udah gitu aja terus," ketus Rania.


Kini wanita itu tidak memperdulikan Rangga lagi, mengambil remot, lalu mencari siaran tv yang pas untuk menghilangkan kegabutan.


Satu siara tv menarik perhatian Rania, tangannya sokta berhenti untuk memperjelas sesuatu.


Fan group telah mengalami penurunan saham yang sangat drastis setelah CEO muda yang baru saja di lantik mengundurkan diri dari jabatannya. Semua perusahaan yang berkeja sama dengan Fan Group perlahan-lahan mundur demi keamanan masing-masing.


Kabar jatuh sakitnya Tuan Edwin membuat para pemegang saham khawatir karena tidak ada lagi yang bisa meneruskan perusahaan.


Demikian berita terkeni yang saya sampai kan.


Rania langsung melirik Rangga yang tampak tak terganggu sama sekali dengan berita itu. Bukan, bukan berita menurunnya saham Fan group yang di khawatirkan Rania, melainkan kesehatan ayah mertuanya.

__ADS_1


"Mas nggak dengar berita barusan?" tanya Rania memastkikan.


"Dengar," jawab Rangga seadanya.


"Cuma gitu responnya setelah tahu ayah mas sakit? Dimana hari nurani mas?"


Rangga melerai pelukannya, menatap Rania tak suka. "Lalu respon apa yang kamu mau Ran? Kamu mau mas nangis-nangis drama gitu?"


"Apaan sih mas."


"Udalah, berheti ngurusin mereka, mau mati sekalipun mas nggak peduli."


"Mas! Dia itu ayah mas, kalau mas lupa. Mau sekeras apapun mas mengelak, pak Edwin tetap ayah mas. Mungkin di luar sana sebutan Mantan pacar, mantan istri, mantan suami, mantan ibu mertua, mantan ayah mertua, mantan adik atau kakak ipar, masuk akal dan lumbrah. Tapi apa mas tahu? Nggak ada yang namanya mantan ayah. Seburuk apapun dia di masalalu tetap saja dia ayah bagi mas, apa susahnya memaafkan?"


"Sudah lah Ran, mas ngantuk." Rangga beranjak, tak mendengarkan satu kalimatpun yang keluar dari mulut Rania.


"Aku bakal maafin mas, kalau mas mau jengukin ayah." Kalimat terakhir Rania berhasil menghentikan langkah Rangga.


Wanita itu mengenggam tangan Rangga sangat erat, mendongak untuk menatap wajah tampan sang suami.


"Maaf karena nggak ngertiin peerasaan mas kali ini. Tapi aku mohon kita temui ayah ya!" bujuk Rania.


"Udah Ran, kenapa kamu masih baik sama dia? Kamu lupa apa yang dia lakukan sama kamu?"

__ADS_1


"Aku nggak lupa, aku ingat semuanya mas, tapi bukan berarti kita harus menampung rasa banci dan dendam karena sakit hati. Mungkin dia nggak nerima aku sebagai menantunya mas, tapi tetap saja aku ini menantunya, sudah seharusnya aku baik sama dia. Kita jenguk ayah bareng-bareng ya."


"Mas, penyesalan selalu datang belakangan, jangan sampai mas menyesal karena keras kepala dan keegoisan mas itu. Orang tua mas tinggal ayah, apa salahnya kalau baik sama dia? Harusnya mas beruntung masih bisa liat ayah mas, nggak kayak aku yang nggak punya orang tua." Mata Rania berkaca-kaca menatap Rangga. Ia teringat pada ayahnya saat detik-detik meregang nyawa.


"Kalau mas nggak mau jenguk ayah aku nggak masalah, tapi temenin aku jengkuk ayah mertua aku, mau kan?"


Rangga mengusap wajahnya kasar melihat Rania memohon bahkan meneteskan ia mata membuatnya luluh dan merasakan sakit, laki-laki itu langsung manarik kepala Rania untuk ia sembunyikan di perutnya. Posisi Rangga saat ini berdiri di hadapan Rania, memudahkannya memeluk dan menenangkan sang istri.


"Mas paling nggak bisa liat kamu nangis Ran."


"Kita jengukin ayah, terlepas dari semua yang terjadi," gumam Rania.


",Iya kita jengukin ayah, tapi nggak dalam waktu dekat."


Rania sontak mendongak. "Lalu kapan? Nunggu ayah mati dulu?" kesal Rania.


"Melisha masih di rumah itu Ran, mas nggak mau kamu ketemu dia."


"Kenapa harus takut sama kak Melisha? Sekarang mas suami aku dan dia hanya mantan istri, aku bisa lawan kok. Aku diam selama ini karena ngira aku emang pelakor."


"Beneran mau lawan Melisha?"


"Iya, toh sekarang aku menantu ayah bukan dia lagi, walau nggak di akui," lirih Rania di akhir kalimat.

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa ramaikan kolom komentar dan berikan likeπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ


__ADS_2