Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 47 - Talak 3


__ADS_3

"Lalu siapa yang berniat menyakiti Rania dan calon anak aku kalau bukan ayah!" tanya Rangga dengan nada membentak.


"Ayah tidak tahu," jawab Edwin.


Tangan Rangga semakin terkepal, jika bukan ayahnya, berarti satu orang lagi yang tak pernah Rangga duga akan melakukan hal sekeji itu. Dan jika benar itu ulah Melisha, maka Rangga tidak akan memaafkan perbuataanya.


Dengan langkah lebar, Rangga berjalan menuju kamarnya, sayangnya laki-laki itu tidak mendapati Melisha di sana.


"Melisha!" teriak Rangga.


Wanita yang berada di ruangan rahasia Rangga segera keluar dan menemui suaminya dengan raut wajah bahagia penuh senyuman.


"Tumben Mas cepat pulang." Tangan yang hendak menyentuh Rangga kini di tepis sangat kasar.


Plak!


Satu tamparan mendarat di wajah mulut Melisha setelah sekian lama mereka menikah. Rasa itu terasa sangat kebas, telingan melisha sampai berdenging. Namun, Rangga tidak peduli itu, penderitaan Rania jauh lebih menyakitkan karena ulah wanita bermuka dua di hadapannya.

__ADS_1


"Beraninya kau mengancam nyawa Rania dan calon anak aku!" geram Rangga.


Wanita yang sedang ditatap, memegangi pipinya dengan air mata berderai, tak ada raut penyesalan ataupun yang lainnya.


"Kenapa Mas tega nampar aku hanya karena wanita itu? Apa yang Mas banggakan darinya? Dia tak lebih dari sampah!"


Plak!


"Bukan dia yang sampah, tapi kau!" Tunjuk Rangga tepat di wajah Melisha setelah menamparnya untuk yang kedua kalinya.


"Sekarang aku tau kenapa kau mau bertahan dalam rumah tangga tanpa cinta yang seperti neraka ini! Kau mengingingkan warisan yang tertulis di wasiat bunda bukan?" Rangga senyum sinis.


"Ya!" jawab Melisha lantang. "Awalnya aku senang kau mau menikahiku walau itu terpaksa karena sebuah cita-cita, aku mengira kau akan mencoba mencintaiku ternyata tidak Rangga! Lalu apa aku harus pergi tanpa mendapatkan apapun!" tanya Melisha dengan lantang.


"Kau mau harta 'kan?" tanya Rangga.


Laki-laki itu menyeret Melisha keluar dari kamar, membawanya kehadapan sang ayah. Mendorong tubuh sang istri hingga tersungkur tepat di kaki Edwin.

__ADS_1


"Apa-apaan kau Rangga!" tegur Edwin.


"Diam!" bentaknya.


"Kau ingin harta bukan?" ulang Rangga menunjuk Melisha dengan tangan bergetar menahan amarah.


Laki-laki itu memejamkan matanya, mungkin setelah mengeluarkan kalimat sakral ini dari mulutnya, maka apa yang ia perjuangkan akan sia-sia.


Peduli setan, Rania lebih penting dari apapun, tak ada yang bisa di pertahankan lagi. Selama ini ia salah mengira tentang sikap Melisha yang diam-diam menghanyutkan.


Mata laki-laki itu terbuka. "Aku Rangga Praditya Fan, MENALAK 3 dirimu Melisah Sryani!" ucap Rangga sangat tegas.


"Rangga apa yang kau ucapkan itu!" sanggah Edwin tak terima. Selama ini ia menghalangi cita-cita Rangga menjadi seorang dokter karena tidak ingin putranya mendapat pekerjaanya yang layak dan bisa hidup mandiri tanpa bantuannya.


Edwin tak ingin Rangga menceraikan Melisha dan kehilangan saham 50% itu, bukan alasan lain.


"Kenapa? Karena kau takut kehilangan semua saham? Itulah mengapa Kau tak ingin aku sukses dan lebih memilih pergi dengan wanita lain?" Rangga tertawa. "Benar apa yang di katakan Agas. Uang bisa dicari, yang terpenting itu kebahagian!"

__ADS_1


Setelah mengatakan itu semua, Rangga kembali ke kamarnya untuk mengambil semua barang-barang yang di perlukan, terutama buku-buku tentang kesehatan.


...****************...


__ADS_2