Aku Bukan Penggoda

Aku Bukan Penggoda
Part 98 - Rania Marah


__ADS_3

Jangan lupa ramaikan kolom komentar, kalau perlu komen tiap paragraf😘


...****************...


Lama keduanya memilih cincin couple yang pas hingga pilihan Rania tertuju pada sebuah cincin dengan pertama membentuk hati yang terpisah. Dan jika di gabungkan dengan cincin pasangan akan menjadi hati seutuhnya.



"Ini aja Yang?" tanya Rangga.


"Iya ini aja aku suka, atau mas mau yang lain?"


Rangga mengeleng, seraya menyerahkan pada pelayan toko beserta kartu yang ia miliki.


"Sekarang kamu mau kemana Ran? Makan, belanja sesuatu?"


"Ini Tuan," ujar salah satu pelayan menyerahkan paper bag beserta kartu milik Rangga.


Jangan mengira Rangga menemani sang istri belanja seperti ini memakai uang peruhaan, itu salah besar. Rangga mengajak sang istri belanja dengan uang pribadinya sendiri, uang yang akan ia gunakan untuk menambah dana perusahaan tapi tidak jadi karena ia bertemu orang baik seperti Alvi.


Alhasil, ia bisa sedikit memanjakan sang istri.

__ADS_1


"Pulang aja mas," sahut Rania.


"Makasih," ujar Rangga meraih barang yang baru saja di bayar, seraya melirik sang istri. "Kita belanja bentar."


Karena tak ingin membantah, Rania ikut saja. Wanita itu berbelok ke kiri menuju minimarket yang terdapat di lantai dua.


"Mau kemana sayang?"


"Mau belanja kan?"


Rangga sontak menyentil bibir sang istri. "Belanja buat kamu, bukan buat kita. Baju kamu kayaknya banyak yang mulai kecil, ayo!" Rangga langsung mengamit pinggang sang istri menuju toko pakaian khusus wanita.


Niat hati ingin memasuki toko ibu dan anak, ia malah di suguhnya toko yang lebih menarik


Matanya sontak membulat memperhatikan toko yang baru saja ia masuki. Demi apapun, Rania rasanya ingin menghilang saat itu juga. Tidak, ia sangat malu sekarang.


Bagaimana tidak, Rangga membawanya masuk ke toko khusus lingerie, baju kekurangan bahan yang di sukai semua laki-laki, dan Rangga salah satunya.


"Sayang warna ungu cantik nggak? Kamu kan suka ungu," ujar Rangga tanpa rasa malu sedikitpun, mengambil beberapa lingeria dengan model yang berbeda-besa tapi tetap satu warna.


"Mas apaan sih, ngapain mau beli baju kayak gini? Buang-buang uang, mending nggak pakai baju sekalian," bisik Rania. "Aku malu ih."

__ADS_1


"Ck, pilih salah satunya atau mas nggak bakal pergi."


Rania menghembuskan nafas panjang, mengambil asal salah satu model, dan sialnya model itu adalah paling bahaya dari model yang lainnya.


"Pintar banget istri Rangga," ujarnya mengacak-acak rambut Rania penuh kemenangan. "Nggak mau yang lebih tertutup lagi Yang? Nakal ya kamu mau godain mas."


"Mas Rangga ih, nggak milih salah, milih apa lagi. Mau mas apa sih? Udahlah, nggak udah belanja sekalian," gerutu Rania.


"Eh ... eh ... jangan ngembek sayang," bujuk Rangga langsung gelagapan sendiri, lupa mood istrinya tidak stabil, tidak seperti saat mereka pacaran, mau sejahil apapun ia pasti Rania tidak akan marah.


"Bungkus!" perintah Rangga seraya memperhatikan sang istri yang sudah berjalan keluar dari toko.


"Ini Tuan!"


Rangga menyerahkan kartunya dengan pandangan yang terus tertuju pada sang istri. Ia berlari menyusul Rania setelah ursannya selesai. Ah hampir saja ia kehilangan jejak karena sang istri masuk ke merumunan orang-orang.


Langkah Rangga berhenti saat Rania berbalik seperti mencari seseorang, ia tertawa dalam hati. Belum kapok, Rangga sengaja memperhatikan Rania dari jauh yang seperti mencari keberadaanya.


"Ah sialan," umpat Rangga saat melihat seseorang menambrak pundak sang istri, ia langsung mendekat dan kaget melihat siapa yang menabrak Rania barusan.


...****************...

__ADS_1


Terbar kembang jangan lupa🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹.


__ADS_2