
Setelah menelpon Rangga, Rania terus saja menangis, rasa rindunya yang begitu besar membuat dirinya tersiksa, belum lagi perasaannya yang sedikit sensitif karena hamil muda.
Rania memutuskan mengabari Rangga lewat chat agar lebih mudah untuknya. Ia kembali mengambil benda pipihnya dan menghubungi lelaki itu.
Rania: Malam kak Rangga. Kakak sibuk banget ya? Kakak ada waktu nggak buat ketemu aku? Aku mau ngomongin sesuatu.
Rania mengigit bibir bawahnya setelah mengirim pesan itu. Centang dua pertanda Rangga aktif tapi tak kunjung membalas pesannya. Ia meletakkan ponselnya di atas nakas hendak beranjak, tapi benda pipih itu bergetar pertanda ada pesan masuk.
Rangga: Tidak ada! Mau ngomong apa? Lewat chat 'kan bisa?"
Rania senyum miris, dari pesan yang baru saja Rangga kirim sudah membuktikan laki-laki itu tidak peduli lagi dengannya. Ia sempat urung untuk memberitahu tentang kehamilannya, tetapi kalimat Agas terus terlintas di pikiran Rania.
Rania menghela nafas panjang sebelum mengetikkan beberapa kalimat lagi.
Rania: Aku hamil kak Rangga, apa yang harus aku lakukan? Kakak bakal tanggung jawab kan?"
Read
Typing
Rangga: Hamil?
__ADS_1
Rangga: Yakin itu anak aku? Bukan dari laki-laki lain?
Rangga: Gugurkan kandunganmu! Jangan membuat aib dalam keluargaku.
Rangga: Berapa yang kamu ingingkan agar mau mengugurkan anak itu?
Nyes
Hati Rania bagai tersayat-sayat perihnya tak tertahankan mendapat penolakan dari Rangga. Dengan air mata berlinang, Rania membalas pesan laki-laki itu.
Rania: Kakak ngomong apa? Kakak tau aku cuma lakuin itu sama kamu, kenapa kak Rangga tega nuduh aku dan nggak ngakuin anak yang ada di dalam perut aku? Kak Rangga tega.
Rangga: Gugurkan anak itu sekarang juga!
***
Rania berangkat kuliah seperti biasa, yang berbeda hanya wajahnya. Ada sedikit lingkaran hitam juga mata sembab, dan itu sudah pasti menjadi pusat perhatian beberpa mahasiswa.
Rania berjalan sembari menundukkan padangannya, tak ingin menyapa siapapun seperti biasa. Ia semakin mengucilkan diri dari semua teman-teman kampusnya.
Belajar seorang diri, setelah puas akan ke Cafe untuk bekerja. Itulah aktivitas Rania akhir-akhir ini. Mengonsumsi vitamin? Rania tidak memikirkan itu. Bahkan ia merencanakan sesuatu untuk melenyapkan janin yang ada dalam kandungannya.
__ADS_1
Ayah dari janin itu menyuruhnya, lalu apa lagi yang harus ia pertahankan?
Setelah pulang dari kampus, Rania mampir belanja di pasar pinggir jalan. Ia membeli buah Nanas dan Durian. Mitos yang beredar mengatakan kedua buah itu sangat berbahaya bagi ibu hamil.
Namun, menurut dokter itu bukan masalah yang besar jika bumil mengonsumsinya dalam takaran batas wajar, jangan terlalu berlebihan.
"Ngapain beli buah di pasar?" Rania terlonjak saat seseorang menegur dirinya. Ia menoleh dan mendapati Agas.
"A-aku aku pengen banget makan buah ini, makanya beli," alibi Rania padahal ia membeli buah itu untuk mengugurkan kandungannya.
"Kenapa di pasar pinggir jalan Ran? Itu bisa aja bahaya sama janin lo," omel Agas. "Itu juga lo mau jualan apa makan, banyak banget."
"Aku mau makan kok. Kakak boleh bantuin aku bawa kerumah nggak?"
Agas menatap tak percaya pada Rania, siapapun yang melihat belanjaan Rania mengira wanita itu akan persta buah di rumahnya.
Rania membeli buah durian dan nanas dalam jumlah lumayan banyak, bahkan di makan untuk 5 orang saja bisa.
"Bukannya buah ini ...."
"Nggak ada, itu mitos kak," sanggah Rania.
__ADS_1
...****************...